ToF Lab.

February 17, 2008

Penala News:

PENALAHATI dan Fakultas Kesehatan MasyarakatUniversitas Diponegoro (FKM-UNDIP), Semarang, sekarang ini menjajaki program kerjasama pembangunan Health Reform Initiatives (HRI) dan Laboratorium Teknologi Fasilitasi (ToF Lab.). HRI dan ToF Lab lahir sebagai bagian dari komitmen untuk “menyehatkan nusantara”. Tunggu berita selanjutnya.


It’s Penala’s Way!

February 17, 2008

Bagi kami di PENALAHATI, fasilitasi adalah seni memandu pertemuan atau The Evolving Facilitation (TEF). Ini satu pendekatan fasilitasi yang selalu berevolusi membangun diri berbasis konteks. Basic-nya tetap menggunakan ilmu-ilmu fasilitasi, hanya saja dengan bentuk pengembangan yang lebih spesifik, seperti fasilitasi wirausaha, fasilitasi CSR, fasilitasi keuangan, fasilitasi pengajaran (guru), atau fasilitasi perencanaan DTPS-KIBBLA yang dilakukan oleh Depkes dan didukung HSP-USAID.

Lokalatih Fasilitator Nasional DTPS-KIBBLA

TEF adalah sebuah pendekatan fasilitasi yang bersifat menyeluruh, bukan saja memastikan penghargaan pada nilai-nilai partisipasi tetapi juga mendorong peserta untuk mendapatkan gambaran peran mereka dalam sistem sosial dan ekologi. Sehingga, mereka dapat melihat bahwa apapun yang mereka lakukan akan mempengaruhi berbagai sistem yang lainnya dan akan menggerakkan perubahan di berbagai lingkaran sistem yang terkait.

Dalam fasilitasi Lokalatih Fasilitator Nasional Perencanaan DTPS-KIBBLA di Hotel Horison, Bekasi, pada 11-15 Februari lalu, PENALAHATI berkesempatan mempraktekan TEF dengan cara berbeda. Tidak di atas panggung, melainkan di “belakang punggung” para fasilitator utama Depkes. Kami melakukan coaching pada fasilitator-fasilitator utama Depkes yang telah kami latih di Karawaci, bulan lalu, untuk menyelenggarakan pelatihan fasilitasi DTPS bagi 66 fasilitator asal Sumatera Utara, Jawa Timur, Jawa Barat, Papua, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, dan Aceh.

Pendekatan TEF menjadikan kami mampu melakukan fasilitasi secara bertingkat dengan lingkar peserta yang berbeda dalam tiga kelas. Untuk itu, PENALAHATI full team: enam fasilitator, satu penulis dan media planner, tiga training crew, satu orang pemusik. Suasana pertemuan pun menjadi sangat berbeda dan sangat dinamis. Para peserta mengakui, pertemuan ini tidak hanya sangat menggembirakan tapi juga mencerahkan mereka. Mereka kini memahami pentingnya untuk mengelola pertemuan secara baik. Beberapa teman mengundang kami untuk datang ke tempat mereka, ada lagi bahkan yang sengaja bertandang ke studio kami di Bogor untuk menikmati udara sejuk pinggir hutan.

Ini pengalaman yang menarik bagi kami. Bahwa proses fasilitasi yang dilakukan secara bergrilya dapat berjalan dengan sangat efektif: proses pertemuan dinamis, semua orang bahagia, dan tidak ada yang harus “jatuh muka”. Ini model fasilitasi bayangan, “tak terlihat tapi terasakan kehadirannya”. Sehingga, mereka yang tidak mengikuti secara penuh tidak akan menyadari keberadaan PENALAHATI.

The Evolving Facilitation, it’s Penala’s way!

(diq)


Purbalingga Urai Kemacetan

February 8, 2008

Purbalingga terkenal sebagai tempat produksi knalpot lokal yang mumpuni. Saking besarnya harapan pada wilayah usaha ini, pemda sampai membangunkan patung pengrajin knalpot berbahan tembaga di tengah-tengah perempatan jalan kota. Lebih besar ketimbang patung panglima besar Soedirman. Pengrajin knalpot yang berjumlah ratusan bengkel dan melibatkan ribuan orang itu digantungi harapan yang tinggi.

Tapi, situasinya sekarang menjadi berbeda. Para pengrajin tidak merasa bangga akan patung itu. Mereka saat ini justru berada di zona panik karena berbagai perlambatan dan ketidaknyamanan persaingan harga di antara mereka. Dari persaingan harga, sistem sales tertutup (hingga informasi pasar tidak pernah sampai ke pengrajin), tidak adanya standarisasi harga dan kualitas, hingga sepinya pasar otomotif sekarang ini membuat industri knalpot di Purbalingga mati suri, bahkan kembang kempis mencoba bertahan hidup.

Selama dua hari di awal bulan februari (4-5/2), tim PENALAHATI: Doni, Ibe, dan Dicky berdialog dengan para wirausahawan dan pengerajin yang berusia muda. Kami mencoba menawarkan pendekatan apresiatif dan cara berfikir alternatif. Maksudnya, tidak berbasis pada persoalan yang ada melainkan lebih pada pengalaman terbaik dan kekuatan visi setiap orang.

Jadilah ide-ide menarik lahir dari dialong dan sharing di tiap sesi. Para peserta melihat, standarisasi mutu dan harga sudah jadi kebutuhan. Selain itu, akses informasi pada pasar, strategi pemasaran yang lebih baik (branding, promosi, iklan, layanan purna jual), hingga diversifikasi usaha menjadi sesuatu yang penting.

Lebih menarik lagi, ketika peserta diajak untuk menengok keahlian utama mereka dalam industri knalpot dan kemudian membangun mimpi bersumber dari keahlian masing-masing itu, mereka memunculkan gagasan usaha: pabrik alat masak berlapis teflon, produk knalpot ramah lingkungan, pabrik mesin pertanian sederhana, pabrik knalpot terpadu, bahkan kelompok usaha penyedia drum bekas untuk kebutuhan bahan baku.

Pelatihan dua hari ini memang tidak akan mengubah keadaan secara langsung. Tapi, paling tidak, menghadirkan semangat baru pada para peserta. Mereka mengakui, pelatihan ini, selain menambah wawasan, juga memberikan semangat untuk selalu mencari alternatif. Dulu, sebelum menjadi pengrajin knalpot, mereka sesungguhnya adalah para pengrajin kompor minyak. Tapi, karena semakin banyak orang pindah ke bahan bakar gas, mereka pun beralih profesi menjadi pengrajin knalpot. Keahlian terutama mereka ada pada kemampuan membentuk besi, alumunium, dan benda-benda keras untuk menjadi benda yang fungsional dan punya nilai ekonomi. Dengan bertumpu pada keahlian itu, sesungguhnya banyak pintu peluang yang dapat mereka hasilkan. Dan, perubahan sesungguhnya bukan hal baru untuk para pengrajin knalpot purbalingga, pun ingin direncanakan lebih baik. Pelatihan dua hari ini memang tak banyak mengubah keadaan, tapi — paling tidak — menerangi jalan yang harus dilalui dan mengurai kemacetan yang terjadi. (diq)


Lampung Melesat!

February 8, 2008

“Radikal sejati membiayai sendiri revolusinya.”

-FastCompany-

Kota Bandar Lampung terlihat mengkilat. Kesejahteraan seolah hampir menjelang. Jalan-jalan besar, lalu lintas lancar, parkir rapi, balihoo besar dan papan reklame warna-warni, lalu lintas lancar, parkir rapi, pertokoan dan kaki lima berjejer dengan tatanan apik. Sudah begitu, terlihat para pengusaha kota itu memikirkan logo, warna, tagline, arsitektur, dan desain secara serius. Setelah hampir tiga tahun tidak bertandang ke tempat ini, para penggiat di PENALAHATI mengakui kota ini mengalami kemajuan yang pesat.

Lantas, milik siapa kemajuan? Anehnya, tidak terlampau jelas. Para petani, aktivitis, LSM, pemerintah daerah, dan masyarakat masih kesulitan untuk keluar dari problem klasik produksi-pemasaran. Setelah hak atas penggunaan lahan berhasil, setelah pendampingan berjalan baik, setelah rakyat mampu memproduksi, mereka kesulitan untuk mengakses pasar. Sementara, upaya-upaya membangun konsep hidup subsistensi tak juga berhasil. Cerita hidup orang Baduy semakin menjadi satu-satunya cerita subsistensi di tanah Nusantara ini. Terjadi kemajuan di depan mereka, uang lalu lalang di sekeliling mereka, tapi mereka tidak menjadi bagian dari padanya.

Lantas bagaimana keluar dari situasi ini? Itu yang dipikirkan, dibicarakan, dipelajari dan dilatih oleh PENALA dan Keluarga Pecinta Alam (Watala) Bandar Lampung. selama satu setengah hari, kami berdiskusi dan menginisiasi gagasan sekolah entrepreneur di Bandar Lampung. Asumsinya sederhana saja, rakyat tidak mampu mengakses karena memang percepatan dunia bisnis sekarang ini sangatlah tinggi. Keaktifan, semangat pantang menyerah, uji coba terus menerus, hingga akses informasi dan finansial haruslah mumpuni. Ini bukan cuma sekadar membangun usaha sendiri, tapi membangun usaha sambil menghadapi pertarungan global. Peningkatan kapasitas kewirausahaan jelas dibutuhkan. Juga, penguatan sistem kerja berjaringan dalam mengelola pengetahuan dan pasar.

Lebih jauh dari itu, pelahiran banyak entrepreneur sangat baik untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran. Satu usaha jelas akan merekrut beberapa tenaga kerja dan menggerakan perekonomian ikutan. Hitungnya, agar kita keluar dari kemiskinan dan pengguran, paling tidak kita memiliki 2% dari jumlah penduduk. Indonesia sekarang ini cuma punya sekitar 0,18 wirausahawan atau hanya sekitar 400.000, masih dibutuhkan lebih dari enam juta wirausahawan lagi. Dengan sekolah entrepreneur, diharapkan akan lahir wirausahawan-wirausahawan baru yang cakap, tangguh, dan berfikir beda, yang akan mendorong perubahan sosial ke arah yang lebih baik bagi masyarakat Lampung. Sekolah itu bisa dikembangkan ke mana-mana: pembangunan jaringan pengetahuan dan pemasaran bersama-sama, pusat informasi, pusat pelatihan, konsultasi, hingga terbayangkan sebagai sebuah mall yang menyediakan segala sesuatu, barang dan jasa, untuk kebutuhan para entrepreneur.

Lesat gerak WATALA. Sehari setelah pelatihan, teman-teman di Lampung menelepon tim PENALA yang sudah sampai di Bogor, membuka penawaran kemungkinan membuat TOT Fasilitator/Pengajar Sekolah Entrepreneur. Pesertanya dari berbagai kalangan: pengusaha, pemerintah daerah, aktivisi LSM, petani, dll. Para peserta ini yang diharapkan untuk menyebarkan gagasan pembangunan sekolah-sekolah entrepreneur di lingkungan kerja masing-masing, atau bahkan menyebar ke provinsi-provinsi lain di Sumatra. Harapannya, gagasan sekolah wirausaha ini berkembang secara kreatif dan terbangun di mana-mana. Akhir Maret 2008 ini akan jadi langkah pertamanya.

Memang, masih banyak proses yang harus dilalui jika ingin mengeluarkan anak-anak negeri ini dari kemiskinan dan pengangguran. Tapi, dengan cara-cara kreatif dan penuh kegairahan, proses itu tidak menjadi sesuatu yang membosankan, melainkan sangat indah dan terus menerus memberikan energi penciptaan dan pengubahan dalam diri kita. Sesungguhnya, sekecil apapun yang kita lakukan, akan berpengaruh pada sistem sosial yang ada dan akan memberikan umpan balik kepada kita dalam bentuk-bentuk yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Lampung Entrepreneur School (yang juga akan mengembangkan gagasan-gagasan social-preneurship dan eco-preneurship) adalah sebuah tindakan untuk menggerakkan sistem sosial ke arah yang lebih terencana dengan baik. Proses belajarnya akan selalu merespon setiap umpan balik yang datang, menganalisisnya, dan membuat rencana baru yang strategik. Dan, PENALAHATI percaya, Lampung akan bergerak dengan pesat, yang lagi-lagi, akan mengagetkan Anda jika tiga tahun lagi bertandang ke tempat ini. (diq)


Sukabumi Bergerak!

February 2, 2008

Bermula dari percakapan di Pekalongan, Asep, guru dan mantan kepala desa, semakin bersemangat membangun mimpi tentang desanya di Buniwangi, Sukabumi. Selama ini Asep bersama kelompoknya telah membangun rancangan pengelolaan ekowisata berbasis kampung. Mereka bahkan secara gotong royong (sekitar 17 anggota), petani warga setempat, membersihkan lintasan-lintasan yang digunakan untuk trek-trek belajar wisatawan yang datang ke tempat itu, membangun demplot-demplot tanaman obat, bahkan merevitalisasi kebudayaan. Mereka juga membendung sungai agar para wisatawan dapat bermain rakit sambil makan siang di sana.

Gagasan ini muncul sebagai sebuah perlawanan akan situasi wisata pantai di Pelabuhan Ratu. Sekaligus sebagai peluang untuk mendapatkan pemasukan dengan menawarkan sesuatu yang unik dan berakar pada tradisi. Untuk memulainya, Asep dkk membangun strategi kemitraan dengan membangun perkumpulan yang disebut Sahabat Buniwangi (PENALAHATI didaftarkan di dalamnya) yang berperan untuk mendukung pengembangan pengetahuan dan jaringan. Dan, sebagai langkah awal, mereka telah me-launching program Ecopreneur School yang mendapatkan dukungan dari Bupati. Bupati, yang hadir dalam acara launching program tersebut pada 20 Januari 2007 lalu, meminta agar proses selanjutnya segera dilakukan.

Langkah pertama dan penting untuk mewujudkan program sekolah wirausaha berbasis lingkungan itu adalah dengan membangun silabus atau kurikulum pembelajaran. PENALAHATI diminta untuk memfasilitasi kegiatan tersebut. Tentu, ini sangat menggembirakan dan sebuah penghormatan untuk kami, para penggiat di PENALAHATI, khususnya Doni yang sedari awal mengawal prosesnya.

Dengan membangun kurikulum pembelajaran, Sukabumi melangkah lebih maju dalam merespon gagasan tentang sekolah wirausaha kampung yang dikembangkan PENALAHATI di Bogor, Semarang, Purbalingga, Pekalongan, Garut, dan Lampung. Ini akan semakin memperkuat perwujudan mimpi untuk melahirkan satu juta entrepreneur muda (dalam lima tahun) yang cakap dan berbasis pada pembangunan kesejahteraan masyarakat.

Selamat untuk Kang Asep dan kawan-kawan di Buniwangi! (diq)


Semangat Pencerahan di Depkes

February 2, 2008

ju.jpg

Sejak Desember 2007 hingga Maret 2008, PENALAHATI dikontrak Health Services Program (HSP)-USAID untuk mendukung program perencanaan kesehatan ibu, bayi baru lahir, dan anak (disingkat KIBBLA) milik Departemen Kesehatan. Kegiatan yang, awalnya, akan diseleggarakan di tiga provinsi ini (Sumatera Utara, Jawa Timur, dan Jawa Barat) juga menyertakan tim dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) sebagai narasumber ahli. Program ini dianggap sangat penting karena bagian dari upaya menurunkan kematian ibu melahirkan, bayi baru lahir dan anak. Di mana, Indonesia menduduki tempat tertinggi di Asia Tenggara. Paling tidak, dalam setahun ada 307 ibu meninggal dunia saat melahirkan. Angka kematian bayi juga sangat memprihatinkan. Hampir setiap jam ada tiga orang bayi meninggal, baik saat dilahirkan maupun karena sakit dan kecelakaan.

Pencairan suasana oleh Ogun

Tujuannya sangat mulia. Tapi, beberapa kerumitan dalam cara bekerja sedikit mengganggu memang, meski kemudian kami dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan situasi yang ada dan memandangnya sebagai proses belajar dan membangun relasi kerja dalam durasi waktu yang cukup lama, 3 bulan. Biasanya, PENALAHATI bekerja tak lebih dari dua minggu. Tentu, perlu penyesuaian-penyesuaian, begitu hemat kami.

Kami mencoba untuk memfokuskan peran kami. Kami diminta untuk melatih para fasilitator perencanaan DTPS-KIBBLA (begitu program diberi nama) dan mendampingi mereka saat menghantarkan sesi-sesi perencanaan di 10 kabupaten di 3 provinsi. Proses pelatihannya bertingkat, kami terlebih dulu melatih Fasilitator Utama dari Departemen Kesehatan. Selanjutnya, bersama dengan Fasilitator Utama, tim PENALAHATI akan melatih Fasilitator Provinsi yang akan melatih fasilitator kabupaten (dinkes) menjadi fasilitator perencanaan DTPS. Kemudian, kami akan mendampingi tim fasilitator provinsi dan kabupaten/kota memfasilitasi lokakarya perencanaan DTPS-KIBBLA di 10 kabupaten. Kelihatan rigid dan rumit, tapi kami telah melewati tahapan pelatihan fasilitasi untuk Fasilitator Utama pada 15-18 Januari lalu. Pada 11 Feberuari ini kami akan masuk tahap pelatihan fasilitator provinsi. Pelatihan akan diselenggarakan selama 5 hari dengan jumlah peserta sekitar 60 orang, ditambah observer dan peninjau: 30 orang. Maklum, acaranya ini, konon, akan dihadiri para petinggi dari Depkes, WHO, UNICEF, dan banyak lagi lainnya.

Itu tentu menggembirakan. Sekaligus tantangan untuk PENALAHATI mendorong perubahan cara berdialog di antara para peserta. Ini sebuah peluang bagi kami untuk menawarkan pendekatan appreciative inquiry dan System Thinking melalui perencanaan sesi-sesi awal yang akan menggali pengalaman dan mimpi terbaik para peserta berkaitan dengan masa depan kesehatan ibu dan anak.

gambar.jpgsetiawati.jpg

Ada sebuah tawaran cara berfikir baru kepada para peserta untuk melihat realita sosial secara lebih apresiatif. Tidak melulu melihat masalah atau persoalan sebagai landasan berfikir, tapi justru menggali kekuatan-kekuatan yang membuat kita tetap bertahan sampai sekarang ini. Dengan kekuatan-kekuatan itulah kita akan memvisuasliasikan masa depan. Mencanangkannya, memberi tema, membicarakannya, dan mengupayakannya agar terwujud.

Pada Lokalatih Fasilitator Utama, pendekatan ini diterima peserta dengan baik, bahkan terjadi kolaborasi yang unik. Tetap menggunakan pendekatan awal, namun dengan ruh apresiatif dan dinamis dalam memahami realita dan mencari solusi-solusi dengan terlebih dahulu memancang atau memvisualisasikan kehendak akan masa depan. Kami menggunakan berbagai dekorasi dan alat bantu. Gambar alur karya ilustrator PENALAHATI Dian Bondan langsung menyita perhatian para peserta. Permainan yang dihantarkan Muhammad “Ogun” Gunawan juga diakui sangat menyegarkan dan memberikan banyak inspirasi. Terutama mereka mengakui peranan lead trainner Jo (Djuhendi Tadjudin) dan Ibe (Dyah Indrapati-Maro) yang mampu mengelola dinamika kelas dengan penuh semangat. Para peserta ini (11 orang) mengakui, pelatihan ini tidak saja menguatkan kemampuan fasilitasi mereka, tapi juga membuat mereka tak sabar untuk membuat perubahan. Mereka mengaku, mendapatkan semangat pencerahan.

Kami senang karena ada semangat baru yang lahir, sehingga menanti pelatihan selanjutnya dengan berdebar-debar. Entah, pengalaman apa lagi yang akan kami dapatkan. (diq)


Kisah dari Pengalengan

February 2, 2008

Beberapa waktu lalu, kami bertemu secara tidak sengaja dengan Nana Mulyana. Kawan lawas, dosen yang gemar bertandang ke desa-desa. Ia membawa cerita tentang perubahan yang terjadi sebuah kampung kecil di Pengalengan, Jawa Barat. Nana dan dua kawan dosen lainnya memutuskan untuk tinggal di sebuah kampung yang sedang berkonflik dengan PDAM karena kotoran sapi ternak petani mencemari sumber mata air yang menjadi sumber air bersih yang dikelola PDAM.

Solusinya, sungguh menarik. Kotoran sapi (perah) tersebut diolah menjadi biogas dengan cara menampung kotoran dan menyalurkan gas yang dihasilkan dengan selang-selang pelastik ke rumah-rumah tangga. “Dengan 3 ekor sapi, ada 40 rumah yang dapat memasak.” Biogas juga diolah menjadi listrik dengan memanfaatkan genset buatan China sebagai pembangkit awal. “Listrik bisa digunakan 147 rumah selama delapan jam.”

Inovasi ternyata tak berhenti. Dari kotoran sapi yang telah diperas gasnya itu, petani memanfaatkannya untuk beternak cacing. Rumah cacing sangatlah baik untuk pupuk tanaman sayur. Sedangkan cacingnya, mereka manfaatkan untuk memberi makan ikan di empang dan ternak bebek. “Bebeknya bertelur selama 352 hari selama setahun. Hampir sepanjang tahun bertelur.”

Untuk pakan sapi, rumput saja memang bisa. Tapi, inovasi yang dilakukan para petani cukup memikat. Mereka membuat pakan sapi tersebut dari ampas tahu. caranya, membuat pabrik tahu sederhana dengan tujuan utama pemanfaatan ampas tahu. Tahunya sendiri mereka pasarkan secara mandiri ke warung-warung di kampung atau dikonsumsi kelompok petani itu sendiri.

Sekarang, semuanya berkembang dengan cepat dan sistemik. Telur bebek melahirkan produk baru, telur asin yang dapat diperdagangkan. Begitu pula dengan penjualan bibit dan daging bebek. Dari biogas dan bio-listrik ada banyak kemungkinan yang bisa dilakukan petani. Ampas pengolahan biogas dan biolistrik mereka gunakan untuk pupuk yang baik bagi sayuran, tanaman hias, tanaman buah, tanaman obat, dan lain-lain. Dari pakan yang dihasilkan cacing, mereka dapat memelihara pelbagai jenis ikan di empang. Terjadi diversifikasi usaha: sebagian memelihara ikan pakan air tawar, sebagian lain mengembangkan usaha ikan hias air tawar. “Itu belum memanfaatkan susu hasil perahan. Sekarang, masih diminum saja, padahal dapat diolah menjadi keju dan yogurt.” Rencananya, kelompok petani di kampung-kampung sebelah akan mengikuti jejak ini.

Cerita di atas terjadi dalam waktu tidak sampai satu tahun! Luar biasa, karena gerakan memanfaatkan kotoran sapi tersebut tidak saja menyelesaikan konflik masyarakat dengan PDAM, malahan lebih jauh, mengatasi persoalan energi, pangan, dan ekonomi masyarakat. Tidak sampai setahun, 147 rumah tangga terselamatkan. Biaya yang dibutuhkan? “Tidak sampai 2 juta. Yang mahal, sapinya, tapi itu udah milik petani. Genset dan selang, biaya yang paling dominan. Yang lainnya bisa diupayakan sendiri,”ujar kawan kami tadi sambil tertawa.

Cerita ini begitu menyemangati kami yang berkegiatan di PENALAHATI. Bahwa, di tengah kemandegan sekarang ini, lahir cerita-cerita yang membanggakan hati. Ini semakin memperlihatkan, betapa banyak orang-orang yang terus bergerak untuk mendorong perubahan sosial, tanpa harus menggunakan dana berlebihan, atau publisitas yang berhamburan. Mereka bekerja diam-diam dengan masyarakat dan membagi pengetahuannya dengan terbuka dan enteng. Bagi mereka, jika gagasan masyarakat itu dikembangkan ditempat lain tentulah sangat baik. Pun begitu, tanpa harus dengan gembar-gembor dan ramai.

Proses pembangunan dan perubahan sosial dapat dilakukan dengan angka murah. Dibandingkan dengan uang trilyunan dollar yang dicurahkan donor, atau milyaran rupiah yang dikeluarkan korporat dalam program CSR, atau ratusan juta yang dioperasionalkan bejibun aktivis LSM, apa yang dilakukan tiga dosen ini jelas kalah gigantik. Tapi, hasilnya besar, banyak, terukur, dan berkelanjutan. Hanya dengan uang dua juta rupiah sebagai pemicu awal, gerakan perubahan yang terjadi menjalar ke segala arah dan menciptakan peluang-peluang baru. Perubahan sosial dikelola sebagai sebuah sistem organik, sistem yang hidup, yang terus berkembang sesuai kebutuhan.

Pelajaran lain yang juga kami dapatkan, bahwa sebuah proses perubahan sosial itu dapat dilakukan secara cepat asalkan kita menemukan pintu masuk yang tepat. Dalam kisah di atas, pintu masuknya adalah energi hasil pemanfaatan kotoran sapi. Kita tidak lagi bisa mengandaikan bahwa perubahan akan terjadi dalam waktu 5-10 tahun. Terlalu lama. Sulit untuk mempertahankan momentum dan mental selama ini. Perlu dipikirkan sebuah ledakan kreatifitas di awal yang mendorong terjadinya ledakan-ledakan kreatifitas lainnya. Dengan cara begitu, kita akan menemukan banyak tawaran dan banyak kemungkinan baru dalam waktu yang singkat. Bukankah semuanya telah tersedia, tinggal kita mau memulai dari mana.

Cerita ini kami bagi kemana-mana. Barangkali, bisa jadi makanan jiwa kita dan mengubah cara berfikir kita tentang sistem sosial. (diq)