PENALAHATI tampil mengesankan. Bukan hendak bersombong diri, tapi paling tidak, begitu kesimpulan kami saat mencermati respon-respon dari Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten, lembaga donor, Departemen Kesehatan dan berbagai pihak yang terikut dalam Lokakarya Perencanaan Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir, dan Anak dengan pendekatan Tim Kabupaten/Kota (DTPS KIBBLA) selama seminggu terakhir ini. Anda boleh menilainya sendiri.
“Hati-hati dengan orang Siantar, dia akan lebih bisa menggetarkan hatimu, bila hatinya sudah digetarkan.” (Nur Hasrat, Siantar)
“Untuk Penalahati yang istimewa, terima kasih karena sudah menggetarkan hati kami.” (Nuraisyah azizah, Sibolga)
“Di balik semua ini adalah rekan-rekan dari Penalahati.” (Rambey, RO HSP Sumut)
“Terima kasih kepada Penalahati yang telah membuat pertemuan ini menjadi berkesan.” (Christ, Depkes, pada pidato penutupan)
“Yang membuat pertemuan DTPS menjadi berbeda, tidak membosankan, dan teman-teman jadi memahami proses perencanaan. Terima kasih Penala.”
(Lady D, pidato penutupan peserta terbaik).
“Pertemuan ini disingkat jadi 3S. Santai, Serius, dan Selesai. Penalahati dibaliknya.” (H. Shahabudin, anggota DPRD Aceh Besar).
“Sistem partisipatif ini seharusnya dikembangkan bukan hanya untuk bidang kesehatan saja.” (Asmui, fasilitator Sumut, saat rehat kopi)
“Orang-orang Penala ini memang edan-edan. Orangtua dikerjain, tapi ya kok senang.” (Damayanti, Dinkesprov Jawa Timur.)
“Amazing! It’s a real workshop!” (Pamela, JSI)
“There are a lot of positive news about you.” (Mark, Abt)
“Terima kasih. Saya gak tahu bagaimana jadinya acara ini tanpa kalian.” (Lies, HSP Jakarta Office, saat bersalaman sesudah acara).
Respon-respon di atas muncul dari para peserta tim kerja (Fasilitator Utama, Fasilitator Nasional, Fasilitator Provinsi dan perwakilan lembaga donor) ketika melakukan proses lokakarya dilaksanakan selama lima hari, 24-28 Maret 2008, serempak di empat provinsi: Nangroe Aceh Darusallam (NAD), Sumatera Utara (Sumut), Jawa Barat, dan Jawa Timur.
Peran PENALA, memastikan proses perencanaan DTPS KIBBLA berjalan dengan baik, partisipatif, dan mendapatkan keluaran yang optimal. Tugas PENALA adalah mendampingi dan mendorong fasilitator dan penyelenggara untuk berfikir kreatif dan inovatif. Pendekatan ini ternyata manjur. Jadilah, berbagai macam atraksi, dari ketoprakan, wayang beber, teaterikal, lagu dan musik, tari, newsletter harian, hingga pemutaran film proses pertemuan itu sendiri. Pertemuan DTPS KIBBLA tidak lagi menjadi momok seperti tahun-tahun sebelumnya, melainkan menjadi sebuah pertemuan yang mengesankan.
Persiapan tim jadi kunci utamanya. Doni sebagai libero PENALA dipercaya untuk menyusun tim kerja. Teman-teman fasilitator yang ada di jejaring empat provinsi tersebut dikontak, siap berkerja. Dicky, Joko (Pontianak), dan Hikmat diberangkatkan ke NAD merespon permintaan Depkes yang menyatakan NAD sebagai wilayah “berat”. Doni, Benito (Bali), dan Ogun berangkat ke Medan dan Brastagi untuk “mengawal” proses pertemuan tim DTPS KIBBLA Sumut Dyah, Novi, dan Noya menuju Surabaya. Di sana, mereka mendapat dukungan Ken dan kawan-kawan. Juhendi, Kacong, Aan, dan Vita ke Garut untuk wilayah Jabar.
Sebenarnya, bukan hanya peserta yang mendapat manfaat dari proses pertemuan yang diselenggarakan secara paralel ini. Penalahati juga mendapatkan manfaat yang tak terbilang. Kami belajar bekerja paralel, ‘menghidupkan’ jejaring idle, dan menyisir keraguan. Manfaat ini membuat tim PENALAHATI semakin kuat dan tajam. Setiap tim bekerja dengan memanfaatkan jejaring efektif masing-masing Kohesivitas tim sangat lekat dan mulai bergerak seperti mahluk biologis-organik. PENALAHATI sedang dalam proses berubah.
Perubahan juga menuntut konsekuensi-konsekuensi. Ketika PENALAHATI mendapatkan pujian yang begitu besarnya, sesungguhnya kami juga mendapatkan beban dua kali lipatnya. PENALAHATI bukan cuma harus membuktikan dan mempertahankan kualitas, tapi juga harus berkerja lebih keras dan lebih serius. Artinya sederhana, PENALAHATI tidak bisa lagi dipandang sebagai kerja sampingan. Ini sudah menjadi yang utama. Kebanyakan teman sepakat itu. Pun yang tidak, menepi dengan sukarela atau mengambil pilihan yang berbeda. Kerja terfokus memang sangat dibutuhkan dalam era penuh pilihan seperti sekarang ini.
Melihat manfaat yang didapatkan, sudah sepantasnyalah jika PENALAHATI yang seharusnya berterima kasih dan mengucapkan apresiasi setinggi-tingginya pada setiap orang terlibat dalam proses perencanaan DTPS KIBBLA. Merekalah yang membuat PENALAHATI tumbuh dengan cepat dan kuat. Apresiasi setinggi-tingginya kami berikan pada para peserta petemuan, penyelenggara, FU, FN, FP, kepada teman-teman musisi, game masters, dan training crew di Surabaya, Bandung, Banda Aceh dan Medan. Terima kasih karena semua pelajaran dan pengalaman yang di-sharing kepada kami. Terima kasih.. (diq)
P.s.: Sampai jumpa di lain kesempatan pada waktu mendatang. Jabat erat!
Posted by penalahati
Posted by penalahati
Posted by penalahati