Oppie Andaresta: “Ayo, Sayang Ibu!”

May 12, 2008

Oppie dalam \"talk show\" Orientasi DTPS KIBBLA
“Kita semua harus mencintai Ibu”. Begitu tegas penyanyi dan pencipta lagu Oppie Andaresta kepada para peserta Orientasi DTPS KIBBLA (District Team Problem Solving Kesehatan Ibu, Bayi, Bayi Baru Lahir dan Anak Balita) Provinsi DKI Jakarta minggu lalu. Harus ada semangat untuk menyelamatkan kaum ibu dan anak yang menjadi sumber masa depan kita. Tingkat kematian ibu dan anak di Indonesia yang begitu tinggi, membuat Duta ASI Eksklusif UNICEF ini merasa perlu melemparkan seruan untuk membangun Gerakan Sayang Ibu. “Urusan kematian ibu dan anak bukan cuma urusan kaum perempuan dengan dokter atau bidan saja. Tapi, urusan semua orang dan semua kelompok. Apa jadinya jika tingkat kematian ibu dan anak tinggi untuk masa depan bangsa ini. Harus dibagun gerakan sayang ibu,”ujar Oppie yang hadir dalam talk show sebagai ibu dari Bejo, bayi yang baru dilahirkannya beberapa bulan lalu. Bayangkan, jika semua orang berusaha untuk membantu dan merawat kaum ibu dan anak. Pasti bangsa kita akan punya masa depan yang cerah di tangan manusia-manusia berkualitas.

Lagu tentang ASI

Oppie bukan cuma mau omong serius. Ia juga menawarkan cara menyampaikan pesan dengan gaya-gaya populer. Menurutnya, sekarang ini sudah terlampau banyak pesan. Harus ada cara-cara baru untuk menarik perhatian khalayak ramai. Ia tidak sekadar menawarkan, tapi juga memberikan contoh dengan menyanyikan tiga lagu ciptaannya. “Ini kan enak iramanya. Bisa diputar di puskesmas-puskesmas atau polindes. Orang sambil nunggu giliran diperiksa bidan bisa menangkap pesan,”ujarnya di sela-sela lagu.

Ayo, sayang ibu.
Kehadiran Oppie memang menguatkan semangat para peserta, yang 98%nya perempuan, untuk menghasilkan perencanaan KIBBLA Propinsi DKI Jakarta terbaik untuk membantu kaum ibu dan anak. Lokakarya Orientasi, yang dilanjutkan Lokakarya Perencanaan keesokan harinya selama tiga hari di Bogor, berhasil menjadi pintu gerbang yang kontekstual. Peserta menjadi mahfum, bahwa apa mereka lakukan sesuatu yang penting dan mendapatkan dukungan banyak pihak. Salah satunya, Oppie. Pasti ada banyak lagi yang lainnya. Terima kasih Oppie, atas dukungannya. Ayo, bangun gerakan sayang ibu dan anak! (diq)


Mandiri Energi dan Pangan

May 10, 2008

“Indonesia bukannya kekurangan pangan dan energi.
Tapi, tak mampu mengelola sumberdaya yang ada.”
Dr. Pudjo Semedi, Dosen Antropologi UGM

Menjelang kepulangan ke Bogor usai memfasilitasi pertemuan Rembug Nasional ASKARLO, tim Penalahati (Doni, Dicky, Aan, Ari) diundang Pudjo main ke rumahnya di bilangan Kaliurang, Yogyakarta. Ini tentu saja peluang yang sangat berharga. Pudjo selama ini kami kenal sebagai guru yang kerap menyuntikkan semangat baru lewat informasi dan pengetahuan yang disampaikannya. Hampir lima tahun kami tidak bertemu, jelas tak hendak disia-siakan.

Benar saja, begitu usai sesi beramah tamah dan saling cerita masa lalu, Pudjo mengemukakan kegelisahannya atas situasi krisis pangan dan energi yang dihadapi bangsa ini. Seperti yang dikutip di awal tulisan, Pudjo melihat kita gagal mengelola sumberdaya pangan dan energi yang ada di sekitar kita. Padahal, ada banyak yang bisa kita lakukan untuk menangkal krisis tersebut.

Tidak sekadar gelisah. Bersama mahasiswa Antropologi UGM, ayah dua anak ini berniat untuk membangun 10 sumber energi biogas di dua desa di Kecamatan Petungkriono, Pekalongan. “Di sana banyak sapi. Tapi, teletongnya terbuang percuma. Itu bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi,” katanya bersemangat. Paling tidak, keberadaan biogas dapat bermanfaat untuk mengurangi tekanan penduduk atas hutan — untuk kayu bakar — hingga 40%. “Memang sulit kalau sampai 100% karena penduduk memanfaatkan kayu bakar untuk berdiang. Petungkriono dingin.” Biogas akan membantu penduduk yang sekarang ini kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak yang hilang dari pasaran atau harganya melambung tinggi.

Kami kemudian berdiskusi. Cerita tentang perubahan yang terjadi di Pengalengan, Jawa Barat, kami sharing. Kami sepakat, desa harus diselamatkan, harus dipikirkan, karena itu adalah sumber nilai-nilai kehidupan manusia Nusantara selama berabad-abad. Membiarkan desa hancur sama artinya dengan menghancurkan sumber kehidupan kita, akan membuat hidup kita kering tak bermakna.

Timur Angin
Satu cara untuk keluar dari krisis ini adalah sikap mengurangi ketergantungan pada pasar. Dengan biogas, masyarakat dapat mengelola energinya untuk kepentingan sendiri. Bila berlebih, bukan tidak mungkin menjual surplus ke desa tetangga atau PLN. Pun begitu, upaya untuk mendorong perubahan desa harus dilakukan secara sistemik. Tidak berhenti pada satu dua kegiatan sporadis. Energi dan pangan adalah kuncinya. Dengan biogas, masyarakat mendapatkan manfaat turunan: pupuk organik, media pelihara cacing, pangan ikan, pangan ternak, dll. Bahkan, bisa menghasilkan listrik dengan pengubahan teknologi sederhana. Jika itu terjadi, maka satu desa dapat mandiri energi dan pangan.

Tren green century membuat bahan pangan tersedot menjadi bahan baku bio-fuel atau bio-energy yang diproduksi dan dipasarkan secara besar-besaran. Ketergantungan pada pasar membuat banyak masyarakat yang terseok-seok memenuhi harga yang diminta. Memanfaatkan pekarangan dan kebun dengan menanam tanaman-tanaman pangan adalah kuncinya.Paling tidak, kita tak perlu beli empon-empon, sayur mayur, buah-buahan, obat-obatan, vitamin, dll. Pangan alternatif kita siapkan. Dari biji-bijian sampai umbi-umbian. Jangan biarkan sejengkal tanah pun kosong. Memang tidak semuanya bisa lepas, tapi kita sudah mengurangi pengeluaran kita.
Dan, Pudjo sudah melakukannya. Ia memperlihatkan tanaman markisa, buah-buahan, sayuran, obat-obatan yang ditanam di pekarangan rumahnya. “Kami sekeluarga sekarang tidak perlu lagi beli vitamin C,” ujarnya sambil mengantarkan kami ke mobil yang akan membawa kami pulang ke Bogor.

Sayang memang, kami tak punya cukup waktu untuk berbincang-bincang. Tapi, kami sepakat untuk bergabung dengan gerakan mandiri energi dan pangan yang sedang digagas Pudjo dan teman-teman mahasiswa antropologi UGM. Untuk tahap awal, dalam hitungan kasar, 10 terminal biogas yang akan dibangun itu membutuhkan biaya Rp50juta. Satu terminal, Rp5 juta. Itu sudah tidak memperhitungkan tenaga kerja karena menjadi kontribusi masyarakat. Kami berpikir, hitungan ini tidak akan menjadi angka yang terlampau mahal jika banyak orang mau berkontribusi. Jika banyak orang bersedia untuk menjadi sahabat-sahabat kampung dan menyelamatkan sumber nilai-nilai kehidupan kita itu.

Sepanjang perjalanan ke Bogor kami banyak berdiam diri. Masing-masing sibuk dengan pikiran masing-masing. Satu hal yang pasti, Mas Pudjo berhasil membagi kegelisahannya pada kami untuk terus mencari siapa saja yang bersedia bergabung membuat semacam asosiasi para sahabat kampung, yang bekerja dengan kemampuan terbaiknya masing-masing untuk menyelamatkan kampung-kampung di negeri ini yang semakin hari semakin terkikis. Siapa bersedia menjadi sahabat kampung? Andakah orangnya?
(diq)


ASKARLO, SAKPORE!

May 6, 2008

“Yakher po?”

“Her!”

“Sakpore”

Sakpore,” teriak alumni SMA 1 Kartini Pekalongan, setiap kali Dicky/PENALAHATI menanyakan kabar mereka dalam Rembug Nasional ASKARLO di Yogyakarta, 3-4 Mei lalu. “Sakpore” berarti “luar biasa” dalam bahasa Pekalongan.

Dan memang, pertemuan itu sangat luar biasa karena dibalut dengan energi rindu yang sangat besar. Pertemuan para pengurus organisasi Alumni SMA 1 Kartini Pekalongan (ASKARLO) yang mendiskusikan Aturan Rumah Tangga (ART) dan rencana kerja organisasi dua tahun mendatang itu penuh dengan cerita-cerita masa lalu, masa bahagia di SMA. Ada yang masih tersipu saat bertemu mantan pacar. Ada yang masih bersemangat merengkuh masa lalu. Tapi, tidak sedikit yang berjabat tangan melupakan permusuhan di masa lalu.

“Dia itu curi stempel sekolah supaya kita dapat ijin orangtua untuk kemping bersama.”

“Kamu tuh yang dulu buang kunci semua ruangan sekolah ke sungai kan?”

“Mengenang sweet memory. Tapi…”

Ini memang tak terkira nilainya. Sekitar 56 peserta yang datang dari tujuh wilayah organisasi menggunakan energi rindu untuk memikirkan adik-adik mereka yang masih belajar di SMA 1, teman-teman mereka yang masih kesulitan, juga masyarakat yang sedang kembang kempis melewati krisis di negeri ini. Mereka duduk bersama dan melupakan status sosial maupun latar belakang etnis, agama, maupun golongan. Semuanya berusaha untuk memberikan energi terbaik mereka, memikirkan apa yang mungkin dilakukan dalam situasi sekarang ini.

Mereka percaya pada nilai-nilai kasih sayang, persaudaraan, persahabatan, kesetaraan, saling percaya dapat membuat mereka bermanfaat. Karena itulah mereka menyusun langkah-langkah dua tahun ke depan. Ada yang bikin program merapikan barisan, menata dan mendaftar alumni-alumni yang belum terdata. Ada pula yang bikin program penggalian dana untuk mendukung kerja-kerja organisasi, pemberian beasiswa untuk pelajar cerdas ekonomi tak mampu. Atau, memberikan bantuan modal. , ASKARLO FUND, begitu cabang Semarang menyebut. Cabang Bandung, memikirkan penggalian dana dengan usaha-usaha yang terkait dengan keberadaan kota Bandung sebagai kota wisata urban. Ada cabang lain, yang memikirkan usaha peternakan ayam. Pun begitu, ada juga yang sederhana, memberikan informasi lowongan kerja. Dan masih banyak lainnya, termasuk cetusan tentang Yayasan Pendidikan ASKARLO, ASKARLO YOUTH (untuk mereka yang lulus lima tahun terakhir), ASKARLO KID (untuk anak-anak anggota ASKARLO, siapa tahu gagal menikah malah jadinya besanan), ASKARLO SOULMATE (untuk pasangan anggota, punya forum sendiri untuk mendukung misi belahan jiwa mereka), dan seterusnya…dan seterusnya…

Para peserta pertemuan percaya, mereka dapat melakukannya. Ini bukan keyakinan kosong. Para anggota ASKARLO memiliki kemampuan luar biasa jika menyadari potensinya. Ada antropolog, dekan, walikota, pemimpin partai, pemilik perusahan berskala internasional, direktur perusahan kontruksi, pengelola jaringan waralaba, pedagang batik, petani, arsitek, dokter, buruh, dan seterusnya, pun juga menyerta barisan pengangguran. Persis Indonesia, memang.

Energi rindu masa lalu dalam balutan “fasilitasi hati” PENALAHATI, ditambah dengan gaya celetukan orang Pekalongan yang begitu canggih, menjadikan pertemuan itu penuh dengan warna kegembiraan. “Pertemuan kali ini dihadiri oleh 54 orang ditambah 1 kucing dan 1 bandit,”ujar salah seorang peserta sambil tertawa. Jangan bingung, Bandit dan Kucing adalah nama panggilan SMA untuk dua orang peserta.

Rahasianya kesuksesan pertemuan ASKARLO ada pada kehendak untuk berbuat sesuatu dengan mengambil kembali energi mereka saat masih duduk di kelas II SMA. Masa ketika mereka sedang berani-beraninya. Sedang hebat-hebatnya. Sedang kreatif-kreatifnya. Sedang kuat-kuatnya. Sedang solid-solidnya.

SAKPORE!!!

(diq/dab/aa/aan/ari/pur)


Sampai Jumpa Djuhendi Tadjudin (Jo)

May 6, 2008

“Don, Be, misi Garut selesai. Ide-ide tdk biasa pun muncul. Laporan menyusul, sabtu atau minggu. (sekalian saya mau pamit, utk tidak jadi bagian dari pemilik dan pengelola penala. terima kasih atas semuanya. Maaf kalau saya salah. Selamat.”

(SMS Jo pada Doni dan Dyah pada 28 Maret 2008; pukul 12.31WIB)

From: djuhendi tadjudin
Date: Tue, 29 Apr 2008 14:12:00 +0700 (ICT)
Subject: Catatan Garut
To: Dyah Maro

Dear Ibe,

Ini catatan saya tentang Garut II. Semoga membantu. Kalau ada info
yang kurang, bilang aja.
O ya Be, kalau tidak keberatan, tolong nama saya didrop dari blog
Penalahati. Saya tidak mau jadi bagian dari itu. Maaf dan trim ya Be.
(Terimakasih kalau memang sudah di-delete).

Salam,
Jo

Djuhendi Tadjudin atau biasa dipanggil Jo adalah salah seorang dari bidan yang melahirkan PENALAHATI. Dan, di tahap-tahap awal perjalanan PENALA, Jo menjadi teman, abang, guru, dan inspirator yang membuat saat-saat sulit lebih mudah untuk dilewati. Bagi kami yang ada di PENALA, baik generasi pertama maupun generasi kedua, jejak perannya sungguh tak mudah dilupakan apalagi disetip.

Kami di PENALA selalu percaya pada pilihan-pilihan. Setiap orang, komunitas, suku, bangsa, bahkan negara pasti mempunyai pilihan yang terbaik dengan pertimbangan yang seringkali susah untuk dimengerti orang atau pihak lain. Begitu pula ketika kami menerima dua pesan di atas. Kami (coba) memahami pilihan yang diambil Jo, meski tak terlalu jelas dengan alasan yang melatarbelakanginya. Kami yakin, Jo mengambil pilihan yang terbaik.

Pun begitu, kami juga harus minta maaf karena tidak bisa memenuhi permintaan Jo untuk menghapus namanya dari blog yang selama ini menjadi media pencatat sejarah perjalanan PENALAHATI. Kami kesulitan untuk menghapus orang-orang yang berperan dalam sejarah PENALAHATI. Kami selalu percaya, yang telah tercatat dan terjejak akan selalu dikenang. Karena dari situlah kami belajar, karena dari situlah kami bercermin.

Kami percaya, kebesaran hati Jo akan menerima permohonan maaf kami ini. Tentu tidak sekadar minta maaf, kami juga ingin mengucap terima kasih atas apapun yang telah diberikan Jo kepada kami. Dengan lambaian tangan dan hati yang besar, kami mengucapkan selamat jalan kepada Jo.

Terima kasih kawan, sampai bertemu di persimpangan sejarah lainnya. (diq/dab)