Ulang Tahun di Aceh

June 22, 2008

Tanggal 19 Juni 2008 ini, Penalahati genap berusia satu tahun. Perayaan atas hari jadi ini tidak secara khusus kami adakan. Malah, bertepatan pada tanggal ini, tim Penalahati (Doni, Ibe, Dicky) justru sedang berada di Aceh untuk mengisi kelas dalam Lokakarya Upaya Penyelamatan Ibu, Bayi Baru Lahir dan Anak: “Telaah Melalui Pendekatan Intervensi Terpadu” yang diselenggarakan Dinas Provinsi Kesehatan NAD (didukung HSP/USAID)

Memotong kue tart dan memakannya bersama para peserta workshop bukan sekadar melahirkan kegembiraan merayakan ulang tahun. Tapi, lebih jauh lagi, ini menjadi ajang bagi kami di Penalahati untuk melakukan refleksi setahun perjalanan. Bahwa, di satu sisi kami baru menapak satu langkah perjalanan. Kalau kata seorang kawan, Penalahati baru berhasil melewati babak penyisihan dan sekarang masuk ke babak perempat final. Memang telah menyelesaikan satu fase “pertandingan”, tapi sesungguhnya sedang masuk pada tahapan yang lebih berat dan menantang.

Di sisi lain, perjalanan satu tahun ini juga telah menghadirkan banyak pengalaman. Kami melewati lika-liku perjalanan organisasi yang menarik dan penuh dengan dinamika. Ini sungguh membuat kami merasa kaya. Bukan cuma pengalaman, tapi juga karena cinta dan ketulusan dari sahabat-sahabat dan keluarga kami yang tak henti-hentinya mendukung dan menyemangati. Ini tentu tidak ternilai harganya. Dan, ini yang menjadi sumber kekuatan, terutama di saat-saat kami kelelahan dan kehilangan arah.

Kami percaya, pengalaman terbaik, dukungan para sahabat dan kerabat, serta mimpi masa depan tentang perubahan sosial di negeri ini, akan membuat kami mampu bertahan melewati tahapan-tahapan selanjutnya. Kami juga yakin, bahwa inovasi dan kreatifitas adalah kunci untuk melangkah lebih jauh lagi, serta semakin mendekatkan kami pada tujuan didirikannya organisasi ini, menyeleraskan nada hati nusantara.

Selamat ulang tahun Penalahati Nusantara.

Terima kasih para sahabat dan kerabat yang terus yakin dan percaya.


HOW TO MAKE THE WORKSHOP INTERESTING

June 14, 2008

(Buat RSA, with love)

Sepagi itu bunyi tutttutttuttt menyalak berkali-kali dari telepon genggam saya. Saya menghela napas, kalau sedang dikejar deadline seperti ini gangguan memang bisa muncul dari mana saja. Kening saya berlipat ketika membaca pesan yang baru datang itu.

Tulunnnggg pisan… kasih tau tips-nya, gimana cara bikin workshop yang asyik punya.. Plis, urjen sanget niyy…”

Sahabat saya, si pengirim pesan itu, mengirim pesan yang sama 3 kali berturut-turut. Kalau sudah begini saya tahu betul dia sedang merasa terdesak. Saya memencet nomornya. Suaranya yang biasanya manis nyaris terdengar tercekik histeris begitu mengangkat telepon saya.

Hadduu… dari tadi keeeekkkk telepon gue. Udah mau matek begini gue saking bingungnya..”

Tanpa diminta ia langsung menjelaskan minggu depan ia diminta menyelenggarakan pelatihan untuk karyawan-karyawan di kantornya, sebuah perusahaan consumer goods terkemuka.

Gue tahu mau ngasih apa ke mereka, tapi gimana caranya bikin workshop yang asyik.. yang gak boring? Ayuhh kasih tauu..”

Ia lalu merepet mengatakan betapa kami adalah sahabat dekat dan sudah tugas saya untuk membantunya.

“Itu kewajiban moral. Your life duty is to save me. Start from this dongg..”

Itu pesannya sebelum menutup pembicaraan.

Saya tertegun. Selama ini, meski sudah puluhan, ratusan kali memberi sesi, saya tak pernah merumuskan secara pasti apa saja syarat-syarat untuk membuat pelatihan yang berkesan. Saat ini – setelah tiga jam membolak-balik semua trainer/facilitator’s note yang saya miliki dari setiap pelatihan, setelah dua puluh dua menit bengong tak tahu harus menulis di depan layar notebook- saya mulai menulis. Mudah-mudahan tip ini yang dia butuhkan.

(Sa, baca baik-baik.. Kalau gak sesuai dengan teori yang pernah kita pelajari dulu, ya biar aja. Gak usah dikomentari. Ini semua kristalisasi dari pengalaman. Teori itu cuma alat ngecek … hehehehe)

1. Buat peserta bergerak.
Biasanya yang namanya pelatihan, semua orang duduk terpaku di kursi masing-masing dengan memandang nanar ke arah layar LCD atau justru memandang ujung kepala si pembicara. Kalau sudah begini, ini sama artinya peserta pelatihan kehilangan konsentrasi dan minat. Jadi, rancang kegiatan yang mengkombinasikan kegiatan lektoral dengan kegiatan-kegiatan yang memaksa mereka paling tidak keluar dari tempat duduknya.

2. Gunakan kalimat-kalimat yang cerdas dan menggigit
Sebisa mungkin minimalisirkan penggunaan kata-kata jargonistik. Selain sering bikin orang bingung, sulit juga menghapalnya. Coba contoh kalimat-kalimat yang digunakan copywriter iklan. Singkat, padat dan bernas. Untuk bisa membuat pelatihan menjadi lebih bermakna, gunakan contoh-contoh yang nyata dan dekat dengan keseharian peserta. Use conversational sentences not the boring formal one ☺ . It’s a workshop not a lecture. (Maksudnya Sa…. Gunakanlah bahasa yang sama dengan peserta. Kalau perlu berbahasa daerah, gunakan dong. Bahasa Indonesia yang umurnya baru 50an tahun ini tidak sekaya bahasa-bahasa yang tua. Ini juga cara ampuh untuk melenyapkan jarak psikologis antara trainer dengan trainee. You’re a trainer so please don’t act like a Begawan. It’s scary and jadul bener)

3. Buat semua orang terlibat
Rancang kegiatan sedemikian rupa sehingga tidak ada satu orang pun yang duduk diam. Kalaupun ada kegiatan individual, berikan kesempatan pada peserta untuk membagi hasil kerjanya kepada teman-teman yang lain. Ini juga berguna untuk melumerkan perasaan ‘ah kamu kan eksekutif, aku cuma klerek’

4. Campur-campur
Sesuatu akan lebih ‘menempel’ di otak bila dihantarkan dengan beberapa pendekatan. Gunakan visual yang menarik digabungkan dengan musik atau justru performance. Multimedia tidak hanya berarti komputer.

5. Keep it Fun!
Ini yang paling penting. Pertemuan tidak akan menarik bila tidak membuat pesertanya merasa senang. Yang juga penting, trainer-nya juga mesti merasa fun ketika menghantarkan sesi-nya. Semua perasaan negatif trainer akan terlihat lewat bahasa tubuhnya. Perasaan negatif trainer juga akan menghalangi dia untuk bisa merespon dengan baik para peserta training.

Ya,ya… ini memang baru high light dari “Meeting Management”. Nanti disambung lagi ya. Tunggu saja.

(ibe, enfp, Gemini, adult add – biar ngerti kenapa I had this tingling absurd ideas about writing a blog)

PS: This should be posted in my personal blog. But I believe you guys – not only you Sa. Hey, I have other friends too, you know- also need to read this.

PS2: Om Diq, Om Dab, Om Ben, hapunten the languange. Nyuhunkeun pangampura. Hidup Jus Badudu! Hidup EYD!


Pelatihan PROMKES: Berani Mencoba yang Berbeda

June 6, 2008

Kreatifitas dibutuhkan siapa saja. Termasuk, para birokrat dan pegawai pemerintahan. Pun begitu, bukan perkara mudah mengubah cara berpikir instruksional menjadi bebas mengeksplorasi. Itu yang terjadi pada pelatihan Media Promosi Kesehatan yang diadakan pada 20-24 Mei 2008 lalu yang diselenggarakan Promkes Depkes bekerjasama dengan PENALAHATI.

52 peserta yang berasal dari Promkes dari 30 provinsi di Indonesia merasakan hal tersebut. Kreatifitas menjadi beban karena selama ini mereka terbiasa mengerjakan sesuatu berdasarkan perintah atasan. Kalaupun mereka kreatif, tak jarang atasan yang tak tahu apa-apa soal itu, kerap membatasinya. Hasilnya, promosi kesehatan yang mereka rancang pun biasa-biasa saja dan tak bunyi ketika dilempar ke masyarakat.

Tim PENALAHATI coba untuk menggoyang kebekuan ini. Caranya sederhana, mengajak para peserta untuk keluar dari batas-batas yang ada. Sedari awal, kami meminta mereka untuk “gila” dan tidak sibuk “jaim”. Untuk menguatkannya, kami sengaja menyertakan tim media lengkap: dari ilustrator, penulis, copywriter, video maker, ilustrator, fotografer, hingga performer. Selama empat hari penuh, para peserta didampingi secara ketat, tidak saja di dalam kelas, tapi juga luar kelas, bahkan di sela-sela istirahat mereka.

Untuk semakin menguatkan proses pembelajaran, goal akhir dari pelatihan adalah pameran di depan publik. Tujuannya agar para peserta memahami konteks realita dan bersentuhan langsung dengan masyarakat. RSD Ciawi dipilih sebagai tempat pameran karya-karya mereka. Sungguh menyenangkan, ketika para pasien dan pembesuk mengomentari karya-karya mereka serta ada proses dialog di antara mereka. Dari situ, para peserta belajar, bahwa kreatifitas memang sungguh dibutuhkan jika ingin pesan-pesan kesehatan sampai ke masyarakat.

Satu yang penting, para peserta merasakan adanya perubahan dalam diri mereka. Yang semula pesimis pameran dapat terselenggara, menjadi optimistis bahwa mereka mampu melakukannya. Yang awalnya merasa tidak kreatif, terkejut sendiri melihat hasil karya mereka. Yang di depan kebingungan, menjadi senang dan tahu apa yang harus mereka lakukan selanjutnya di tempat masing-masing. Rahasianya cuma satu, mau mencoba melakukan yang berbeda. Sungguh, tidak ada yang tidak mungkin rupanya. (diq)