“Kita selalu terkotak-kotak. Jarang sekali bicara dari hati ke hati dan menyatukan sumberdaya yang ada. Makanya, pembangunan kita berantakan.”

- Tim Advokasi Kota Kupang menyanyi “bersama”
BEGITU yang dikatakan hampir sebagian besar peserta pelatihan Advokasi KIBBLA di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Para peserta yang berlatar belakang birokrasi (Bappeda, Dinkes, PMD, PKK), ornop, media massa, pemimpin komunitas, adat, dan agama dari 9 kabupaten/kota (Kota Kupang, Sumba Barat, Sumba Timur, Manggarai Barat, Manggarai, Ngada, Ende, Sikka dan Lembata) mengakui, koordinasi dan sinergi adalah fondasi utama dalam proses pembangunan kesehatan dan penurunan angka kematian Ibu/bayi di NTT. Sayangnya, itu justru yang menjadi titik lemah selama ini di provinsi ini. Semua pihak, sektor, maupun kalangan bergerak sendiri-sendiri untuk kepentingan yang bersifat jangka panjang. Penyelamatan ibu dan anak sebagai bagian dari investasi masa depan (baca: jangka panjang) menjadi prioritas paling buncit. Padahal, jika permasalahan kesakitan/kematian ibu dan anak tidak diatasi sekarang, maka sama saja dengan menciptakan “bom waktu” di masa depan.
Ego-sektoral, kurang koordinasi, tidak komunikatif, jarang bertemu, tidak pernah bikin perencanaan bersama, sistem pengalokasian dana yang tidak efisien dan sarat kepentingan personal, hingga kegiatan hanya dilihat sebagai proyek, dipandang para peserta sebagai penghambat sinergisitas di pelbagai kalangan multipihak dalam menangani perkara tingginya angka kematian/kesakitan ibu dan bayi. Tim Advokasi KIBBLA yang dibentuk lewat Program Kemitraan untuk Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir (Bappedaprov NTT, Dinkesprov, dan didukung AusAID) sepakat, menghadapi tantangan yang semakin sulit dan tak pasti di depan sana, pilihan bekerjasama tidak bisa dielakkan. Semua orang harus mau membuka diri, berfikir apresiatif dan kreatif.
Dalam pelatihan yang langsung dilanjutkan dialog dengan para anggota DPRD ini, Penalahati Nusantara lantas melakukan modifikasi atas modul keluaran Depkes RI (HSP-USAID) dengan menambahkan (baca:menyelipkan) pelbagai kegiatan untuk menguatkan proses pembelajaran dan sinergisitas di antara para peserta. Misalnya saja,
Menggali Kekuatan Personal
Sebuah kelompok, komunitas atau tim dibangun dari kekuatan-kekuatan para personilnya. Menjadi satu kesatuan yang kokoh, bukan para jagoan yang berdiri sendiri-sendiri. Penting bagi para peserta untuk menggali dan menemukan “hal-hal terbaik” dalam hidupnya, seperti pengalaman terbaik, mimpi terbaik, pencapaian tertinggi, masa kecil paling membahagiakan, dan seterusnya. Itu semua aset terbaik yang dimiliki seorang peserta dan menjadi semakin kaya-lengkap manakala dipadukan dengan peserta lain. Intinya satu, bahwa kita memiliki kekuatan yang sangat besar dan kaya untuk memulai perubahan.
Membangun Dialog
Asumsi, pertanyaan yang tak terucap, keraguan, maupun rasa suka-tidak suka kerap dibawa peserta manakala datang ke sebuah pelatihan. Penting untuk diciptakan ruang dialog seluasnya untuk memberi kesempatan kepada semua orang saling mengemukakan pikirannya dengan nyaman dan aman. Metode atau teknik untuk membangun partisipasi penuh bisa macam-macam, dari bicara bergantian, semua dapat giliran (round robin), diskusi kelompok kecil, word’s cafe, hingga dalam bentuk tulisan atau gambar.
Berbagi Visi
Saling menceritakan mimpi sama artinya saling berbagi visi. Satu sama lain saling memahami persepsi masa depan masing-masing anggota tim. Proses pembuatan visi kolektif berdasarkan visi individual akan membuat para peserta “terikat” di dalam visi yang terbangun. Itu bagian dari mimpi setiap orang dan mereka merasa bertanggungjawab untuk mewujudkannya. Saat dikaitkan dengan situasi atau realita masa kini, kesenjangan yang tercipta — antara visi dan realita– dapat menjadi “ketegangan kreatif” bukan “ketegangan emosional”.

Tim Advokasi Kabupaten Sikka menganalisis situasi KIBBLA sesungguhnya
Cara Berfikir Sistemik
Sebuah tim, komunitas, organisasi, perusahaan, bahkan pemerintah daerah sudah semestinya berfikir sistemik saat menganalisis situasi dan merencanakan kegiatan. Bahwa, ada konsekuensi-konsekuensi sistemik yang akan bersifat mempercepat atau menghambat kemajuan. Dengan menggunakan cara berfikir ini, akan menjadi lebih awas dan kreatif dalam menciptakan kegiatan-kegiatan yang mampu mengintervensi sistem sosial atau mampu memberikan daya ungkit perubahan yang besar.
/diq
Posted by penalahati 
Posted by penalahati
Teman, mari saya beritahu apa yang menjadikan Penalahati istimewa.
Posted by penalahati 

