Think Together, Work Together, Plan Together!

April 30, 2008

An enthusiastic atmosphere marked the National Facilitators Workshop for MNCH District Team Problem Solving (DTPS-MNCH). Balloons dotting the ceiling and colorful posters covering the walls maintained the spirits of 84 participants from 16 provinces during the five-day workshop that covered the planning and budgeting process. The workshop was facilitated by PENALAHATI, and utilized co-trainers from a range of Ministry of Health subdirectorates – Maternal Health, Child Health, Health Promotion, and Pharmacy, who practiced their skills as trainers. In addition to HSP-supported participants, representatives from UNICEF, UNFPA and AusAid also attended the workshop, as did USAID’s Local Governance Support Program (LGSP).

As every facilitator knows, good planning and accurate budgeting is the key to improving maternal, child and newborn health. The training emphasized that during the DTPS-MNCH planning process, a facilitator must wear many hats. S/he is a decision maker, a motivator and a guide, ensuring that the softest voice is heard as clearly as the most dominant. Facilitators make sure that stakeholders, including the head of Puskesmas clincs, district health office staff, and district health planners (Bappeda), are able to complete a solid health plan and budget.

“Being a facilitator is challenging, because I need to motivate participants, encourage participation, and help people to inspire one another,” says Sri Sudartini, a facilitator from the West Java Provincial Health Office, whose role it is to support DTPS-MNCH workshops at the district level. Another facilitator, Tini, said that the workshop helped her to present complicated planning and budgeting material in an accessible and understandable manner.

The DTPS approach was not new to Dr. Yokelyn (Yoke) C. Suebu, a staff of the Family Health division of the Papua Provincial Health Office, who had attended similar workshops at the provincial level. However, Ibu Yoke said that her office still doesn’t have clear procedures for planning and budgeting. “DTPS-MNCH is an extremely useful approach for planning and budgeting, and I am confident that using it will lead to improved health for women and their children. I am excited to take the lessons I have learned back to Papua,” said Dr.
Yoke.

Certainly the excitement generated by the workshop was reflected by participants, who when asked “Apa Kabar?” (how are you?), yelled loudly “Luar biasa!” (EXCELLENT!!). Their ensuing cheers demonstrated that even with a topic like planning and budgeting, workshops can be lively and enjoyable.

Understanding the Problem is Part of the Solution
Analyzing the situation and understanding the problem are two necessary components to solving problems. These two steps are critical for the effective identification and prioritization of activities during planning and budgeting. These were only two of many key lessons participants took away from the HSP supported DTPS-MNCH workshop.

Sumber: HSP News No.12/2008, halaman 5


DICARI: SAHABAT KAMPUNG!

April 23, 2008

Hanya berjarak 7 KM dari Pelabuhan Ratu, Buniwangi menawarkan pesona khas kampung Nusantara

Sejak 3 tahun lalu, Kelompok Mandiri Wangi, kelompok swadaya masyarakat, di Desa Buniwangi, Sukabumi, berniat membangun kemandirian kampung. Kelompok beranggotakan 16 kepala keluarga ini resah dengan kenyataan banyak warga mereka merantau keluar desa, bekerja sebagai pedagang asong ke kota-kota jauh di Kalimantan dan Sumatera sana. Mereka melihat potensi desa, keindahan alam dan kehidupan pertanian yang bersahaja, dapat mengubah cerita. Bukan mereka yang keluar kampung, melainkan mengundang orang-orang kota untuk datang bertandang ke desa yang hanya berjarak 7 km dari Pelabuhan Ratu ini. Dengan cara itu, orang kota dan orang desa dapat berdialog, memahami dan merasakan kehidupan masing-masing.

Selama 3 tahun, kelompok Mandiri Wangi membangun mimpi. Menjadikan desa mereka menjadi desa wisata yang didatangi orang karena Kuliner yang ditawarkan, ajakan untuk meng-Apresiasi budaya dan adatnya, menjadi tempat Relaksasi, mencicipi hasil wirausaha kampung (Ecopreneur), menjadi Dunia “bolang” yang menyenangkan, Obyek alam dan Kesehatan. Mereka menyingkatnya menjadi Karedok. Dan, menyebutnya Wisata Kampung Karedok.

Di tanah seluas 30 hektare (sumbangan anggota) mereka membangun jalur wisata bersama-sama. Membuat jalan batu, tangga tanah, membuat bendungan, menanam tanaman obat, bahkan mencoba berbagai resep tradisional yang akan ditawarkan ke tamu. Bahkan, kelompok Mandiri Wangi terus melatih pemuda-pemudi lulusan SMU untuk menjadi pramu wisata dan wirausahawan berbasis kampung dan lingkungan. Ada banyak yang ditawarkan, dari rumah adat sunda, saung jamu, arena permainan anak di sawah, bunga hias hutan, air terjun, bendungan, rakit, puncak bukit berpemandangan lepas, makam keramat (konon, Bung Karno pernah datang ke sini), hutan rakyat, hingga (direncanakan) jaring tidur dan rumah pohon.

Kelompok Mandiri Wangi percaya, ekowisata dapat menjadi lokomotif perubahan. Juga yakin, mereka dapat hidup mandiri di desa. Pun begitu, Mandiri Wangi juga percaya, untuk mencapai mimpi, dukungan para sahabat kampung sangat dibutuhkan. Untuk itulah, mereka menawari Anda, para pencinta kampung, untuk menjadi Sahabat Buniwangi. Caranya mudah, Anda bisa datang langsung ke desa tersebut, atau menghubungi Kordinator Mandiri Wangi, Asep Godek (HP: 081384537298).

PENALAHATI sudah menjadi anggota Sahabat Buniwangi, tentu saja. (diq)


Selamat Berubah!

April 19, 2008

“Kita ini masih suka mengulang kebiasaan zaman Orde Baru,

ceramah begitu dapat kesempatan.”

Lukman, Depkes R.I

Menjadi fasilitator butuh “pengorbanan” karena harus bisa menahan untuk tidak memberikan jawaban. Bagi banyak fasilitator kesehatan yang beriring sesaat dalam proses Perencanaan DTPS KIBBLA di enam provinsi, evolving facilitation yang ditawarkan PENALAHATI membuat mereka harus kehilangan keasyikan menjadi narasumber sekaligus instruktur, seperti kebiasaan mereka selama ini. Pelajaran ini paling tidak satu hal yang mencuat dalam Workshop Nasional Penyuntingan dan Revisi Pedoman dan Panduan Fasilitator DTPS KIBBLA di Hotel Salak (14-16 April).

Menahan diri dengan tidak memberi jawaban ternyata soal serius bagi fasilitator di instansi pemerintah. Ini terkait dengan eksistensi mereka sebagai pejabat publik yang selama ini selalu dimintai pendapat. Dalam pengamatan tim PENALAHATI, semakin tinggi jabatan publik seseorang, ternyata semakin senang memberikan jawaban, bahkan ceramah yang panjang lebar. Peran mereka harus terlihat jelas, walau tidak berkutik ketika ada pejabat yang lebih tinggi.

Tapi, itulah tantangan dan keasyikannya. Tidak memberi jawaban (secara langsung), tindak lantas berarti fasilitator bersikap pasif saja. Membiarkan peserta pertemuan belajar salah arah, mengambil keputusan prematur, atau bahkan terjebak di zona melenguh, seperti kumpulan lembu, hanya bisa saling melenguh satu sama lain. Fasilitator dapat mencegahnya dengan menyadari perannya sebagai pemandu proses, penyedia alat bantu, penggoyang keyakinan, penguat relasi antarpihak. Untuk itulah, fasilitator memilih berbagai metode, menggunakan berbagai teknik, berbagai pertanyaan, beragam permainan dan berbagai cara agar peserta mendapatkan tujuan terbaiknya.

Sesungguhnya, ada cara mudah untuk memeriksanya. Fasilitasi partisipatif akan semakin kuat jika peran fasilitator semakin tidak kelihatan. Ketika peseta pertemuan menyatakan bahwa pertemuan itu berhasil karena kekuatan mereka sendiri, maka peran fasilitator akanlah sempurna. Karena dia memang tidak menjadikan pertemuan sebagai bintangnya. Melainkan, mendudukan peserta pertemuan di atas panggung, memberikan ruang bicara seluas-luasnya pada mereka.

PENALAHATI telah mendampingi sekitar 150 fasilitator DTPS KIBBLA. Gagasan peran fasilitator diterjemahkan dengan berbagai cara dan mendapat berbagai respon. Ada yang setuju, ada pula yang masih gelisah memikirkannya dan kerap menyerah tak berani mencoba hal-hal baru. Itu biasa memang. Perubahan memang membutuhkan waktu. Mengubah kebiasaan berbicara menjadi kebiasaan mendengarkan dan bertanya memang bukan perkara gampang. Semakin tebal kebiasaan itu, boleh jadi semakin panjang pula waktu yang dibutuhkan. Pun begitu, selama kita mau menyadari dan mencoba hal-hal berbeda, perubahan itu pasti dijelang. Ini sama seperti yang terjadi pada kenyataan: “tidak ada yang bisa memundurkan kemajuan seorang anak saat ia bisa membaca.”

Selamat berubah! (diq)


Menolak Dualisme

April 19, 2008

“Untuk pertama kalinya dalam sejarah KAU,

Pertemuan Nasional berlangsung dengan dinamis, akrab, dan hasilnya luar biasa!”

Rully Ardiansyah, Badan Pekerja Nasional Koalisi Anti Utang,

pidato di acara Malam Solidaritas

Pendidikan kita menganut dualisme. Abstrak dan kongkret, teori dan praktik seperti dipisahkan. Apa yang diajarkan di sekolah dulu tidak ada kehidupan sehari-hari. Para siswa dikotak-kotakkan dalam jurusan tak tentu arah. Apa yang dipelajari di sekolah tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.

Dualisme macam itu terbawa terus, hingga ke ruang-ruang pertemuan. Apa yang dibicarakan dalam pertemuan (rapat, diskusi, lokakarya, pelatihan, dll) acapkali sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan dunia sana, bahkan kadang “terperangkap” pada data dan angka sehingga tidak memperhitungkan nilai-nilai kemanusiaan di dalamnya. Kita kehilangan konteks, dan terlalu lama untuk menyadarinya.

Pertemuan Nasional III KAU di Yogyakarta, 11-15 April lalu, mencoba untuk menolak dualisme itu. Mencoba menjadikan pertemuan punya konteks kekinian dengan situasi Indonesia sekarang ini. Kehadiran ahli dan pengamat ekonomi Revrisond Baswir, Hendri Saparini, dan Ichsanuddin Noorsy menjadi daya dorong yang kuat untuk mengkaitkan peserta dengan konteks. Bagimana utang telah meruntuhkan martabat kita sebagai sebuah bangsa di negeri yang kaya. Bahwa utang membuat kita hanya bisa menunduk dan kalah dijajah (seorang peserta bahkan nyeletuk, jangan-jangan kita ini bangsa yang rindu dijajah).

Proses berjalan baik. Semua berbagi rasa, pikiran, pengetahuan, dan pengalaman dalam sebuah pertemuan yang akrab. Sebagian kawan keheranan sendiri, padahal biasanya jika para peserta ini bertemu selalu saja terjadi perdebatan panas dan keributan kecil. Kali ini beda. Ada semacam kesadaran, membicarakan sesuatu yang besar dan menyakitkan, ternyata dapat dilakukan dengan cara yang hangat dan gembira. Semua bersedia untuk memberikan energi terbaik mereka mensukseskan tujuan pertemuan dan mencari cara-cara terbaik agar air perubahan terus mengalir. Tak heran jika para peserta merasa bersemangat untuk meneruskan perjalanan koalisi. Rencana dan agenda pun disusun. Program dirancang. Organisasi ditata kembali. Dan, tetap memberi ruang fleksibilitas.

Ada tiga hal yang tercapai:

proses, relasi, dan hasil.

Itu tentu bukan sekadar kebetulan, melainkan buah kerja keras dari tim-tim yang ber-jam session bersama: SC KAU, SekNas KAU, SP Kinasih Yogyakarta, dan para peserta yang berasal dari 33 lembaga dari seluruh Indonesia itu. Sudah pasti, banyak pengalaman dan pelajaran yang dipetik. Beruntung, PENALAHATI mendapat kesempatan untuk bekerja dan belajar bersama. Terima kasih kawan! (diq)


A Lot Love

April 15, 2008

Seseorang bertanya tentang Penala Hati. Konsultan? LSM? EO? Begerak di bidang apa? Soft skills? Motivational training? Empowering the society? Saya terdiam, berpikir keras. Teman saya menggelengkan kepala tak sabar. Bagaimana mungkin mengelola sekian kepala, sekian banyak idealisme, tanpa satu definisi yang jelas apa itu Penala Hati?

Teman, Penala bukan representasi perorangan atau perpanjangan satu kelompok. Ia adalah kumpulan ide yang menjelma menjadi satu energi. Ia adalah energi yang menggerakkan seseorang untuk berubah bahkan ketika proses fasilitasi sudah jauh berlalu. Ia adalah ruh yang menggetarkan hati, mengetuk nurani. Penala bukan dia, bukan kamu, bukan pula saya. Penala adalah kumpulan jiwa orang-orang yang ada di dalamnya dan di sekitarnya. Siapa saja yang memberikan energi itu. Siapapun.

Seperti lagu Di3va yang baru….
I, I, I need a lot love. You, you,you need a lot love. We, we, we need a lot love

Penala berdiri, berkembang dan bergerak karena kumpulan cinta yang ada di dalamnya. A little love? Big Love? It is love. Sesederhana itu. Jadi, kenapa mesti pusing? Lets share it.

I LOVE YOU FULL… (ibe)


Mengelola Harapan

April 15, 2008

“Begin where it starts,
Finish at the end”

Suatu kali saya diminta untuk memfasilitasi sebuah kelompok. Belum apa-apa seseorang membisiki bahwa ini adalah kelompok terberat yang akan saya fasilitasi. Dan sungguh, proses kali itu terasa berat. Saya harus berjuang keras agar sesi yang sudah saya rencanakan bisa berjalan dengan baik. Melihat respon peserta fasilitasi, saya hampir yakin saya gagal menginisiasi perubahan. Saya pulang dengan perasaan kecewa. Makin merasa gagal ketika bertemu dengan sahabat-sahabat saya yang bertukar cerita betapa gegap gempitanya proses yang mereka jalani kemarin. Peserta-peserta yang aktif, mendukung, dan secara eksplisit menyatakan mau berubah.

Tak sampai seminggu kemudian saya terperangah sendiri. Saya mendengar kabar dari seorang teman tentang peserta fasilitasi saya tempo hari. Hampir tak percaya rasanya mendengar perubahan yang terjadi pada mereka. Saran dan komentar saya yang rasanya waktu itu tak bisa membuat mereka bergeming justru kini mereka lakukan dengan antusias. Perubahan yang terjadi pada diri mereka memang bukan sesuatu yang menghebohkan, tetapi saya yakin itu adalah awal dari serangkaian perubahan yang pasti akan terjadi. Saya jadi menunggu-nunggu kabar apa lagi yang akan saya dengar tentang mereka.

Usai mendengar berita tentang mereka, saya tertegun. Minat, empati, positif tanpa syarat dan percaya dengan kekuatan kelompok, 4 sikap dasar fasilitator , bagai menari-nari di benak saya. Saya terhenyak. Di pertemuan tempo hari, ternyata saya tidak menjalankan sikap fasilitator seutuhnya. Ya, saya percaya para peserta fasilitasi itu bisa berubah. Tapi saya lupa, bahwa peserta setiap fasilitasi berbeda-beda. Jadi semestinya saya tidak boleh menentukan ‘target’ atau harapan bahwa mereka mesti seperti peserta pertemuan lain yang pernah saya fasilitasi. Saya terlalu yakin dengan kemampuan saya untuk bisa mendorong mereka berubah selekas-lekasnya, secepat yang saya mau. Tapi kesalahan saya yang terbesar adalah terburu-buru merasa kehilangan harapan dan gagal . Saya mengabaikan tanda-tanda perubahan, sekecil apapun itu, yang ada di depan mata saya. Ah, ternyata untuk saya sikap dasar itu mestinya ditambah satu hal: mengelola harapan. Sebagai fasilitator saya mestinya bisa mensinkronkan harapan saya dengan kekuatan kelompok tersebut. Karena setiap pertemuan adalah unik dan berbeda.

Saya belajar banyak tentang fasilitasi dari pertemuan itu. Saya akhirnya menyadari bahwa inti dari sebuah pertemuan adalah dialog, pertukaran energi antara pihak-pihak yang hadir. Antisipasi dan asumsi yang dibangun sebelum pertemuan sangat menentukan warna energi dalam pertemuan tersebut. Proses yang hakiki dari sebuah pertemuan adalah bagaimana para peserta berhasil membaca, memaknai dan merespon kalimat-kalimat tersirat dengan tepat. Dan Penala’s way adalah ruh yang ‘tertinggal’ bahkan setelah proses fasilitasi usai. (ibe)


Bos Ditinggal Tidur Anak Buah

April 8, 2008

“Yah, bangunkan yang tidur itu.

Kalau mau tidur silakan di luar saja,” ujar SBY mengetuk podium.

(detik.com, 8 April 2008)

by bondan

Presiden R.I. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kesal bukan kepalang. Sedang asyik ceramah dia mendapati ada peserta yang tidur. SBY merasa disepelekan. Ceramahnya di hadapan para walikota dan bupati dalam rangka pembekalan konsolidasi pemerintah daerah di Gedung Lemhanas, Jakarta tak nampak dipedulikan. Tak cukup menyuruh bangun, SBY terus saja mengomel. “Seharusnya Anda merasa berdosa pada rakyat. Sebagai pemimpin Anda punya tanggung jawab dan emban amanah rakyat. Saat kita bicarakan masalah rakyat kok malah tidur.” Belum merasa cukup, SBY bahkan meminta Gubernur Lemhanas, Muladi, tidak meluluskan peserta yang tidur lagi. Waduh, berkepanjangan.

Pejabat tidur saat ceramah dan pidato berkepanjangan bukan hal baru. Mestinya SBY tidak perlu seperti kebakaran jenggot merasa disepelekan. Hampir semua pidato pejabat di negeri ini tak dipedulikan karena tidak menarik. Para pejabat sibuk menceramahi para bawahan dan publik tentang apa yang telah dilakukan pemerintah dan apa yang harus dilakukan yang lain. Tidak ada yang baru, tidak cerdas pula.

Cara menyampaikan materi sama sekali tidak menarik. Apa yang terjadi di Lemhanas tadi sebenarnya jamak saja, ceramah tanpa intonasi yang menarik, datar, penuh jargon, berpadu dengan ruangan ber-AC dan kursi empuk jelas penghantar tidur bagi para peserta yang cukup banyak berusia lanjut. Presiden memang penting diperhatikan, tapi kantuk tak dapat dikalahkan. Jadilah, sang SBY sewot-sewot tidak karuan.

Gaya SBY berceramah dan responnya atas peserta yang tidur langsung memperlihatkan dengan jelas gaya kepemimpinan yang dianutnya. Gaya lama, “old school”, kata ABG sekarang. Gembira menjadi pusat perhatian, kesel kalau dicuekin, marah-marah sama ngancam. Padahal, kalau SBY mau belajar tentang teknik-teknik presentasi yang berkesan, pasti hasilnya akan beda. Dia dapat saja menggunakan slide presentasi atau flipchart. Atau, kalau perlu, pakai teknik bercerita. Atau, menyanyi! Seperti, kegemarannya belakangan ini. Pasti lebih seru lagi kalau dia pakai teknik fasilitasi: banyak menyimak dan observasi secara mendalam. Menyimak terlebih dahulu sebelum banyak memberi tahu.

Tapi, begitulah. Mungkin karena takut kehilangan wibawa, SBY memilih cara ceramah yang konvensional, dan…ditinggal tidur audiens. Daripada marah-marah, ada baiknya Pak Bos kita itu belajar teknik-teknik presentasi yang lebih baik. Malu sama orang banyak di luar sana, “Bos kok ditinggal tidur anak buah…”(diq)


Semua Pertemuan Luar Biasa

April 8, 2008

(PENALA’S WAY #3)

“Pertemuan dua pribadi seperti kontak dua substansi kimia;

jika ada reaksi, keduanya akan bertansformasi.”

(Carl Gustav Jung)

Pertemuan dua pribadi dapat menyebabkan transformasi, begitu kata Jung. Ini bukan cuma soal zat kimia, tapi juga hasil dari kemampuan 10 milyar sel otak seorang manusia. Bagaimana dengan pertemuan 10, 20, atau 30 orang, berapa banyak transformasi yang tercipta?

Pada kenyataannya, di dunia senyata-nyatanya, pertemuan sedikit atau banyak orang tidak pernah menciptakan transformasi. Yang terjadi adalah kebosanan mendengarkan satu ceramah ke ceramah lainnya. Lihat saja di instansi-instansi pemerintahan. Hanya para pejabat yang punya hak bicara , yang lainnya sepi-sepi saja. Kalaupun ramai, biasanya malah berlebihan, semua orang berbicara pada saat bersamaan, saling berargumentasi simpang siur. Bukan transformasi yang tercipta, tapi kebosanan, kejenuhan, bahkan sekaligus pembodohan.

Sesungguhnya, pertemuan adalah hal yang paling penting dalam sejarah peradaban manusia. Pertemuan adalah sarana untuk keluarga berkumpul dan bertukar cerita. Pertemuan pula yang membuat para suku berhenti bertempur dan duduk bersama untuk merembugkan perdamaian. Pertemuan menjadi alat untuk mengelola perbedaan yang ada. Pertemuan menjadi tempat bagi para kreator memperkaya ide dan gagasan mereka. Pertemuan membuat kebudayaan berkembang. Sebenarnya, setiap pertemuan punya peluang mentransformasikan pribadi-pribadi yang terlibat di dalamnya ke tingkat yang lebih tinggi.

Cara kita dalam mengelola pertemuan barangkali yang belum tepat. Kita seringkali lupa, rutinitas barangkali, bahwa orang-orang yang kita hadapi dalam pertemuan adalah mereka-mereka yang telah melewati banyak pengalaman. Bahwa setiap orang yang hadir memiliki persepsi dan pandangan, yang boleh jadi, berbeda satu sama lain. Bahwa tidak mungkin, dari pojokan sudut ruang pertemuan terceletuk gagasan jenius yang menyebabkan reaksi kimia dalam kelompok dan melontarkan mereka ke tingkat pemahaman yang lebih tinggi. Bertansformasi.

Hal pertama yang harus Anda lakukan, yakinkan diri Anda bahwa setiap pertemuan (apa saja: keluarga, kantor, lingkungan sosial, dll) itu luar biasa. Orang-orang yang datang ke pertemuan itu memang pilihan. Akan terjadi transformasi jika reaksi kimianya tepat. Tugas kita sebagai fasilitator atau penyelenggara pertemuan membantu proses percampuran dan mendorong orang untuk saling berdialog. Serta, menyediakan alat bantu agar proses percampuran gagasan bereaksi. Karena sesungguhnya, jika reaksi telah terjadi, transformasi tercipta, maka seluruh peserta pertemuan akan saling menjaga dan melengkapi.

Dan, pertemuan pun mengesankan, luar biasa, sebagaimana seharusnya. (diq)


Tak ada Ucapan Selamat Berpisah

April 4, 2008

Seni atau ‘art’ adalah sebuah kata. Tapi inilah sebuah kata sakti yang menyatukan teori dan praktek, Dalam dunia manjemen misalnya, dikatakan bahwa manajemen adalah seni mengelola. Tetapi, ada juga manajer yang berani mengatakan bahwa manajemen itu seni yang tidak ada teorinya, tidak bisa diajarkan.

Kita tentu saja percaya bahwa segala sesuatu bisa dipelajari. Kita percaya bahwa setiap orang memiliki kekuatan, dan kita bisa memperkuat diri dan memudahkan kerja tim dengan belajar dan bekerja bersama.  “Yang penting kita bisa bekerja sama dengan santai tapi serius dan sukses,”kata Hj Nuraisyah Aritonang, peserta dari kota Sibolga. Memang itulah inti proses yang dialami para peserta selama lima hari ini.
Para peserta, tampaknya sudah membuktikan nikmatnya bekerja dan belajar sambil membangun relasi dalam tim.  Setelah lima hari di Hotel Sibayak, para peserta bergelut dengan pengalaman bersama, kini tiba saatnya untuk menjalankan praktek di dunia nyata. Lebih dari itu, untuk membangun kalangan peduli KIBBLA di wilayah maih-masing.

Seperti praktek dunia seni pada umumnya, seperti yang kita alami bersama, kita dapat pula memanfaatkan pemikiran dan pengalaman, kepekaan dan kreativitas serta imajinasi. Plus: kemampuan belajar dari orang lain.

Jika ini bisa terjadi effektif, maka DTPS-Kibbla, di tingkat kabupaten bisa untuk menularkan virus bekerja sama, saling energizing, ice-breaking sehingga relasi bisa terbangun dengan hangat dan effektif.  Bukankah ini yang dibutuhkan daerah kita: kemampuan bekerja sama di antara aparat birokrasi, dan stake holders lain, sehingga daerah kita bisa maju dan maju.

Pesan-pesan penutupan hari ini pastilah berhubungan dengan revisi, karena seperti di daerah lain, peserta diminta melakukan revisi dan realisasi rencana tindak lanjut dari konsep yang sudah terbangun.  Ini memang krusial.

Sesudah itu, apakah akan kita ucapkan kata selamat tinggal, selamat berpisah? Tidak saudara, kita akan saling mengucapkan selamat jalan, sampai jumpa lagi. Kita tidak berpisah karena diantara proses dan hasil DTPS-KIBBLA telah terjalin relasi perkawanan, persahabatan dan atau persaudaraan. Bukankah tiga kata yang disebut terakhir itu menyegarkan hidup, dan kerap menjadi alasan bagi orang untuk bertahan menikmati hidup lebih lama?  (ben)


Membangun Kelompok dalam Situasi Sulit

April 4, 2008

Kohesivitas atau kekompakan antara peserta dan fasilitator, untuk bisa saling meningkatkan energi masing-masing, adalah proses penting dalam mencapai pertemuan sukses.

Siapa pun yang berdiri dan berbicara di depan, dan siapa pun yang duduk sebagai peserta, berada dalam suatu lingkaran energi yang sama. Dalam kebersamaan energi inilah sebenarnya tak ada yang utama. Peserta dan fasilitator punya kekuatan yang sama untuk mengubah suasana pertemuan jadi lebih baik, atau jadi lebih buruk. Bahkan dalam situasi sulit sekalipun, seorang fasilitator diharapkan bisa membuka ruang-ruang ekspresi, agar pertemuan menjadi penuh energi.

Ketika menjadi peserta dalam sebuah pertemuan, cara seorang fasilitator membangun situasi adalah dengan mengadakan respon-respon.. Respon paling mendasar adalah dengan mengajukan pertanyaan. Inilah ketrampilan dasar yang harus dimiliki oleh seorang fasilitator pertemuan. Rangkaian pertanyaan digunakan untuk membangun energi pertemuan.

Siapapun dari kita pasti pernah berada dalam sebuah forum yang mendadak bergemuruh riuh karena sebuah pertanyaan yang dipandang tepat oleh semua yang hadir. Energi di ruang mendadak menjadi segar, semua berbisik-bisik di berbagai sudut ruang, dan inilah yang terjadi ketika di wilayah peserta terdapat seorang berkarakter “fasilitator” yang mampu mengarahkan pertemuan dengan pertanyaannya.

Pertanyaan atau pernyataan yang dilontarkan dengan tajam, namun berkarakter –sopan tapi megelke, lucu atau hangat, dan sebagainya, ternyata bisa memberikan energi pada pertemuan.

Begitulah, pertanyaan bisa dilakukan untuk menguji, untuk menggali, untuk menggelitik, atau untuk mengusik proses agar bermanfaat bagi keseluruhan peserta. Pertanyaan bisa disiapkan oleh kelompok, atau secara individual.

Kelompok tentu saja lebih efektif, karena aksi dari satu orang, berupa pertanyaan atau pernyataan, kemudian dapat direspon atau ditanggapi oleh anggota lain, untuk mengarahkan pertemuan.

Proses seperti itu bisa dilakukan dengan contoh di bawah ini:

Ketika pembicara baru saja mengungkapkan teknik advokasi, maka tampil seorang yang bertanya atau menanggapi.

Baru saja diungkapkan dan dijelaskan mengenai persoalan-persoalan advokasi dan bagaimana teknik-teknik yang bisa dilakukan. Saya teringat teman di Aceh yang sudah melakukan ….. ada juga teman dari Jawa Timur yang sudah melakukan …. Saat ini bagaimana jika kita meminta kawan-kawan yang kebetulan berkumpul ini untuk menceritakan teknik advokasi masing-masing agar kita bisa saling belajar?

Ketika penanya pertama sudah mengungkapkan hal ini, penanya kedua juga mengangkat tangan dan mengatakan.:

Saya ingin menjelaskan cara kami melakukan advokasi untuk menyambut pernyataan dari penanya pertama. (kemudian penanya ini menjelaskan pengalamannya).  Hal semacam ini bisa diungkapkan pula sebagai tambahan, oleh beberapa orang dari sejumlah daerah.

Sesudah pihak pembicara menanggapi, maka kemudian bisa ditambahkan pernyataan dari salah seorang: saya salut sekali karena ternyata apa yang dilakukan oleh kawan-kawan lebih maju daripada yang diungkapkan oleh pembicara. Ini berarti bahwa kawan-kawan memiliki pengalaman yang bisa digali, dan kita sebetulnya bisa saling belajar, antara narasumber dan peserta, karena peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Dengan cara demikian, bisa diberikan gambaran kepada para pembicara, bahwa para peserta adalah orang yang berpengalaman. Yang penting dari pertemuan antara orang dewasa yang berpengalaman adalah bagaimana menjadikan pengalaman itu berarti bagi orang lain, sehingga kasus-kasus yang bagus bisa berulang dan kasus yang tidak baik bisa dianalisa kekurangannya. Akhirnya, yang paling penting dari pertemuan multi pihak dan multi wilayah adalah bagaimana dapat menggali pengalaman bersama, agar satu pihak bisa belajar dari pihak lain, dan satu daerah bisa belajar dari daerah lain. (ben)