Beberapa waktu lalu, kami bertemu secara tidak sengaja dengan Nana Mulyana. Kawan lawas, dosen yang gemar bertandang ke desa-desa. Ia membawa cerita tentang perubahan yang terjadi sebuah kampung kecil di Pengalengan, Jawa Barat. Nana dan dua kawan dosen lainnya memutuskan untuk tinggal di sebuah kampung yang sedang berkonflik dengan PDAM karena kotoran sapi ternak petani mencemari sumber mata air yang menjadi sumber air bersih yang dikelola PDAM.
Solusinya, sungguh menarik. Kotoran sapi (perah) tersebut diolah menjadi biogas dengan cara menampung kotoran dan menyalurkan gas yang dihasilkan dengan selang-selang pelastik ke rumah-rumah tangga. “Dengan 3 ekor sapi, ada 40 rumah yang dapat memasak.” Biogas juga diolah menjadi listrik dengan memanfaatkan genset buatan China sebagai pembangkit awal. “Listrik bisa digunakan 147 rumah selama delapan jam.”
Inovasi ternyata tak berhenti. Dari kotoran sapi yang telah diperas gasnya itu, petani memanfaatkannya untuk beternak cacing. Rumah cacing sangatlah baik untuk pupuk tanaman sayur. Sedangkan cacingnya, mereka manfaatkan untuk memberi makan ikan di empang dan ternak bebek. “Bebeknya bertelur selama 352 hari selama setahun. Hampir sepanjang tahun bertelur.”
Untuk pakan sapi, rumput saja memang bisa. Tapi, inovasi yang dilakukan para petani cukup memikat. Mereka membuat pakan sapi tersebut dari ampas tahu. caranya, membuat pabrik tahu sederhana dengan tujuan utama pemanfaatan ampas tahu. Tahunya sendiri mereka pasarkan secara mandiri ke warung-warung di kampung atau dikonsumsi kelompok petani itu sendiri.
Sekarang, semuanya berkembang dengan cepat dan sistemik. Telur bebek melahirkan produk baru, telur asin yang dapat diperdagangkan. Begitu pula dengan penjualan bibit dan daging bebek. Dari biogas dan bio-listrik ada banyak kemungkinan yang bisa dilakukan petani. Ampas pengolahan biogas dan biolistrik mereka gunakan untuk pupuk yang baik bagi sayuran, tanaman hias, tanaman buah, tanaman obat, dan lain-lain. Dari pakan yang dihasilkan cacing, mereka dapat memelihara pelbagai jenis ikan di empang. Terjadi diversifikasi usaha: sebagian memelihara ikan pakan air tawar, sebagian lain mengembangkan usaha ikan hias air tawar. “Itu belum memanfaatkan susu hasil perahan. Sekarang, masih diminum saja, padahal dapat diolah menjadi keju dan yogurt.” Rencananya, kelompok petani di kampung-kampung sebelah akan mengikuti jejak ini.
Cerita di atas terjadi dalam waktu tidak sampai satu tahun! Luar biasa, karena gerakan memanfaatkan kotoran sapi tersebut tidak saja menyelesaikan konflik masyarakat dengan PDAM, malahan lebih jauh, mengatasi persoalan energi, pangan, dan ekonomi masyarakat. Tidak sampai setahun, 147 rumah tangga terselamatkan. Biaya yang dibutuhkan? “Tidak sampai 2 juta. Yang mahal, sapinya, tapi itu udah milik petani. Genset dan selang, biaya yang paling dominan. Yang lainnya bisa diupayakan sendiri,”ujar kawan kami tadi sambil tertawa.
Cerita ini begitu menyemangati kami yang berkegiatan di PENALAHATI. Bahwa, di tengah kemandegan sekarang ini, lahir cerita-cerita yang membanggakan hati. Ini semakin memperlihatkan, betapa banyak orang-orang yang terus bergerak untuk mendorong perubahan sosial, tanpa harus menggunakan dana berlebihan, atau publisitas yang berhamburan. Mereka bekerja diam-diam dengan masyarakat dan membagi pengetahuannya dengan terbuka dan enteng. Bagi mereka, jika gagasan masyarakat itu dikembangkan ditempat lain tentulah sangat baik. Pun begitu, tanpa harus dengan gembar-gembor dan ramai.
Proses pembangunan dan perubahan sosial dapat dilakukan dengan angka murah. Dibandingkan dengan uang trilyunan dollar yang dicurahkan donor, atau milyaran rupiah yang dikeluarkan korporat dalam program CSR, atau ratusan juta yang dioperasionalkan bejibun aktivis LSM, apa yang dilakukan tiga dosen ini jelas kalah gigantik. Tapi, hasilnya besar, banyak, terukur, dan berkelanjutan. Hanya dengan uang dua juta rupiah sebagai pemicu awal, gerakan perubahan yang terjadi menjalar ke segala arah dan menciptakan peluang-peluang baru. Perubahan sosial dikelola sebagai sebuah sistem organik, sistem yang hidup, yang terus berkembang sesuai kebutuhan.
Pelajaran lain yang juga kami dapatkan, bahwa sebuah proses perubahan sosial itu dapat dilakukan secara cepat asalkan kita menemukan pintu masuk yang tepat. Dalam kisah di atas, pintu masuknya adalah energi hasil pemanfaatan kotoran sapi. Kita tidak lagi bisa mengandaikan bahwa perubahan akan terjadi dalam waktu 5-10 tahun. Terlalu lama. Sulit untuk mempertahankan momentum dan mental selama ini. Perlu dipikirkan sebuah ledakan kreatifitas di awal yang mendorong terjadinya ledakan-ledakan kreatifitas lainnya. Dengan cara begitu, kita akan menemukan banyak tawaran dan banyak kemungkinan baru dalam waktu yang singkat. Bukankah semuanya telah tersedia, tinggal kita mau memulai dari mana.
Cerita ini kami bagi kemana-mana. Barangkali, bisa jadi makanan jiwa kita dan mengubah cara berfikir kita tentang sistem sosial. (diq)