“Anak muda sekarang kan jiwanya pembrontak. Maunya, ada saling pengertian. Makanya guru dan ortu yang sok marah-marah, dah gak jamannya lagi. Maunya, guru dan ortu yang bisa jadi temen yang ngertiin kita…”
Supri, pelajar SMU
Ini sebuah langkah berani. Pada 11 September 2007 lalu, para pelajar SMU diajak untuk belajar tentang demokrasi dengan cara yang berbeda dibandingkan cara belajar di sekolah. Acaranya selama satu hari penuh, melibatkan 24 pelajar dari SMU-SMU di Jakarta Selatan (Lab School Kebayoran, SMUN 70, SMUN 6, SMUN 60, dan SMUN 34) yang difasilitasi oleh guru-guru alumni TOT Apresiasi Bernegara di Mega Mendung beberapa bulan yang lalu.
Acara yang bertema “Be Enganged and Make Democracy Works” dan diselenggarakan di Ruang Audio Visual SMUN 70 ini memang aksi lanjutan dari komitmen CIVED untuk mendukung peningkatan apresiasi bernegara di kalangan siswa SMU. Juga, memberi ruang kepada para alumni pelatihan TOT Apresiasi Bernegara untuk mempraktekan keterampilan memfasilitasi dan menularkan virus-virus perubahan kepada para murid.
“Belajarlah dengan empat pilar UNESCO. Yakni, learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to living together,”begitu kata Pak Asikin, Kepala Sekolah SMUN 70 ketika membuka acara. Belajar untuk tahu, belajar untuk melakukan, belajar untuk menjadi, dan belajar untuk hidup bersama. Wah, ini pendekatan yang bagus sekali. Kita tidak cuma belajar untuk tahu, tapi juga mempraktekan pengetahuan, mengejar impian, dan hidup selaras.
Bu Nur, guru PKN di Lab School Kebayoran, memfasilitasi perkenalan dengan metode mandala diri. Metode penggalian persepsi yang diambil dari filsafat Hindu-India ini digunakan untuk membuka diri masing-masing perserta dan mencairkan kekakuan di antara para peserta yang baru sekali ini bertemu.
Ada tiga pertanyaan yang diajukan Bu Nur. Pertama, siapa kamu? Kedua, apa pengalamanmu yang paling berkesan? ketiga, kamu ingin dikenang sebagai apa? Ketiga pertanyaan itu harus dijawab dalam bentuk gambar atau simbol. Kemudian, masing-masing peserta menjelaskan makna gambar-gambar yang ada di mandala dirinya pada peserta lain. Ini cara belajar bersama. Juga, efektif untuk mencairkan kekakuan. Gaya teman-temanmu dari SMUN 6 misalnya, yang spontan khas anak gaul membuat suasana segar dan gembira tercipta di pagi hari itu.
Usai saling menjelaskan, Bu Nur meminta teman-teman untuk membentuk kelompok berdasarkan nomor yang tertulis di balik kertas mandala diri. Suasana langsung riuh. Semuanya berteriak-terik. “satu…satu…sini ngumpul satu…”, ” yang dua, yang dua, di mana dua..”, “tiga…tiga…”, “empat mana empat”, “lima sini dong…”. Begitu kelompok terbentuk, anggota masing-masing kelompok lima orang berasal dari lima SMU yang berbeda, teman-temanmu langsung bekerja sama dengan aktif. Mereka membuat nama kelompok dan yel-yel yang diperagakan bersama-sama. Suasana gembira langsung pecah, keakraban tercipta dengan cepat, dan tak terlihat ada yang mendominasi. Semua sepakat belajar demokrasi dengan cara gembira dan pikiran positif.
Suasana belajar telah terbangun. Giliran Bu Tini, guru PKN di SMUN 60, memfasilitasi Sesi Persepsi Demokrasi. Sesi ini dipandang penting karena dapat mengetahui pikiran-pikiran anak muda tentang demokrasi. Bu Tini yang menggunakan metode World Café memulai sesi dengan meminta setiap kelompok pindah ke meja yang telah disiapkan. Setiap kelompok diminta untuk mendiskusikan persepsi demokrasi setiap anggota kelompok. Kemudian, dirumuskan menjadi persepsi kelompok yang disajikan dalam bentuk gambar. Keakraban yang tercipta tidak basa-basi. Itu terlihat dari proses diskusi kelompok yang terjadi. Para peserta aktif berdiskusi dan menggambar, tanpa saling mendominasi. Setiap anggota kelompok menghargai dan menyimak pendapat orang lain. Semuanya bersikap apresiatif.
Dalam presentasi hasil kerja kelompok, kelompok FREE yang beranggotakan Adis, Citra, Ega, dan Hadian menggambar bola dunia dan timbangan. Menurut persepsi kelompok ini, demokrasi adalah keadilan untuk semua warga dunia.
Kelompok AWAN lain lagi. Supri, Lala, Adirina, Rila, dan Dinni menggambar gedung DPR/MPR dan orang-orang yang sedang berdemonstrasi. Menurut kelompok ini, demokrasi adalah janji. Ketika wakil rakyat tidak penuhi janji, ya harus ditagih dengan cara demonstrasi.
“Emang, demokrasi itu mesti demo?” tanya Zizie dari kelompok KIAMAT.
“Demokrasi menuntut rakyat aktif. Kalau janji tidak dipenuhi ya tagih lewat demo dong. Habis mau pake cara apa,” kata Supri seraya balik bertanya.
Demokrasi menurut kelompok JAMBORE (Tiara, Dinda, Ucup, Ninis, Bisma) diwujudkan dalam gambar suasana tempat pemungutan suara (TPS), sidang DPR, dan bendera merah putih. Untuk Indonesia, menurut kelompok ini, demokrasi berarti pemilu dan wakil rakyat terpilih bersidang untuk memikirkan perbaikan nasib rakyat yang diwakili.
“Menurut kelompok kamu apa sistim demokrasi di Indonesia?” tanya Citra dari kelompok FREE
“Sistim demokrasinya bebas aktif dong,”kata wakil kelompok JAMBORE.
“Bebas aktif itu asas politik kita, sistim demokrasi kita ya demokrasi Pancasila,”kata Supri angkat bicara
Demokrasi di mata anggota kelompok KIAMAT (Inta, Zizie, Siskha, Salaman, dan Darang) digambarkan dalam banyak simbol, yakni gedung DPR (artinya aspirasi rakyat), TPS (pemilu), orang bermusyawarah (mengambil keputusan partisipatif), gedung kejaksaan (keadilan), dan gambar tikus diberi garis silang (demokrasi anti korupsi).
“Apa hubungannya demokrasi dan korupsi?” tanya Supri.
“Zaman Suharto, demokrasi nggak jalan makanya banyak korupsi. Jadi, kalau demokrasi jalan pasti nggak ada korupsi.”
Kelompok OKE (Imam, Gerarld, Bagus, Isti, dan Dea) menggambar suasana kampanye, pemilu, dan sidang MPR. Dalam penjelasan mereka, gambar-gambar ini berarti sistem pemerintahan di Indonesia dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sedangkan gambar masjid dan gereja menyimbolkan kebebasan beragama. Gambar gedung kejaksaan dan timbangan berarti hukum dan keadilan.
“Demokrasi itu dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat yang bebas dan adil tapi taat hukum.”
Setelah selesai presentasi semua, Bu Tini mengajak peserta menyimpulkan ciri-ciri demokrasi. Jawaban peserta,
Ada banyak orang
Ada kebebasan
Ada perbedaan
Tapi taat hukum
Di Indonesia berazas Pancasila
Ada tempat dan cara salurkan aspirasi
Ada uang untuk mendukung demokrasi jalan
Sifat jurdil
Penggiat PENALAHATI, Doni A. Baruno yang melakukan technical assistant acara tersebut, mewawancarai beberapa peserta saat istirahat siang. Menurut Zizie, cara belajar seperti ini sangat menarik sekali. “Di sekolah ada pelajaran PKN, tapi kok gak bisa se-asyik ini ya… Aku mau ikutan lagi.”
Senada dengan Zizie, Ahadian melihat pelajaran PKN di sekolah sekarang ini “garing” banget. “Masak lebih susah dari pelajaran eksak? Jawabannya harus sama titik komanya. Aduh, kapan sih kurikulum nggak berubah-ubah lagi?”kata Ahadian yang akan sangat senang sekali jika guru-guru di sekolahnya mengajar dengan cara yang kreatif seperti dalam pertemuan ini.
Supri, sang bintang pelatihan yang rajin membaca berita-berita di rubrik Politik harian The Jakarta Post sangat sepakat dengan cara belajar seperti ini. “Minat teman-teman memang perlu dibangkitkan untuk belajar hal-hal beginian. Caranya, ya seperti tadi, belajar kelompok yang fun. Kan, asyik jadinya, ada sharing, lagian rasanya ringan tuh ngomongin pelajaran yang kita anggap garing selama ini.” Lebih jauh Supri mengatakan, “Anak muda sekarang kan jwanya pemberontak. Maunya, ada saling pengertian. Makanya guru dan ortu yang sok marah-marah dah nggak jamannya lagi. Maunya, guru dan ortu yang bisa jadi temen yang ngertiin kita.”
Istirahat usai sudah, Bu Nur berduet dengan Bu Tini memfasilitasi Sesi Diskusi Materi. Sebelumnya, untuk menaikkan semangat dan membangunkan sel-sel otak, Bu Nur terlebih dahulu memberikan energizer berhitung “1, 2, 3, eo”. Suasana segar langsung merebak begitu tawa meledak karena ada peserta yang salah menghitung atau menyebut. Semangat untuk menyelesaikan hitungan membuat para peserta menjadi segar kembali.
Sesi Diskusi Materi dibuka dengan penawaran pasar topik. Ada lima topik: “Hak dan Kewajiban Negara”, “HAM”, “Heterogenitas”, “Gejolak Konflik”, dan “Prinsip-Prinsip Voluntir”. Setiap kelompok dipersilakan untuk memilih satu topik untuk dijadikan tema diskusi kelompok dengan bantuan bahan bacaan yang telah dibagikan. Fasilitator juga meminta setiap kelompok menampilkan hasil diskusi kelompok dengan cara yang mengesankan.
Hasilnya memang tidak disangka-sangka. Setiap kelompok coba mempresentasikan hasil belajar mereka dengan cara yang menarik dan kreatif. Kelompok FREE, misalnya, mengemas hasil belajar kelompok dalam acara talkshow bertajuk Freetalk. Ibu Nur diminta sebagai bintang tamu Freetalk, yang menjawab pertanyaan-pertanyaan anggota kelompok yang bertindak sebagai host acara. Kelompok lainnya, AWAN, yang memilih topik Heterogenitas, menyampaikan hasil diskusi dalam bentuk interview antar anggota kelompok. Kemudian dibantu fasilitator Pak Harso (guru PKN SMUN 34), para peserta bermain puzzle potongan kata-kata. Hasilnya adalah serangkai kalimat berbunyi: “Tebar Cinta Antar Sesama Etnik Dan Prilaku Santun Kunci Komunikasi Multietnik”. Kelompok ini kemudian meminta seluruh peserta mengambar sebuah poster yang bisa menjelaskan apa itu heterogenitas dalam masyarakat.
Tak terasa, waktu berlalu dengan cepat. Acara masuk pada sesi terakhir. Untuk terus menjaga semangat agar tetap tingi, Bu Nur dan Bu Tini secara bergantian membawakan energizer dan permainan-permainan kecil yang mengantarkan para peserta ke Sesi Evaluasi.
Cara evaluasinya tidak biasa-biasa. Fasiltiator meminta peserta membuat evaluasi dalam bentuk Pensi yang menggambarkan kesan mereka atas pelatihan ini. Kelompok AWAN menampilkan monolog Supri. “…senang berbagi pengalaman dengan kakak-kakak karena gue masih kelas 10…semoga gue ikut lagi tahun depan…acara ini jangan sampek ilang…acara ini bagus banget…” usai Supri bermonolog-ria, rekan-rekan satu kelompok langsung bersama-sama menguncapkan dengan lantang, “Kami kelompok Awan, kami siap menantang untuk menang!”
Kelompok JAMBORE sederhana saja. Bersama-sama mereka berteriak, “Luar biasa!!”. Sedangkan kelompok FREE secara bersama-sama mengucapkan, “Acara ini bagus, terima kasih berbagi ilmu, belajar bersama.” Lalu, mereka meneriakkan yel-yel kelompok. Berikutnya, Zizie dari kelompok KIAMAT bergaya centil mengucap, “Jangan hanya sampai disni dong…Ayo, lakukan sesuatu!”
Sebagai penutup, Kelompok OKE membaca puisi bersama. Begini puisinya: //Kamu sangat berarti/Istimewa di hati/Slamanya rasa ini/Jika tua nanti kita/Tlah hidup masing-masing/Ingatlah hari ini..//
Benar-benar metode evaluasi yang istimewa.
“Acara ini sangat bagus. Harapannya, tahun depan dapat dilangsungkan lagi dengan peserta yang lebih luas,”kata seorang pengamat yang merupakan guru PKN dari Lab School Kebayoran. Katanya pada peserta, “Kalian beruntung dapatkan kesempatan ini. Tularkan virus-virus perubahan positif kepada rekan-rekanmu.”
Ya, itu yang memang dimaui penyelenggara. Terjadi penularan virus-virus perubahan positif ke anak-anak bangsa, calon pemimpin negeri tercinta ini. Dari anak-anak muda inilah, masa depan negeri dapat kita titipkan. Itu yang diingatkan berkali-kali oleh Soekarno, proklamator negara ini. (DB/penalahati)