Calon Usahawan Kampung

December 20, 2007

Asep (24), pemuda Desa Situgede, Bogor Barat, sekarang punya kesibukan baru, mencari peluang untuk menghasilkan pemasukan tambahan. Setiap ada waktu kosong, ia manfaatkan untuk mengamati lingkungan sekeliling dan menilai-nilai apa saja yang dapat diolahnya sehingga punya nilai lebih. Ia melakukan itu karena ingin mengumpulkan modal bagi usaha tanaman hias di halaman rumahnya. Ia sengaja mencari modal tambahan agar gajinya sebagai karyawan bagian gudang Indomart tidak terpakai. Bukan apa-apa, gajinya itu memang hanya cukup untuk membiayai kebutuhan dapur sekaligus sedikit tabungan untuk persiapan persalinan istrinya yang sekarang sedang mengandung usia lima bulan.

“Saya sekarang mulai mengumpulkan kardus dan kertas kabon yang sudah tak terpakai untuk dijual kiloan. Hasilnya lumayan. Ini gara-gara saya diajari ilmu tentang sistem sosial dan sistem ekologi. Saya jadi mengerti, bahwa satu hal punya kaitan dengan hal lain. Dan, selalu ada turunan peluang dari setiap usaha,”kata Asep dengan wajah berseri-seri.

Selain itu, hasil perbincangannya dengan warung sate di sebelah tempatnya bekerja, Asep mendapatkan pesanan tusuk sate. “Memang tidak banyak, satu tusuk sate dari bahan bambu dihargai 10 rupiah. Kebutuhan per harinya 100 tusuk, berarti saya bisa dapat 1000 rupiah per hari. Kalau seminggu, berarti 7.000 rupiah. Sebulan berarti 28 ribu rupiah, cukup untuk beli 28 pot tanaman hias. Lumayan kan?”ujarnya sambil menghitung-hitung.

Memang tak banyak, tapi untuk Asep nilai itu sangatlah berarti untuk mewujudkan mimpinya sebagai seorang wirausahawan tanaman hias. Pilihan usahanya ini memang sudah sedari beberapa tahun lalu. Bermula dari hobi, Asep melihat usaha ini punya peluang yang baik. Ia kemudian mengumpulkan berbagai jenis tanaman hias, belajar tentang manfaat dan pengolahan tanaman obat, serta pembuatan pupuk dan pestisida organik. “Saya bermimpi punya laboratorium kultur jaringan. Saya ingin sekali bisa teknik perbanyakan tanaman itu, sehingga bisa jualan bibit,”ujar Asep.

Asep bukan satu-satunya yang berusaha mewujudkan mimpinya. Ada Iron yang ingin punya usaha kaos ikon Bogor, Mamik yang ingin berternak belut, Nawa yang sedang merintis usaha kerajinan kapal phinisi dari bambu, Eri yang hendak jadi petani tanaman hias, Mawan yang ingin menjadi penulis, Ade yang mau jadi musisi, serta Hendra, Heri, Lukman dan Tia yang masih mereka-reka mau melakukan usaha apa. Mereka ber-11 ini semuanya anak-anak muda di Desa Situgede, yang tiga bulan terakhir ini menjadi murid di Situgede Entrepreneur School (SES)

Di SES tersebut, Asep dan kawan-kawan belajar banyak hal tentang dunia usaha setiap hari Sabtu dan Minggu. Dari hal-hal yang bersifat mendasar, seperti mental, motivasi, kepercayaan diri, teknik presentasi, hingga hal-hal yang berkaitan dengan dunia pemasaran, pengelolaan produksi, manajemen keuangan dan permodalan, dan lain-lain. Tim pengajar sendiri berasal dari berbagai latar belakang (pebisnis, pengrajin, petani, aktivis lingkungan, penulis, psikolog, dll). Harapannya, sekolah ini dapat menjawab tingginya tingkat pengangguran di kalangan anak muda di Desa Situgede ini dengan usaha-usaha mandiri yang dilakukan oleh alumnus SES. “Dengan SES, saya yakin mimpi menjadi pengusaha tanaman hias bisa kesampaian,”ujar Asep mantap dan yakin.

SES, salah satu kegiatan baru dari komunitas Sahabat Kampung (Friends of Kampong, PENALAHATI salah satu inisiatornya), komunitas yang cinta dan peduli mengembangkan kelurahan Situgede karena kekayaan kelurahan ini 50 ha hutan penelitian milik Litbang DepHut, 5 Ha Situ, 2 Ha kebun murbei sebagai pakan penelitian ulat sutra, terletak di sisi aliran sungai Cisadane, memiliki koleksi jenis-jenis pohon bambu dan hamparan lahan pertanian yang sangat produktif. Jika Kebun Raya Bogor sebagai paru-paru kanan kota Bogor, Situgedelah sebagai paru-paru kirinya.

Selain melalui SES, Sahabat Kampung juga mendorong perubahan dari sayap Komunitas Mesjid. Masjid yang berada di kelurahan ini dalam waktu dekat akan ber-workshop menemukan strategi menuju ‘Masjid Hijau’. Sayap lain yang borpotensi sebagai lokomotif perubahan yaitu pertumbuhan ekonomi di kelurahan ini, kami sedang dorong lahirnya community enterprise.

Dari SES kami harap lahir generasi pembaru-pembaru kelurahan Situgede menuju kampung cerdas dan kaya tapi peduli lingkungannya, yang selanjutnya kami ingin tularkan ‘virus’ ini ke berbagai daerah di Nusantara ini.

Sesungguhnya, apa yang dilakukan SES sekarang ini baru di awal perjalanan dan belum menghasilkan usahawan-usahawan kampung. Masih harus diuji oleh tantangan dan waktu. Akan tetapi, melihat semangat yang ditunjukkan Asep dan kawan-kawan, rasanya harapan yang dilambungkan bukanlah harapan kosong. Bukan tidak mungkin di masa mendatang lahir entrepreneur kampung yang mumpuni dari Desa Situgede. Anda mau membantu untuk mewujudkannya? (diq)


Chevron Ubah Pendekatan

December 20, 2007

Medio September 2007, tim pelatih PENALAHATI ( aka beLight Mitra) diminta untuk melakukan coaching bagi Tim Community Affairs (CA) PT Chevron Geothermal Indonesia (CGI) di Darajat, Garut, Jawa Barat. Ini memang bukan pertama kalinya PENALAHATI bekerjasama dengan korporat. Sebelumnya, PENALAHATI juga sudah bekerja sama Chevron areal Gunung Salak. Beberapa pendiri PENALAHATI juga membangun hubungan kerja dengan PT Berau Coal berkaitan dengan program-program Community Development (COMDEV) dan Corporate Social Responsibility (CSR). Bagi kami memang, pendorong perubahan tidak melulu pemerintah, masyarakat, atau lembaga swadaya masyarakat (LSM). Korporat atau perusahaan pun punya peluang untuk mendorong perubahan sosial.
04darajat1.gif

CGI terletak di kawasan dingin Darajat. Perusahaan pengolah panas bumi untuk diubah menjadi listrik ini beberapa waktu terakhir kerap mengalami tekanan dari banyak pihak. Di tingkat fisik, pembukaan hutan di sekitar perusahaan untuk lahan-lahan sayur oleh masyarakat setempat menurunkan kualitas panas bumi yang dihasilkan. Perusahan ini juga beberapa kali didemonstrasi oleh masyarakat yang mengharapkan dapat pekerjaan di perusahaan tersebut. Pemerintah daerah juga mempersoalkan kehadiran perusahaan ini terkait dengan persentase pembagian hasil antara pemda dan pemerintah pusat. Media massa ikut nge-gong-in sehingga suasana menjadi panas.

Pemahaman tim tentang CSR terbilang beragam. Pada prakteknya, relasi yang dibangun dengan pihak-pihak lain bersifat charity dan philantrophy. Masyarakat mengirimkan proposal dan perusahaan melayaninya. Atau, perusahaan menyalurkan bantuan melalui pemerintah desa, dan hilang begitu saja tak berbekas. Informasi, data, dan rekomendasi yang didasarkan pada pemerintah desa tidak banyak manfaatnya, bahkan seringkali ada urusan KKN di dalamnya. Sementara, tidak ada perubahan imej atas perusahaan. Pejabat publik dan LSM tetap mencurigai Chevron sebagai perusahaan kapitalis yang mau menang sendiri. Masyarakat mengindentikkan Chevron sebagai perusahaan Amerika yang kasar, kafir, dan murtad.

Selama tiga hari, PENALAHATI mengajak anggota tim CA untuk berdiskusi tentang nilai-nilai dan praktek bekerja selama ini. Kami menggunakan pendekatan Sistem Thinking dan Appreciative Inquiry untuk membongkar persoalan sistemik apa yang terjadi di perusahaan itu secara keseluruhan, pengalaman terbaik para peserta berhubungan dengan masyarakat selama ini, mimpi relasi masyarakat dengan perusahaan di masa depan, dan hal-hal apa saja yang harus dilakukan di masa mendatang.

Dari hasil diskusi, terlihat inti persoalannya ada paradigma perusahaan dalam menyelenggarakan CSR. Selama ini, CGI melaksanakan program CSR dalam bentuk charity dan philantrophy. Dua gaya pendekatan ini memang melahirkan ketergantungan serta tidak memperhitungkan efek keberlanjutan. Keduanya juga tidak membutuhkan monitoring, evaluasi, dan feedback dari proses yang berjalan. Beda dari keduanya, standar kebutuhan charity berbasis pada ilusi penderma sedangkan philantrophy pada kebutuhan masyarakat. Pada charity, perusahaan membayangkan diri sebagai seorang penderma yang baik hati dan ingin mendapatkan balasan kebaikan pula. Yang didapatkan dari cara ini ada dua: bersifat temporer dan melahirkan mental pengemis pada kaum miskin. Sedangkan pada philanthropy, perusahaan sibuk memperhatikan standar kebutuhan masyarakat demi keamanan atau pencitraan usaha. Sehingga, tidak dapat lagi membedakan secara jelas mana yang menjadi kebutuhan dan mana pula yang sekadar keinginan (elite) masyarakat.

Tidak mengherankan memang, dengan pilihan dua pendekatan di atas, posisi tim CSR Chevron terjepit di tengah-tengah. Di belakangnya ada perusahaan besar yang produksinya perlu diamankan, sedangkan di depannya bertumpuk masyarakat tingkat desa, kecamatan, dan kabupaten yang terus meminta dengan wajah mengancam. Pun begitu, tak lantas ini tanpa ujung. Pergeseran paradigma pun penting dilakukan.

Pelatih PENALAHATI menawarkan gagasan corporate citizenship sebagai jalan ketiga setelah charity dan philanthropy tidak lagi pas dengan kondisi zaman. Pada corporate citizenship, standar kebutuhan didasarkan pada kepentingan perusahaan dan masyarakat. Perusahaan dan masyarakat perlu duduk bersama, membicarakan, dan merancang program-program yang dapat memenuhi kebutuhan kedua belah pihak. Misalnya saja, program lingkungan perlu dibuat karena masyarakat dan perusahaan sama-sama membutuhkan lingkungan ekologi yang baik untuk sumber air dan panas bumi.

Dalam gagasan itu, relasi terutama yang perlu dibangun antara perusahaan dan masyarakat. Perusahaan harus menyadari, bahwa keberadaan mereka di satu tempat dengan sendirinya menempatkan diri dalam sistem sosial yang ada. Setara dengan orang-orang lain yang datang ke tempat itu. Dan, bersama-sama warga yang lain ikut terlibat dalam proses-proses pembangunan daerah, serta mendukung inisiasi-inisiasi baru yang mampu membantu kehidupan warga di tempat yang paling dekat hingga ke yang paling jauh (dengan skala dukungan yang berbeda). Dasarnya adalah kebutuhan yang sama. Pemerintah (desa, camat, kabupaten) dengan sendirinya ditempatkan sebagai pihak yang “merestui” relasi yang dibangun, tanpa harus terlibat dalam “cawe-cawe” di lapangan.

Pendekatan corporate citizenship jelas mengandaikan program panjang berkelanjutan. Masa operasional perusahaan yang panjang jelas jadi alasan utama. Di sisi lain, juga bagaimana kontribusi perusahaan dapat bermanfaat untuk orang banyak dan menghasilkan gelombang efek multi lapisan. Untuk itu jelas dibutuhkan proses perencanaan, implementasi, monitoring, evaluasi, bahkan feedback dari berbagai pihak yang lain. Proses-proses ini yang akan membantu untuk melihat apakah program-program yang dilaksanakan sesuai dengan visi perusahaan dan masyarakat dalam pemenuhan standar kebutuhan bersama.

Satu hal yang juga menjadi ciri corporate citizenship, tidak mempertentangkan antara cost effectiveness dan cost consciousness. Begini, dalam cost effectiveness, perusahaan akan menimbang-nimbang biaya yang harus dikeluarkan dan efektifitas hasil yang diperoleh. Misalnya saja, Dalam strategi mengamankan operasional perusahaan, pendekatan pendampingan masyarakat, oleh sebagian perusahaan, barangkali dipahami lebih efektif dan berbiaya rendah ketimbang pendekatan keamanan. Sehingga, jika biayanya bisa ditekan akan lebih baik. Sedangkan dalam cost consciousness, kesadaran biaya ada pada pemahaman utuh tentang pentingnya program-program yang dilaksanakan. Sehingga, alokasi biaya yang ada dimanfaatkan sebaik mungkin, seperti energi yang berharga, untuk mendorong perubahan yang ada.

Pada corporate citizenship, perbedaan soal cara pandang melihat biaya ini dipadukan. Perusahaan akan menerapkan standar-strandar profesional manajemen keuangan pada masyarakat yang didampinginya, tapi pada saat yang sama juga membuka ruang fleksibilitas pemanfaatan dana pada gagasan-gagasan baru.

Untuk mengimplementasikan pendekatan corporate citizenship ini, ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab.
- Apa kebutuhan masyarakat?
- Bagaimana memenuhi kebutuhan itu?
- Apa prakondisi yang harus dipenuhi
- Bagaimana memenuhi prakondisi itu?
- Bagaimana program dioperasikan (mandiri dan langsung, melibatkan tokoh panutan, melibatkan lembaga ketiga)?

Menariknya, pertemuan tiga hari ini dipandang peserta sebagai proses penyegaran, pencerahan, dan pembingkaian ulang cara berpikir mereka selama ini. Mereka menyadari, bahwa ada banyak hal yang harus dikerjakan jika ingin menggunakan pendekatan corporate citizenship. Untuk ke masyarakat, para karyawan CGI harus mampu membangun relasi dan identitas baru untuk mengubah sterotype negatif yang telah terbangun selama ini. Sedangkan untuk ke tingkat internal, Tim CA harus mengabarkan perubahan ke lapisan-lapisan manajemen agar mau mendukung dan melakukan perubahan pendekatan dan paradigma secara bersama-sama. Tugas berat, namun diterima oleh anggota tim dengan senang hati. Menurut mereka, ini peluang terbaik untuk dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat, sekaligus menjaga keberlanjutan perusahaan. (diq)


Ayo Lakukan Sesuatu!

December 17, 2007

“Anak muda sekarang kan jiwanya pembrontak. Maunya, ada saling pengertian. Makanya guru dan ortu yang sok marah-marah, dah gak jamannya lagi. Maunya, guru dan ortu yang bisa jadi temen yang ngertiin kita…”

Supri, pelajar SMU

Ini sebuah langkah berani. Pada 11 September 2007 lalu, para pelajar SMU diajak untuk belajar tentang demokrasi dengan cara yang berbeda dibandingkan cara belajar di sekolah. Acaranya selama satu hari penuh, melibatkan 24 pelajar dari SMU-SMU di Jakarta Selatan (Lab School Kebayoran, SMUN 70, SMUN 6, SMUN 60, dan SMUN 34) yang difasilitasi oleh guru-guru alumni TOT Apresiasi Bernegara di Mega Mendung beberapa bulan yang lalu.

Acara yang bertema “Be Enganged and Make Democracy Works” dan diselenggarakan di Ruang Audio Visual SMUN 70 ini memang aksi lanjutan dari komitmen CIVED untuk mendukung peningkatan apresiasi bernegara di kalangan siswa SMU. Juga, memberi ruang kepada para alumni pelatihan TOT Apresiasi Bernegara untuk mempraktekan keterampilan memfasilitasi dan menularkan virus-virus perubahan kepada para murid.

“Belajarlah dengan empat pilar UNESCO. Yakni, learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to living together,”begitu kata Pak Asikin, Kepala Sekolah SMUN 70 ketika membuka acara. Belajar untuk tahu, belajar untuk melakukan, belajar untuk menjadi, dan belajar untuk hidup bersama. Wah, ini pendekatan yang bagus sekali. Kita tidak cuma belajar untuk tahu, tapi juga mempraktekan pengetahuan, mengejar impian, dan hidup selaras.

Bu Nur, guru PKN di Lab School Kebayoran, memfasilitasi perkenalan dengan metode mandala diri. Metode penggalian persepsi yang diambil dari filsafat Hindu-India ini digunakan untuk membuka diri masing-masing perserta dan mencairkan kekakuan di antara para peserta yang baru sekali ini bertemu.

Ada tiga pertanyaan yang diajukan Bu Nur. Pertama, siapa kamu? Kedua, apa pengalamanmu yang paling berkesan? ketiga, kamu ingin dikenang sebagai apa? Ketiga pertanyaan itu harus dijawab dalam bentuk gambar atau simbol. Kemudian, masing-masing peserta menjelaskan makna gambar-gambar yang ada di mandala dirinya pada peserta lain. Ini cara belajar bersama. Juga, efektif untuk mencairkan kekakuan. Gaya teman-temanmu dari SMUN 6 misalnya, yang spontan khas anak gaul membuat suasana segar dan gembira tercipta di pagi hari itu.

Usai saling menjelaskan, Bu Nur meminta teman-teman untuk membentuk kelompok berdasarkan nomor yang tertulis di balik kertas mandala diri. Suasana langsung riuh. Semuanya berteriak-terik. “satu…satu…sini ngumpul satu…”, ” yang dua, yang dua, di mana dua..”, “tiga…tiga…”, “empat mana empat”, “lima sini dong…”. Begitu kelompok terbentuk, anggota masing-masing kelompok lima orang berasal dari lima SMU yang berbeda, teman-temanmu langsung bekerja sama dengan aktif. Mereka membuat nama kelompok dan yel-yel yang diperagakan bersama-sama. Suasana gembira langsung pecah, keakraban tercipta dengan cepat, dan tak terlihat ada yang mendominasi. Semua sepakat belajar demokrasi dengan cara gembira dan pikiran positif.

Suasana belajar telah terbangun. Giliran Bu Tini, guru PKN di SMUN 60, memfasilitasi Sesi Persepsi Demokrasi. Sesi ini dipandang penting karena dapat mengetahui pikiran-pikiran anak muda tentang demokrasi. Bu Tini yang menggunakan metode World Café memulai sesi dengan meminta setiap kelompok pindah ke meja yang telah disiapkan. Setiap kelompok diminta untuk mendiskusikan persepsi demokrasi setiap anggota kelompok. Kemudian, dirumuskan menjadi persepsi kelompok yang disajikan dalam bentuk gambar. Keakraban yang tercipta tidak basa-basi. Itu terlihat dari proses diskusi kelompok yang terjadi. Para peserta aktif berdiskusi dan menggambar, tanpa saling mendominasi. Setiap anggota kelompok menghargai dan menyimak pendapat orang lain. Semuanya bersikap apresiatif.

Dalam presentasi hasil kerja kelompok, kelompok FREE yang beranggotakan Adis, Citra, Ega, dan Hadian menggambar bola dunia dan timbangan. Menurut persepsi kelompok ini, demokrasi adalah keadilan untuk semua warga dunia.

Kelompok AWAN lain lagi. Supri, Lala, Adirina, Rila, dan Dinni menggambar gedung DPR/MPR dan orang-orang yang sedang berdemonstrasi. Menurut kelompok ini, demokrasi adalah janji. Ketika wakil rakyat tidak penuhi janji, ya harus ditagih dengan cara demonstrasi.

“Emang, demokrasi itu mesti demo?” tanya Zizie dari kelompok KIAMAT.

“Demokrasi menuntut rakyat aktif. Kalau janji tidak dipenuhi ya tagih lewat demo dong. Habis mau pake cara apa,” kata Supri seraya balik bertanya.

Demokrasi menurut kelompok JAMBORE (Tiara, Dinda, Ucup, Ninis, Bisma) diwujudkan dalam gambar suasana tempat pemungutan suara (TPS), sidang DPR, dan bendera merah putih. Untuk Indonesia, menurut kelompok ini, demokrasi berarti pemilu dan wakil rakyat terpilih bersidang untuk memikirkan perbaikan nasib rakyat yang diwakili.

“Menurut kelompok kamu apa sistim demokrasi di Indonesia?” tanya Citra dari kelompok FREE

“Sistim demokrasinya bebas aktif dong,”kata wakil kelompok JAMBORE.

“Bebas aktif itu asas politik kita, sistim demokrasi kita ya demokrasi Pancasila,”kata Supri angkat bicara

Demokrasi di mata anggota kelompok KIAMAT (Inta, Zizie, Siskha, Salaman, dan Darang) digambarkan dalam banyak simbol, yakni gedung DPR (artinya aspirasi rakyat), TPS (pemilu), orang bermusyawarah (mengambil keputusan partisipatif), gedung kejaksaan (keadilan), dan gambar tikus diberi garis silang (demokrasi anti korupsi).

“Apa hubungannya demokrasi dan korupsi?” tanya Supri.

“Zaman Suharto, demokrasi nggak jalan makanya banyak korupsi. Jadi, kalau demokrasi jalan pasti nggak ada korupsi.”

Kelompok OKE (Imam, Gerarld, Bagus, Isti, dan Dea) menggambar suasana kampanye, pemilu, dan sidang MPR. Dalam penjelasan mereka, gambar-gambar ini berarti sistem pemerintahan di Indonesia dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sedangkan gambar masjid dan gereja menyimbolkan kebebasan beragama. Gambar gedung kejaksaan dan timbangan berarti hukum dan keadilan.

“Demokrasi itu dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat yang bebas dan adil tapi taat hukum.”

Setelah selesai presentasi semua, Bu Tini mengajak peserta menyimpulkan ciri-ciri demokrasi. Jawaban peserta,

Ada banyak orang
Ada kebebasan
Ada perbedaan
Tapi taat hukum
Di Indonesia berazas Pancasila
Ada tempat dan cara salurkan aspirasi
Ada uang untuk mendukung demokrasi jalan
Sifat jurdil

Penggiat PENALAHATI, Doni A. Baruno yang melakukan technical assistant acara tersebut, mewawancarai beberapa peserta saat istirahat siang. Menurut Zizie, cara belajar seperti ini sangat menarik sekali. “Di sekolah ada pelajaran PKN, tapi kok gak bisa se-asyik ini ya… Aku mau ikutan lagi.”

Senada dengan Zizie, Ahadian melihat pelajaran PKN di sekolah sekarang ini “garing” banget. “Masak lebih susah dari pelajaran eksak? Jawabannya harus sama titik komanya. Aduh, kapan sih kurikulum nggak berubah-ubah lagi?”kata Ahadian yang akan sangat senang sekali jika guru-guru di sekolahnya mengajar dengan cara yang kreatif seperti dalam pertemuan ini.

Supri, sang bintang pelatihan yang rajin membaca berita-berita di rubrik Politik harian The Jakarta Post sangat sepakat dengan cara belajar seperti ini. “Minat teman-teman memang perlu dibangkitkan untuk belajar hal-hal beginian. Caranya, ya seperti tadi, belajar kelompok yang fun. Kan, asyik jadinya, ada sharing, lagian rasanya ringan tuh ngomongin pelajaran yang kita anggap garing selama ini.” Lebih jauh Supri mengatakan, “Anak muda sekarang kan jwanya pemberontak. Maunya, ada saling pengertian. Makanya guru dan ortu yang sok marah-marah dah nggak jamannya lagi. Maunya, guru dan ortu yang bisa jadi temen yang ngertiin kita.”

Istirahat usai sudah, Bu Nur berduet dengan Bu Tini memfasilitasi Sesi Diskusi Materi. Sebelumnya, untuk menaikkan semangat dan membangunkan sel-sel otak, Bu Nur terlebih dahulu memberikan energizer berhitung “1, 2, 3, eo”. Suasana segar langsung merebak begitu tawa meledak karena ada peserta yang salah menghitung atau menyebut. Semangat untuk menyelesaikan hitungan membuat para peserta menjadi segar kembali.

Sesi Diskusi Materi dibuka dengan penawaran pasar topik. Ada lima topik: “Hak dan Kewajiban Negara”, “HAM”, “Heterogenitas”, “Gejolak Konflik”, dan “Prinsip-Prinsip Voluntir”. Setiap kelompok dipersilakan untuk memilih satu topik untuk dijadikan tema diskusi kelompok dengan bantuan bahan bacaan yang telah dibagikan. Fasilitator juga meminta setiap kelompok menampilkan hasil diskusi kelompok dengan cara yang mengesankan.

Hasilnya memang tidak disangka-sangka. Setiap kelompok coba mempresentasikan hasil belajar mereka dengan cara yang menarik dan kreatif. Kelompok FREE, misalnya, mengemas hasil belajar kelompok dalam acara talkshow bertajuk Freetalk. Ibu Nur diminta sebagai bintang tamu Freetalk, yang menjawab pertanyaan-pertanyaan anggota kelompok yang bertindak sebagai host acara. Kelompok lainnya, AWAN, yang memilih topik Heterogenitas, menyampaikan hasil diskusi dalam bentuk interview antar anggota kelompok. Kemudian dibantu fasilitator Pak Harso (guru PKN SMUN 34), para peserta bermain puzzle potongan kata-kata. Hasilnya adalah serangkai kalimat berbunyi: “Tebar Cinta Antar Sesama Etnik Dan Prilaku Santun Kunci Komunikasi Multietnik”. Kelompok ini kemudian meminta seluruh peserta mengambar sebuah poster yang bisa menjelaskan apa itu heterogenitas dalam masyarakat.

Tak terasa, waktu berlalu dengan cepat. Acara masuk pada sesi terakhir. Untuk terus menjaga semangat agar tetap tingi, Bu Nur dan Bu Tini secara bergantian membawakan energizer dan permainan-permainan kecil yang mengantarkan para peserta ke Sesi Evaluasi.

Cara evaluasinya tidak biasa-biasa. Fasiltiator meminta peserta membuat evaluasi dalam bentuk Pensi yang menggambarkan kesan mereka atas pelatihan ini. Kelompok AWAN menampilkan monolog Supri. “…senang berbagi pengalaman dengan kakak-kakak karena gue masih kelas 10…semoga gue ikut lagi tahun depan…acara ini jangan sampek ilang…acara ini bagus banget…” usai Supri bermonolog-ria, rekan-rekan satu kelompok langsung bersama-sama menguncapkan dengan lantang, “Kami kelompok Awan, kami siap menantang untuk menang!”

Kelompok JAMBORE sederhana saja. Bersama-sama mereka berteriak, “Luar biasa!!”. Sedangkan kelompok FREE secara bersama-sama mengucapkan, “Acara ini bagus, terima kasih berbagi ilmu, belajar bersama.” Lalu, mereka meneriakkan yel-yel kelompok. Berikutnya, Zizie dari kelompok KIAMAT bergaya centil mengucap, “Jangan hanya sampai disni dong…Ayo, lakukan sesuatu!”

Sebagai penutup, Kelompok OKE membaca puisi bersama. Begini puisinya: //Kamu sangat berarti/Istimewa di hati/Slamanya rasa ini/Jika tua nanti kita/Tlah hidup masing-masing/Ingatlah hari ini..//

Benar-benar metode evaluasi yang istimewa.

“Acara ini sangat bagus. Harapannya, tahun depan dapat dilangsungkan lagi dengan peserta yang lebih luas,”kata seorang pengamat yang merupakan guru PKN dari Lab School Kebayoran. Katanya pada peserta, “Kalian beruntung dapatkan kesempatan ini. Tularkan virus-virus perubahan positif kepada rekan-rekanmu.”

Ya, itu yang memang dimaui penyelenggara. Terjadi penularan virus-virus perubahan positif ke anak-anak bangsa, calon pemimpin negeri tercinta ini. Dari anak-anak muda inilah, masa depan negeri dapat kita titipkan. Itu yang diingatkan berkali-kali oleh Soekarno, proklamator negara ini. (DB/penalahati)


Riding the Wave

December 17, 2007

NEGERI ini mengalami kemacetan di segala bidang. Semua sepakat, harus ada cara-cara baru untuk mendorong perubahan. Pun begitu, ini bukan perkara gampang. Kebebalan yang telah melebam di negeri ini menyebabkan proses reformasi dan transisi demokrasi bergerak dengan lamban dan tertatih-tatih, serta menghambat perubahan yang akan dilakukan. Dan, itu yang dialami PENALAHATI ketika memfasilitasi workshop penguatan kapasitas anggota DPRD provinsi dan kabupaten/kota se-Sulawesi dalam hal legislasi dan perencanaan anggaran untuk tiga angkatan pelatihan di Bali dan Yogyakarta (dua kali).

Dalam setiap workshop tersebut, tim pelatih PENALAHATI bekerja sama dengan tim narasumber, yang juga pembuat modul, yang berlatar pendidikan S2 hingga S3, bergelar master hingga Profesor Doktor. Idenya menarik, PENALAHATI akan memfasilitasi proses dan membantu envisioning peserta tentang peran, tanggung jawab, dan tugas mereka sebagai wakil rakyat, sedangkan tim narasumber akan menyampaikan substansi legislasi dan perencanaan anggaran.
Peserta dan makalah tebal
Prakteknya tidak demikian. Rancangan sesi-sesi dan sekuensi workshop berubah karena narasumber merasa kurang waktu untuk menyampaikan materi. Metode-metode fasilitasi yang ditawarkan tim PENALAHATI juga ditolak. Narasumber bersikukuh menggunakan gaya lecturing dibantu slide-slide proyektor (halaman-halaman penuh dengan teks berukuran kecil, tak terbaca dari tempat duduk peserta). Dialog tak terjadi, melainkan diskusi bahkan sampai ke taraf debat kusir saling mempertahankan pendapat antara narasumber dan peserta. Pertentangan persepsi meruncing dengan munculnya dikotomi pusat-daerah.

Akibatnya fatal, peserta tidak merasa nyaman berada di dalam kelas. Kebanyakan peserta memilih merokok dan berbincang-bincang dengan sesama peserta dari daerah lain ketimbang menjadi pendengar paparan narasumber. Sebagian lainnya, memilih untuk pusat-pusat perbelanjaan di Kuta atau Malioboro, mencari oleh-oleh untuk kerabat di rumah. Tak terlalu mengherankan kelas hanya diisi sekitar 14 orang dari 40 peserta yang terdaftar.

Bukan cuma itu saja masalahnya. Tim penyelenggara — gabungan staf departemen, pelaksana proyek, dan lembaga donor– tidak padu, serta kerap melanggar norma-norma pertemuan, seperti sibuk ngobrol atau menerima telepon dengan suara keras saat sesi yang membutuhkan ketenangan sedang berlangsung. Belum lagi, gangguan-gangguan ke peserta dengan perintah-perintah (di luar fasilitator) untuk mengisi formulir evaluasi ketika peserta sedang berdiskusi dalam kelompok. Situasinya benar-benar tidak memuaskan.

Barangkali, ada banyak alasan yang melatarbelakangi sikap narasumber. Tapi, itu bukan urusan kami. Kami lebih memusatkan konsentrasi pada tujuan yang ingin dicapai penyelenggara dan peserta. Tantangan untuk memotivasi para anggota DPR, mendekatkan mereka pada konteks sosial, dan memberikan pendidikan tentang pentingnya sebuah proses perencanaan yang benar, jauh lebih menarik bagi PENALAHATI ketimbang terjebak pada cara berpikir defisit menghadapi situasi seperti di atas, sekaligus mencari cara-cara apresiatif agar semua orang berpartisipasi.
Banner gantung 120cm x 2m), foto karya Timur AnginSUAR, Daily Newsletter Prosiding dalam bentuk komik
Ketika upaya dialog dipatahkan dengan gaya arogan dan emosional oleh narasumber dan sebagian pihak penyelenggara, tim pelatih kemudian mencoba menawarkan gagasan-gagasan pembaruan dan perubahan melalui berbagai poster dan banner gantung yang menampilkan foto-foto manusia Indonesia (petani, nelayan, buruh, perempuan dan anak-anak, dll) hasil karya fotografer Timur Angin. Juga, melakukan gerilya fasilitasi dengan menerbitkan daily workshop newsletter yang memuat pikiran dan suara peserta ditambah artikel-artikel yang inspiratif, serta pendampingan luar kelas dengan menemani para peserta berdiskusi di sela-sela break atau malam hari. Tim PENALAHATI bahkan membuat “iklan duduk” yang diletakkan di atas meja-meja peserta. Isinya, kutipan-kutipan ujaran membangkitkan semangat dari tokoh-tokoh macam Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Soe Hok Gie, Abdurahman Wahid, dll.
Orang dewasa belajar lewat permainan
Sesi yang menjadi tanggung jawab PENALAHATI juga dikemas semenarik mungkin. Ini juga sebagai jawaban bagi ketidakpercayaan sebagian orang, dalam hal ini narasumber, bahwa cara belajar dinamik dan aktif akan jauh lebih bermanfaat ketimbang cara lecturing. Itu yang membuat PENALAHATI berani memboyong kelompok band reagge yang para pemainnya mahasiswa-mahasiswa dari berbagai tempat di Indonesia, yang juga anggota Sahabat WALHI Yogyakarta, untuk menghibur para peserta, sekaligus menyelipkan pesan subtext yang akan hinggap dan hidup di ruang bawah sadar. Pesan tentang perubahan yang didambakan rakyat. Pesan dan irama yang akan dibawa pulang peserta ke daerahnya masing-masing, dan akan menjadi sumber energi manakala mereka bekerja.

Di akhir seluruh kegiatan, dalam sesi-sesi evaluasi, para peserta mengakui tim PENALAHATI membuka pintu pemahaman baru tentang pentingnya peran mereka sebagai legislator dalam sistem politik desentralisasi sekarang ini. Cara-cara fasilitasi yang digunakan menghadirkan antuasiasme yang tinggi. Sebagian dari peserta bahkan meminta PENALAHATI mau bertandang ke Sulawesi membantu kerja-kerja mereka di sana.

Memang tak semua peserta menganggap pertemuan ini bermanfaat. Untuk sebagian peserta yang telah pulang di hari kedua atau sibuk belanja oleh-oleh di hari ketiga, workshop ini tak banyak memberikan perubahan. Sama seperti yang sudah-sudah, berlalu begitu saja. Tak banyak pelajaran yang didapat. Menyedihkan memang, rangkaian kegiatan yang menelan biaya besar, tak berdampak pada mereka.

Untuk PENALAHATI sendiri, rangkaian workshop di atas memberikan banyak pelajaran, Kami semakin mengerti dan memahami pentingnya terus menerus menggali pengetahuan dan pengalaman baru, menentukan peran yang jelas dalam memfasilitasi, penataan ruang, penggunaan media sebagai penyampai pesan subteks, hingga harus menciptakan alat dan teknik yang tepat pada situasi sulit seperti di atas.

Situasi “tegang” di atas juga membuat kami harus belajar lagi teori dan ilmu pembelajaran untuk orang dewasa dan berbasis konteks. Itu yang membuat kami menelusuri lagi literatur dan membangun perbincangan dengan para ekspertis dynamic learning, system thinking, context based learning, juga appreciative inquiry.

Benar-benar dinamis dan kesempatan yang langka untuk kami. Bisa dibayangkan memang kerepotannya karena harus melahirkan banyak inovasi dalam waktu yang sempit di bawah sikap tidak percaya. Riding the wave seperti seorang peselancar, begitu sebut kami. Dan, kami senang mendapatkan ombak-ombak besar dan kencang seperti itu, apalagi karena kami bisa melaluinya dengan selamat. Tapi, satu hal yang pasti membuat kami selalu tersenyum adalah ketika mendengar kabar dari sahabat-sahabat baru di Sulawesi sana. Berita tentang perubahan yang sedang terjadi di tempat mereka sana. Ada rasa hangat di dada.. Alhamdulillah, kerja kami jadi punya makna. (diq)


Dan, Cerita pun Dimulai…

December 17, 2007

Cerita tentang “Jollie Land” di tulisan terdahulu tak lain salah satu komitmen PENALAHATI untuk mendorong perubahan cara mengapresiasi kehidupan bernegara di kalangan anak-anak muda yang pada PEMILU 2009 menjadi pemilih pemula. Sebuah tantangan, karena waktu yang tersedia hanyalah satu jam, tapi PENALAHATI harus mampu membantu kaum muda itu membingkai ulang persepsinya, dari persepsi sinis dan apatis menjadi apresiatif.

Itu cuma satu tantangan, dari sekian tantangan yang lain selama PENALAHATI bekerja sama dengan Proyek CIVED (UNDP dan Depdagri). Tantangan pertama, sekaligus melahirkan PENALAHATI, pada Juni 2007 ketika para pendiri PENALAHATI melatih guru-guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) SMU unggulan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Cianjur, dan Cirebon dalam TOT Apresiasi Bernegara (Pendidikan Demokrasi untuk SMU).

Dalam pertemuan selama enam hari, para guru mengeluhkan berbagai hal yang membuat PKN (dulu PMP) menjadi tersingkirkan dari perhatian. Bukan cuma materinya yang diremehkan dan dilecehkan, tapi juga hilangnya penghargaan murid, orangtua, maupun sekolah pada mata pelajaran ini. Pelajaran PKN diremehkan, kalah kelas dengan matematika, bahasa Inggris, atau IPA. Bahkan, dianggap sebagai warisan Orde Baru.

Sudah begitu, realita politik di negeri ini tidak mendukung pengajaran di dalam kelas. Ketika para guru mengajar tentang pentingnya etika politik, anggota DPR/DPRD ditangkapi karena korupsi. Ketika mereka mengingatkan demokrasi sangat menghargai perbedaan pendapat dan menolak kekerasan, para anggota dewan yang terhormat sedang baku pukul di ruang sidang utama gedung rakyat. Disiarkan secara live oleh stasiun tv ke seluruh penjuru. Sungguh memalukan, sekaligus membuat pelajaran dan pendidik PKN semakin digusur ke sudut.

Pertemuan di Mega Mendung tersebut melahirkan kesadaran baru pada guru. Bahwa, Indonesia yang telah berhasil keluar dari orde ketakutan sedang melewati masa transisi untuk masuk orde demokrasi. Jelas, ada banyak yang harus dirapikan mengingat penguasa otoriter sebelumnya berkuasa selama 32 tahun. Pasti, akan banyak hadangan dari murid-murid Orde Baru (kaum machiavelis dan mediocere) yang tak ingin keleluasaan mereka berkurang apalagi terhambat.

Jika keadaan seperti sekarang ini dibiarkan berlarut-larut, tentu akan menguntungkan kekuatan lama yang terus berusaha memerbaiki dan menguatkan jejaring sistem mereka. Bukan tidak mungkin yang terpilih adalah manusia-manusia lama dalam bungkus baru. Jika rakyat tidak melek politik, tentu bukan hal sulit bagi orang-orang bertabiat lama (sibuk rebutan uang dan jabatan) untuk naik ke panggung kepemimpinan daerah atau nasional. Pilihan menjadi golput pun jelas akan merugikan di saat sekarang ini. Karena, suara akan dikuasai oleh mereka yang berhasil menggiring massa yang termakan sogokan dan janji ke kotak-kotak suara.

Para guru menyadari, mereka punya kesempatan untuk melakukan perubahan. Persentase pemilih pemula, yang notabene anak-anak SMU yang sekarang duduk di kelas 2 dan 3, dalam Pemilu 2009 nanti di atas 30%. Jumlah yang sangat signifikan untuk menentukan kemenangan kandidat pemimpin yang mempedulikan upaya-upaya pencapaian kesejahteraan rakyat ketimbang aksi kosmetik di media massa. Kesadaran ini memunculkan semangat untuk mencari alternatif cara agar pengajaran demokrasi di SMU dapat berlangsung dengan menyenangkan, menarik perhatian para siswa, dan menghasilkan gelombang-gelombang inovasi baru, sehingga terjadi perubahan dalam realita sosial dan politik. Caranya adalah dengan menggunakan metode dan teknik fasilitasi.

Hasilnya memang luar biasa! Guru-guru ini cepat belajar dan melahirkan berbagai inovasi dalam mengajarkan pengetahuan demokrasi dan cara-cara memunculkan sikap-sikap apreasiasi dalam bernegara. Ketika dihadapkan pada tantangan untuk memandu proses diskusi dengan narasumber seperti Eep Saefullah, Heri Achmadi, maupun tokoh-tokoh dari Komnas HAM dan Bappenas, para guru ini tak canggung menggelar sesi dengan metode comedian role play (seperti Srimulat), talk show segar (seperti Empat Mata-nya Tukul Arwana/Trans 7), percakapan kedai kopi, maupun dialog seperti acara-acara perbincangan di televisi sekarang ini.

Bukan cuma itu saja yang terjadi. Para guru ini berjanji, masing-masing untuk terus melatih diri dan mempraktekkan teknik-teknik fasilitasi dalam kegiatan belajar mengajar di kelas mereka masing-masing. Para guru ini juga berjanji menyebarluaskan pikiran dan pendekatan baru ini pada rekan-rekan guru di sekolah sendiri maupun sekolah tetangga. Yang paling seru, mereka bersepakat untuk membuat jaringan guru-guru PKN yang fasilitatif. Sungguh mengesankan.

Sebagai bagian dari komitmen, PENALAHATI terus ikut terlibat dalam upaya-upaya untuk meningkatkan pemahaman demokrasi dan kehidupan bernegara pada anak-anak muda. Bentuknya seperti fasilitasi Jollie Land yang diceritakan di atas, juga pembuatan modul pelatihan apresiasi bernegara untuk didistribusikan ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.

Komitmen lainnya, PENALAHATI terus melakukan proses pendampingan dan coaching alumni TOT untuk menyelenggarakan familiarization workshop untuk sekolah-sekolah di Jakarta Selatan dan Bogor. Khusus di Bogor, workshop yang menampilkan berbagai atraksi kesenian oleh para siswa SMU ini dihadiri Bupati Kabupaten Bogor, Walikota Bogor, para pejabat Depdiknas, dan guru-guru pendamping dari sekolah-sekolah yang diundang. Di hadapan para peserta dan pengamat, serta hadiran, walikota Bogor menitikkan air mata. Baginya, acara yang diselenggarakan dan difasilitasi oleh guru-guru PKN Bogor itu seperti setitik air di padang pasir politik Indonesia sekarang ini. Perubahan pasti akan terjadi, jika kesadaran berdemokrasi tumbuh dan hidup di kalangan anak muda. Dan, itu dimulai dari mengubah cara berpikir dan cara belajar.

Harapannya memang begitu, air itu tak berhenti menitik, melainkan menderas, membuka sumber mata air, menyatu menjadi aliran sungai dan menghadirkan kesegaran dalam kehidupan demokrasi di negeri ini. (diq)


Yang Muda, Yang Dipercaya

December 17, 2007

“It’s all about fun!”
Whitny, Regina Pacis Jakarta
Para peserta berdiskusi
TERSEBUTLAH sebuah kisah di negeri Jollie Land. Terjadi wabah flu burung yang menyerang orang-orang dewasa. Semuanya terserang dan meninggal dunia. Yang tersisa hanyalah anak-anak muda, di seluruh negeri. Mereka harus menentukan dan menemukan masa depan Jollie Land. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah memilih Presiden Jollie Land. Semua warga, umur berapa pun punya hak dan kewajiban yang sama: memilih dan dipilih. Tanpa kecuali.

Itu cerita yang dihantarkan Bung Jo dari PENALAHATI dalam sesi khusus CIVED dalam acara Jollie’s Agent Gathering pada Sabtu (8/9) di arena Putt Putt Golf and Games, kawasan Senayan, Jakarta. Bung Jo menjadi fasilitator tentang apresiasi bernegara di kalangan pembaca dan agen free magazine Jollie, “Bold & Young”.

Sedari awal Bung Jo bilang, teman-teman yang hadir (lebih dari 60 orang) pada acara itu semuanya sangat keren. Baik penampilannya, wajahnya, hingga otaknya, semuanya keren abis.

Teman-teman yang hadir di situ mengingatkannya pada anak-anak muda seumuran di masa kemerdekaan dulu. Misalnya saja, Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Chairil Anwar, Afandi, dll. Mereka sangat muda, sama seperti teman-teman yang hadir di acara tersebut, tapi sudah memikirkan rakyat dan negara di atas kepentingannya sendiri.

Itu beda dengan pemimpin sekarang ini. Menurut teman-teman, pemimpin sekarang suka nyebelin. “Bikin aturan seenaknya saja, tapi sendirinya nggak patuh. Liat aja soal aturan merokok. Rakyat diatur nggak boleh ngerokok sembarangan, tapi anggota DPR ngerokok seenaknya, bahkan di ruang sidang. Udah gitu, orang-orang dilarang ngerokok di tempat umum tapi nggak disediain tempat khusus. Kan nggak adil tuh.”

“Paling sebel itu kalau ngeliat pemimpin sibuk sama urusan sendiri dan partai. Kita nggak diperhatiin.”

“Emang ‘jadul’ pemimpin kita.”

Tapi, tidak semuanya buruk. Kata teman-teman kita ini, ada juga pemimpin yang bagus. Dan, itu membuat mereka senang.

“Kita paling senang kalau melihat pemimpin memperhatikan rakyat. Bikin inovasi supaya rakyat nggak sulit hidupnya.”

Lantas, bagaimana jika anak-anak muda ini yang menjadi pemimpin negeri. Cerita di atas pun menjadi latarnya. Di Jollie Land hanya ada mereka. Mereka harus berani mengambil keputusan sendiri untuk masa depan mereka sendiri. Bung Jo, dengan cara atraktif, membagi kelompok menjadi tiga. Dua partai dan satu lainnya kelompok masyarakat. “Kami yang menjadi penentu kemenangan kedua partai itu. Mereka harus memperebutkan suara kami kalau mau menang,”ujar wakil anggota kelompok masyarakat.

Masing-masing kelompok pun saling berembug. Dua partai memilih kandidat dan konsep pembangunan yang ditawarkan. Uniknya, teman-teman kita ini meminta fasilitator memberi kesempatan pada semua anggota kelompok untuk bercerita. Sambil, memperkenalkan diri. Baru kemudian mereka bersama-sama memutuskan siapa yang akan menjadi kandidat dan apa topik kampanye mereka.
Sedangkan kelompok masyarakat mendiskusikan ide-ide mereka tentang Jollie Land “Tanah Air Gue!” itu. Ada yang bilang, tidak perlu ada sekolah di Jollie Land.

“Sekolah itu mengesalkan. Kita cuma disuruh ngafal doang.”

Terus bagaimana supaya bisa pintar?

“Belajar di rumah aja. Kan ada internet, ada buku. Kita bisa cari ilmu yang lebih dari punya guru.”

“Di Jollie Land nggak boleh ada aturan yang nggak masuk akal. Ngapain ngatur-ngatur soal pribadi orang, sampai ke urusan pakaian segala. Di Jollie Land orang bebas berekspresi.”

Tiba waktu kampanye. Masing-masing partai mengajukan calon presiden dan wakil presiden untuk berkampanye. Masing-masing menyampaikan visi, misi, dan mimpi tentang Jollie Land “Tanah Air Gue!”, negeri kaum muda tanpa orang tua itu.

“Di Jollie Land pendidikan sangat diperhatikan. Sekolah gratis. Sarana dan prasarana transportasi sangat bagus. Kita tidak kenal macet atau terlambat. Jollie Land menyediakan sarana dan kesempatan agar anak muda dapat mengembangkan hobi. Internet dan pulsa handphone gratis, biar kita bisa belajar dengan gampang,”kata Elda, mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang menjadi kandidat presiden dari Partai 1.

Whitny, siswi Regina Pacis Jakarta, kandidat Partai 2 tidak mau kalah. “It’s all about fun di Jollie Land. Setiap hari menyenangkan. Ada party di mana-mana. Party-nya bukan yang negatif, tapi justru positif, seperti bazaar, festival, atau konser. Sambil senang-senang, bertemu banyak orang, belajar dan bekerja,”ujar Whitny.
Whitny sedang kampanye
“Kalau semuanya bersenang-senang, bagaimana soal ekonomi? Terus, kalau semuanya gratis kita dapat pemasukan dari mana?” tanya wakil kelompok masyarakat.

Dengan lincah kedua kandidat menjawab pertanyaan kritis itu. Elda mengatakan, segala hal yang gratis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sekolah gratis akan bikin banyak orang pintar, transportasi lancar bikin orang produktif, hobi yang dikembangkan anak muda akan jadi pekerjaan dan menghasilkan. “Kita kan suka bikin kerajinan-kerajinan tangan. Nah, itu bisa dijual di sana. Kalau perlu diekspor ke luar negeri.”

Sedangkan pulsa handphone dan internet gratis perlu supaya setiap saat penduduk di Jollie Land dapat belajar dan saling berhubungan. Bisa jadi bisnis deh.
Menurut Whitny, konsep all is about fun bukan berarti pesta terus. Tapi, suasananya yang menyenangkan terus. Kehidupan bernegara bisa dibikin seperti bazaar besar, saling bertansaksi dalam suasana pasar yang warna-warni, gembira dan menyenangkan.

Usai berkampanye dan berargumentasi. Pemilihan umum diselenggarakan. Bertindak sebagai Komite Pemilihan Umum (KPU) adalah fasilitator dan para penggiat CIVED. Hasilnya, Elda, calon Presiden dari Partai 1 memenangkan pemilu. Bagaimana Whitny menyikapi kekalahan?

“Kemenangan Partai 1 juga kemenangan Partai 2, karena itu kemenangan Jollie Land. Kami memilih jadi oposisi, agar pembangunan dapat terawasi dengan baik,” kata Whitny dengan pasti.
Presiden terpilih Jollie Land memberikan pidato politik pertamanya,
Elda, sang presiden terpilih
“Terima kasih kepada Partai 2. Ini memang kemenangan Jollie Land. Kemenangan kita semua. Awalnya saya hendak mengajak Partai 2 bersama-sama ngurus negara ini. Tapi, karena sudah memilih jadi oposisi, ya nggak apa-apa. Itu juga baik,”kata Elda.

Ya, sudah begitu. Semua bertepuk tangan, semua bersorak. Jollie Land sudah punya presiden dan siap membangun mimpi.

Tapi, bukan cuma itu saja. Bung Indra J. Piliang, ahli ilmu politik dan peneliti yang kondang itu, yang bertindak sebagai duta besar negara tetangga, Indonesia, memuji kreatifitas teman-teman saat memilih presiden di Jollie Land. Indonesia, sebenarnya punya kesempatan seperti Jollie Land. Kejadian yang hampir sama adalah ketika Aceh terkena tsunami. Ratusan ribu orang meninggal dunia, termasuk para ahli yang kebanyakan tinggal di Banda Aceh.

Menurutnya, Jollie Land lebih maju ketimbang Indonesia. Anak muda bangkit di depan untuk menentukan masa depan negeri. Di Indonesia, hak memilih dan dipilih dibatasi umur. Persis iklan rokok, “yang muda nggak dipercaya”. Tapi, di Jollie Land semua orang boleh memilih dan dipilih. Berapa pun umurnya.

Tak terasa, waktu satu jam habis. Semua tidak menyangka, bahwa mengapresiasi kehidupan bernegara dapat berjalan dengan begitu mudah dan cepat. Hanya dalam waktu satu jam, teman-teman kita belajar tentang hak dan kewajibannya sebagai warga negara dalam pemilihan umum. Dan, semuanya dilakukan dalam suasana aktif, partisipatif, dan yang paling penting, menggembirakan. Siapa bilang pelajaran tentang demokrasi itu membosankan? It’s all about fun, kata teman-teman kita itu.

Bung Jo menutup pesta demokrasi di Jollie Land dengan bertutur: Anak muda memotret demokrasi melalui foto dan film pendek, sebuah pentas yang diusung CIVED. Anak muda ternyata mampu melihat demokrasi secara cerdas dengan sudut pandang humoris khas anak muda. Orang tua tidak bisa melihat dengan cara seperti itu. “Acara simulasi pesta demokrasi yang ditunjukkan di sini,” kata Bung Jo, “membuktikan anak muda keren abis. Nggak ada matinya!”

Dan Bung Jo ngasih pandangan, bukan petuah. “Orang tua yang sekarang nyebelin, biasanya adalah orang yang kehilangan masa mudanya.” Karena itu, kata Bung Jo, “Jangan sia-siakan masa muda. Kembangkan kreatifitas. Jaga kecerdasan. Salurkan aspirasi dan kepedulian sosial dengan cara orang muda. Kalau itu gagal kalian tunjukkan, kalian kelak bakal jadi orang tua yang nyebelin!” Nah lo! (lihat juga berita tentang event ini di website UNDP)


Hello world!

December 17, 2007

Halo dunia!
Salam jumpa. PENALAHATI sudah hadir di ruangan pembelajaran jagad maya di tengah kerumitan sosial dan ketidakpastian ekologi seperti sekarang ini. Tak hendak berlebihan, weblog ini dibuat hanya ingin berbagi cerita. Tentang apa saja yang menaikkan antusiasme kita menapaki jalan perubahan. Barangkali saja, cerita-cerita itu menyalakan api di dada kita yang telah lama dibiarkan merana dan menerangi jalan-jalan alternatif yang selama ini tak terlihat.

Salam perubahan!