Apreasiasi dan Rekognisi

March 30, 2008

PENALAHATI tampil mengesankan. Bukan hendak bersombong diri, tapi paling tidak, begitu kesimpulan kami saat mencermati respon-respon dari Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten, lembaga donor, Departemen Kesehatan dan berbagai pihak yang terikut dalam Lokakarya Perencanaan Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir, dan Anak dengan pendekatan Tim Kabupaten/Kota (DTPS KIBBLA) selama seminggu terakhir ini. Anda boleh menilainya sendiri.

“Hati-hati dengan orang Siantar, dia akan lebih bisa menggetarkan hatimu, bila hatinya sudah digetarkan.” (Nur Hasrat, Siantar)

“Untuk Penalahati yang istimewa, terima kasih karena sudah menggetarkan hati kami.” (Nuraisyah azizah, Sibolga)

“Di balik semua ini adalah rekan-rekan dari Penalahati.” (Rambey, RO HSP Sumut)

“Terima kasih kepada Penalahati yang telah membuat pertemuan ini menjadi berkesan.” (Christ, Depkes, pada pidato penutupan)

“Yang membuat pertemuan DTPS menjadi berbeda, tidak membosankan, dan teman-teman jadi memahami proses perencanaan. Terima kasih Penala.”
(Lady D, pidato penutupan peserta terbaik).

“Pertemuan ini disingkat jadi 3S. Santai, Serius, dan Selesai. Penalahati dibaliknya.” (H. Shahabudin, anggota DPRD Aceh Besar).

Sistem partisipatif ini seharusnya dikembangkan bukan hanya untuk bidang kesehatan saja.” (Asmui, fasilitator Sumut, saat rehat kopi)

“Orang-orang Penala ini memang edan-edan. Orangtua dikerjain, tapi ya kok senang.” (Damayanti, Dinkesprov Jawa Timur.)

“Amazing! It’s a real workshop!” (Pamela, JSI)

“There are a lot of positive news about you.” (Mark, Abt)

“Terima kasih. Saya gak tahu bagaimana jadinya acara ini tanpa kalian.” (Lies, HSP Jakarta Office, saat bersalaman sesudah acara).

Respon-respon di atas muncul dari para peserta tim kerja (Fasilitator Utama, Fasilitator Nasional, Fasilitator Provinsi dan perwakilan lembaga donor) ketika melakukan proses lokakarya dilaksanakan selama lima hari, 24-28 Maret 2008, serempak di empat provinsi: Nangroe Aceh Darusallam (NAD), Sumatera Utara (Sumut), Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Peran PENALA, memastikan proses perencanaan DTPS KIBBLA berjalan dengan baik, partisipatif, dan mendapatkan keluaran yang optimal. Tugas PENALA adalah mendampingi dan mendorong fasilitator dan penyelenggara untuk berfikir kreatif dan inovatif. Pendekatan ini ternyata manjur. Jadilah, berbagai macam atraksi, dari ketoprakan, wayang beber, teaterikal, lagu dan musik, tari, newsletter harian, hingga pemutaran film proses pertemuan itu sendiri. Pertemuan DTPS KIBBLA tidak lagi menjadi momok seperti tahun-tahun sebelumnya, melainkan menjadi sebuah pertemuan yang mengesankan.

Persiapan tim jadi kunci utamanya. Doni sebagai libero PENALA dipercaya untuk menyusun tim kerja. Teman-teman fasilitator yang ada di jejaring empat provinsi tersebut dikontak, siap berkerja. Dicky, Joko (Pontianak), dan Hikmat diberangkatkan ke NAD merespon permintaan Depkes yang menyatakan NAD sebagai wilayah “berat”. Doni, Benito (Bali), dan Ogun berangkat ke Medan dan Brastagi untuk “mengawal” proses pertemuan tim DTPS KIBBLA Sumut Dyah, Novi, dan Noya menuju Surabaya. Di sana, mereka mendapat dukungan Ken dan kawan-kawan. Juhendi, Kacong, Aan, dan Vita ke Garut untuk wilayah Jabar.

Sebenarnya, bukan hanya peserta yang mendapat manfaat dari proses pertemuan yang diselenggarakan secara paralel ini. Penalahati juga mendapatkan manfaat yang tak terbilang. Kami belajar bekerja paralel, ‘menghidupkan’ jejaring idle, dan menyisir keraguan. Manfaat ini membuat tim PENALAHATI semakin kuat dan tajam. Setiap tim bekerja dengan memanfaatkan jejaring efektif masing-masing Kohesivitas tim sangat lekat dan mulai bergerak seperti mahluk biologis-organik. PENALAHATI sedang dalam proses berubah.

Perubahan juga menuntut konsekuensi-konsekuensi. Ketika PENALAHATI mendapatkan pujian yang begitu besarnya, sesungguhnya kami juga mendapatkan beban dua kali lipatnya. PENALAHATI bukan cuma harus membuktikan dan mempertahankan kualitas, tapi juga harus berkerja lebih keras dan lebih serius. Artinya sederhana, PENALAHATI tidak bisa lagi dipandang sebagai kerja sampingan. Ini sudah menjadi yang utama. Kebanyakan teman sepakat itu. Pun yang tidak, menepi dengan sukarela atau mengambil pilihan yang berbeda. Kerja terfokus memang sangat dibutuhkan dalam era penuh pilihan seperti sekarang ini.

Melihat manfaat yang didapatkan, sudah sepantasnyalah jika PENALAHATI yang seharusnya berterima kasih dan mengucapkan apresiasi setinggi-tingginya pada setiap orang terlibat dalam proses perencanaan DTPS KIBBLA. Merekalah yang membuat PENALAHATI tumbuh dengan cepat dan kuat. Apresiasi setinggi-tingginya kami berikan pada para peserta petemuan, penyelenggara, FU, FN, FP, kepada teman-teman musisi, game masters, dan training crew di Surabaya, Bandung, Banda Aceh dan Medan. Terima kasih karena semua pelajaran dan pengalaman yang di-sharing kepada kami. Terima kasih.. (diq)

P.s.: Sampai jumpa di lain kesempatan pada waktu mendatang. Jabat erat!


Menziarahi masa lalu

March 26, 2008

“Hanya teman sejati yang akan memberitahu

ada kotoran di wajahmu.”

Pribahasa Sisilia

Perjalanan ke Aceh membuat saya seperti dilontarkan ke masa lalu. Bukan soal tsunami yang mengharu-biru, melainkan tentang masa-masa ketika saya masih bekerja sebagai jurnalis dan melakukan liputan di Aceh pada tahun 2000, masa ketika isu referendum di Aceh dulu. Saat saya mencoba melakukan ide “gila”: mempertemukan Panglima GAM Tengku Syafei dan artis asal Aceh Cut Keke. Ide tersebut berhasil, tapi bukan itu yang ingin diceritakan dalam tulisan ini.

Dalam proses reportase itu, saya berkenalan dan cepat menjadi akrab dengan beberapa aktivis mahasiswa dari Universitas Syah Kuala. Waktu itu, kami banyak berbincang-bincang tentang kondisi Aceh dan kehendak untuk memajukan rakyat Aceh. Juga, saya akrab dengan petunjuk jalan yang berhasil mempertemukan saya dan Cut Keke dengan Tengku. Kami saling berbagi cerita, semangat, dan pengalaman hanya dalam waktu tak lebih dari seminggu. Saya juga berkenalan dengan seorang penyair Aceh dan menjadi dekat hanya waktu tiga jam. Entah kenapa. Barangkali, ketegangan situasi akibat konflik bersenjata GAM dengan TNI menjadikan kami serasa saudara.

Waktu berlalu dengan cepat, tapi saya tak pernah melupakan wajah-wajah itu. Ketika gelombang tsunami, saya di Jakarta dan tak lagi menjadi jurnalis, wajah-wajah itu kembali mengemuka. Saya tidak tahu bagaimana nasib mereka. Saya terus bertanya-tanya dan mencari informasi tapi tak menemukan jawaban. Meski tipis kemungkinan, saya tetap berusaha menyakinkan diri sendiri bahwa pasti saya akan bertemu lagi dengan mereka.

Dan, perjalanan ke Aceh seperti menjawab keyakinan saya itu. Tanpa diduga, saya justru bertemu dengan mereka. Ketika sedang makan di restoran hotel, seorang lelaki kurus, dengan rambut tersisir rapi, mendatangi saya dan bertanya. “Apakah saya temannya dulu di masa referendum.” Ya ampun, dia adalah Muslim, aktivis mahasiswa, yang kini telah menjadi dokter dan bekerja di HSP Aceh. Sungguh, pertemuan yang luar biasa. Dari muslim pula saya bertemu dengan lelaki gagah bertubuh tegap bernama Insari. Dialah yang mengantarkan saya untuk bertemu dengan Panglima. Kami berjabat tangan erat dan segera terlibat dalam percakapan penuh nostalgia. Keduanya kemudian menceritakan saat-saat sulit di masa tsunami kemarin. Juga, masa-masa sekarang yang juga tak kalah sulitnya meski banyak uang dan orang asing masuk ke tanah rencong ini. Kami saling berbagi cerita, dan dada ini terasa kaya.

Semalaman saya terpekur, terus menziarahi masa lalu, dan mengucap syukur. Perjalanan ke Aceh ini sungguh bermakna sekali bagi saya. Mengingatkan kembali tentang masa lalu yang penuh warna dan semakin menguatkan kembali makna perkawanan di kepala dan hati saya. Bahwa, ada yang tak lekang dihajar waktu: perkawanan yang lahir dari hati ke hati. Perkawanan yang selalu membuat saya bercermin, masa lalu sesungguhnya tak pernah hilang. Ia selalu tersimpan dalam memori dan hanya menunggu untuk dipanggil kembali. Hal itulah yang membuat terus memikirkan teman-teman lain di masa lalu. Wajah-wajah yang mengemuka tidak lagi mengiris hati, melainkan membangkitkan semangat untuk bertemu. Dada ini terasa penuh oleh harapan untuk bertemu. Tunggu saja, waktunya akan tiba… (dicky lopulalan)


Assumption? Please, Deh..

March 25, 2008

Guru fasilitasi saya, yang sudah lama tak jumpa, selalu mengingatkan: hati-hati dengan asumsi karena bisa membuat kita salah arah. Sebagai seorang fasilitator, asumsi (negatif) akan membuat kita salah dalam memaknai. Untuk menghindari asumsi dalam sebuah fasilitasi atau pelatihan, janganlah ragu untuk bertanya, begitu katanya.

Ingatan saya akan pesan sang guru ini mengemuka ketika Tim Penalahati di Aceh mendampingi fasilitator nasional dalam memfasilitasi lokakarya perencanaan DTPS KIBBLA. Sehari sebelum pelaksaan lokakarya, dalam rapat persiapan panitia, seorang pejabat Departemen Kesehatan menyatakan bahwa lokakarya ini berat terkait dengan karakter orang Aceh. Ada kemungkinan peserta menolak cara belajar dinamis yang ditawarkan PENALAHATI. Tentu saja pernyataan ini dibantah oleh teman-teman fasilitator asal Aceh. Saya juga mengatakan, terlalu dini untuk berasumsi seperti itu.

Kami kemudian sepakat untuk tidak terlalu menanggapinya dan tetap percaya penuh pada kekuatan kelompok. Dan, memang, asumsi itu tidak menjadi kenyataan. Metode-metode yang ditawarkan PENALAHATI diterima dengan baik. Para peserta yang berasal dari kalangan Dinas Kesehatan, Bappeda, anggota DPRD, dan LSM dengan senang hati berproses.

Keputusan kami untuk tidak berasumsi seperti pernyataan pejabat tersebut di atas menemukan jawaban. Proses berjalan dengan baik. Kalaupun ada kendala, tidak lantas dipandang sebagai sesuatu yang berat atau sulit. Melainkan bagian dari proses dan dinamika sebuah pertemuan. Dengan tidak berasumsi terlebih dulu, tim fasilitator justru menemukan kekuatan dan mendapatkan respon positif dari peserta.

Saya terus saja teringat pernyataan sang guru selanjutnya. Bahwa, asumsi bukan saja dapat membuat kita salah arah, melainkan juga dapat menjadi kenyataannya. “Jika kita berfikir sesuatu itu sulit, maka ia akan menjadi sulit. Jika kita berfikir masalah, maka hasilnya adalah masalah. Tapi, jika kita berfikir mudah, dengan sendirinya akan menjadi mudah. It’s all about our mind,”ujarnya waktu itu.

Perjalanan waktu memang semakin membuat saya mengerti. Bahwa asumsi yang kita pikirkan tidak hanya akan mempengaruhi diri kita sendiri tapi juga akan memancarkan gelombang energi negatif yang akan dirasakan oleh peserta pertemuan atau orang-orang di sekitar kita. Dan, itu akan melemahkan kekuatan mereka.

Ah, mendadak saya rindu sekali dengan guru saya itu. Rindu untuk bercakap-cakap di halaman belakang rumah kontrakannya sambil menatap mural wajah Che Guevara yang terpampang besar-besar di tembok pagar. Rindu untuk mendapatkan gelombang energi positif yang dipancarkannya. Rindu untuk mendengarkan celaannya ketika saya sibuk berasumsi: Assumption? Please, deh… (dicky lopulalan)


SHARING IS LOVING

March 21, 2008

“Our best thoughts come from others”

Ralph Waldo Emers

Kekuatan terbesar dalam fasilitasi adalah saling berbagi (sharing). Pengalaman dan pengetahuan. Itu yang sesungguhnya terjadi dalam setiap pertemuan multipihak. Para peserta diajak untuk saling menggali, menceritakan dan menerima pengalaman-pengalaman masa lalu mereka. Itu yang dilakukan orang dewasa. Itu yang membuat setiap orang unik dan setiap pengalaman yang dibagi punya arti yang sangat penting bagi semua orang.

Berbagi tak akan mengurangi apapun kelebihan kita. Malah sebaliknya, akan menambah pundi-pundi kebajikan kita. Dengan berbagi, kita justru mendapatkan banyak hal. Aneh memang. Tapi, begitulah kenyataannya. Berbagi membuat kita menjadi kaya karena mendapatkan banyak pengetahuan baru. Membuat kita semakin bajik memahami dan memaknai realita.

Paling tidak, itu yang terjadi pada proses Orientasi, Workshop Orientasi, dan Lokakarya DTPS KIBBLA di Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, Sumatera Utara, dan Nangroe Aceh Darusallam selama sepuluh hari terakhir ini. Semangat berbagi itu membuat peserta dari kabupaten, struktur, lingkungan dan status sosial mendapat banyak perspektif saat menganalisis situasi, masalah, prioritas masalah, solusi, target, kegiatan dan anggaran untuk memperjuangkan kesehatan ibu, bayi baru lahir dan anak balita. Hasilnya, adalah kekayaan pengalaman dan pengetahuan yang luar biasa. Ketika para pemangku kepentingan (dari dua kabupaten/kota) berkumpul dan merencanakan strategi pengurangan derajat kematian ibu dan anak, sesungguhnya mereka sedang berbagi kekuatan. Yang satu belajar tentang cara menganalisis, yang lain belajar cara menghitung. Satu memperlihatkan kasus khusus, yang lain menawarkan solusi baru. Ketika macet dengan alat bantu konvensional, ada gagasan lahir dari alat bantu yang lebih tepat. Semua saling berbagi, saling melengkapi.

Begitu pula fasilitator pertemuan yang didampingi tim PENALAHATI. Proses memandu pertemuan multipihak menjadi sebuah kesempatan untuk berbagai pengalaman, metode, teknik dan cara fasilitasi yang efektif. Pertemuan banyak fasilitator tidak lantas seperti hitungan matematika dasar: 1+1=2, melainkan menghasilkan penciptaan-penciptaan baru yang tak terhitung jumlahnya. Setiap kasus fasilitasi, menghasilkan metode yang khusus pula. Dan, kaya karena diciptakan dari hasil pergulatan para fasilitator yang kaya pengalaman. Ketika 1 + 1 fasilitator bertemu, yang tercipta bisa puluhan metode dan teknik. Kekayaan pengalaman tidak berkurang ketika dibagikan, malah justru menjadi bertambah dalam bentuk banyak pengetahuan baru.

Sungguh luar biasa memang kekuatan sharing itu. Dengan sikap yang apresiatif dan kepercayaan yang tinggi, praktek sharing mampu membuat para fasilitator keluar dari cangkang batok keterbatasan. Mereka tidak lagi menjadi katak dalam tempurung, melainkan dan melihat dunia luas dengan cara berbeda. Cara yang kuat dan bersemangat.

Pun begitu, perjalanan Tim PENALAHATI juga mengajarkan hal lainnya. Ideologi — kalau boleh disebut demikian — sharing membutuhkan totalitas, tidak bisa dikerjakan setengah-setengah atau penuh dengan akal bulus pahlawan bertopeng. Dan, itu terjadi di salah satu provinsi tempat proses workshop DTPS KIBBLA dilangsungkan. Masalahnya memang disini, sharing akan kehilangan kekuatan manakala ada pihak-pihak yang ingin mengontrol, menguasai dan mendominasi. Semakin kuat keinginan tersebut, maka akan semakin lemah pula proses, relasi, dan hasil yang terbangun. Bahkan, bisa menyebabkan kekacauan dan kemandekan proses pertemuan multipihak.

Sharing mensyarakatkan sikap percaya penuh pada kemampuan kelompok. Bahwa, kelompok berdaya dan dengan mudah melewati tantangan-tantangan subtansi yang berat dan sulit. Bahwa, sharing akan membuat kelompok kuat dan padu dalam berproses. Tak mudah lelah menggali, tak cepat puas mendapat hasil. Kuncinya terletak pada kemampuan fasilitator membangun visi masa depan. Pertanyaan-pertanyaan menelisik, apa yang sesungguhnya terjadi? Siapa, dimana, kapan, dan bagaimana? Kenapa itu terjadi? Kenapa bisa? Kenapa? Kenapa… secara terus menerus, berulangkali, akan membantu kita untuk mengetahui akar masalah sesungguhnya. Akan tetapi, menanyakan “untuk apa itu semua dilakukan?” akan mengubah segalanya. Menurunkan tingkat kematian ibu, bayi baru lahir, anak balita dengan pendekatan tim kabupaten/kota berbasis pemecahan masalah (problem solving) atau yang diberi brand DTPS KIBBLA sesungguhnya juga membutuhkan imajinasi lebih tentang angka dan data yang terpapar. Ada nama, ada sejarah, ada lingkungan hidup, ada banyak hal lain di balik setiap satu angka kematian. Bahwa setiap angka yang digeluti adalah tentang kehidupan manusia-manusia Nusantara. Visi yang kuat akan menuntut semangat berbagi pada saluran yang tepat dan semakin menambah kekuatan untuk mendorong perubahan di wilayah Kesehatan (K besar).

Semangat berbagi, dengan visi yang kuat, memang bukan perkara gampang. Tapi, layak untuk dicoba karena menawarkan masa depan yang berbeda. Tidak ada seorang pun yang dapat mengklaim pengetahuan sebagai miliknya seorang tanpa bersedia membaginya. Menengok ke belakang, jelas langsung terpampang. Bahwa, pengetahuan yang kita miliki sekarang ini datang dari mana saja dan telah ada selama berabad-abad lamanya.

Untuk membukusnya tentu saja dibutuhkan sikap mencintai. Bahwa, semangat berbagi datang dari kehendak mencintai orang-orang yang ada di sekitar kita. Mencintai setiap kelebihan, kekuatan, dan inovasi yang dihasilkannya. Untuk siapa saja, tidak saja untuk kelompok yang kita fasilitasi, tapi juga untuk lingkungan keluarga kita, pada suami, pada istri, anak, kakak, adik, saudara, teman, kerabat, tetangga, pada siapa saja. Mencintai juga dengan sendirinya menghadirkan sikap untuk selalu berusaha untuk mengembangkan orang-orang yang kita cintai. Karena dengan cara itu pula, sesungguhnya kita sebagai manusia akan ikut berkembang. Karena dengan cara itulah SESUNGGUHNYA peradaban berkembang sampai sekarang ini. (dicky lopulalan)


Terima kasih telah berbagi…

March 8, 2008

Pengetahuan dan keterampilan itu seperti makhluk biologis, organik, hidup. Asal dipelihara dengan baik, mendapat asupan yang bergizi, serta diberi ruang untuk mengekspresikannya, keduanya akan tumbuh dengan cepat, membesar, dan memberikan kerindangan untuk sekitarnya. Memberi manfaat. membawa perubahan.

Itu pelajaran penting yang didapatkan tim PENALAHATI selama berproses dalam workshop penyegaran DTPS di Surabaya, Medan dan Bandung. Setelah melatih Fasilitator Utama (FU) dan mendampingi FU melatih Fasilitator Nasional, tim PENALAHATI membagi diri menjadi tiga tim untuk melaksanakan tahap lanjutan program perencanaan DTPS-KIBBLA, Depkes-HSP/USAID. Ada dua kegiatan: Lokalatih Fasilitator Provinsi dan Orientasi DTPS-KIBBLA untuk para stakeholder provinsi di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sumatera Utara.

Beritanya menyenangkan. Semua berjalan baik. Tim Penalahati dari Jawa Barat yang dipimpin oleh Jo menyampaikan berita tentang perubahan cara pandang para fasilitator dan para pemangku kepentingan yang hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut. Doni dan Ibe di Medan dan Dicky (ditambah Benito, Ken, Sastro, dll) di Surabaya juga melaporkan hal yang sama. Ditambah, kreatifitas dan inovasi dalam mengelola pertemuan. Ada yang pakai musik, ada yang memberikan pecerahan-pencerahan kecil, open space coaching, dan membangun kohesivitas tim fasilitator. Kami beruntung, para peserta adalah fasilitator-fasilitator yang berpengalaman di lapangan. Sehingga proses yang terjadi adalah dialog, belajar dan berlatih bersama. Ada banyak pengalaman dan pengetahuan baru yang kami dapatkan saat membagi sesuatu yang baru lainnya. Untuk itu, kami mengucap terima kasih.

Pengetahuan yang tumbuh dalam proses saling berbagi terjadi dan dapat dijejak dari proses transfer yang terjadi. Awalnya, ada proses mimetik, lantas modifikasi dan melakukan inovasi. Tahapan puncak, mencipta akan terjadi ketika peserta bekerja dalam workshop perencanaan minggu-minggu mendatang ini. Ini tahapan ketika sang pohon pengetahuan mengeluarkan bunga dan menghasilkan buah yang memberi manfaat untuk ekosistem sekeliling. Tentu bukan cuma hasil perencanaan kesehatan ibu anak saja yang penting, tapi juga proses dan relasi yang terbangun. Di antara para fasilitator, narasumber, dan peserta pertemuan. Mestinya memang begitu, workshop perencanaan mesti dilihat sebagai momentum puncak untuk memberikan yang terbaik, karena ini sebuah kesempatan untuk merancang dan menentukan masa depan kesehatan ibu dan anak.

PENALAHATI senang dengan apreasiasi yang diberikan sejauh ini, meski harus semakin pintar mengatur sumberdaya yang tersedia setelah NAD, Banten, dan DKI ditambahkan dalam jadual kegiatan. Sejauh ini, kami dianggap mampu membawa perubahan di lingkungan Depkes dan Dinkes provinsi. Pun begitu, tak lantas membuat kami besar kepala, tapi justru menghadirkan banyak pertanyaan dan tuntutan pembuktian. Terus terang saja, bagi kami, sesuatu bisa disebut sebagai sebuah perubahan jika mengikutsertakan perubahan di lingkungan sosial. Jika itu belum terjadi, artinya belum punya makna apa-apa.

Workshop perencanaan nanti dapat menjadi sebuah peluang bagi semua pihak untuk memberikan kontribusi terbaik. Sebuah kesempatan untuk menghasilkan perencanaan yang luar biasa dalam suasana luar biasa pula. Sebuah kesempatan untuk memberi makna yang lebih dalam atas peran dan kenyaatan kesehatan ibu-anak di negeri ini. Pohon DTPS-KIBBLA akan tumbuh membesar, mengakar dan merindangi. Dari situ perjalanan perubahan kultur pengelolaan kesehatan di negeri ini akan dapat diharapkan. Dan, sungguh sangat beruntung rasanya, PENALAHATI mendapatkan kesempatan ikut berproses di dalamnya. (diq)