(Buat RSA, with love)
Sepagi itu bunyi tutttutttuttt menyalak berkali-kali dari telepon genggam saya. Saya menghela napas, kalau sedang dikejar deadline seperti ini gangguan memang bisa muncul dari mana saja. Kening saya berlipat ketika membaca pesan yang baru datang itu.
“Tulunnnggg pisan… kasih tau tips-nya, gimana cara bikin workshop yang asyik punya.. Plis, urjen sanget niyy…”
Sahabat saya, si pengirim pesan itu, mengirim pesan yang sama 3 kali berturut-turut. Kalau sudah begini saya tahu betul dia sedang merasa terdesak. Saya memencet nomornya. Suaranya yang biasanya manis nyaris terdengar tercekik histeris begitu mengangkat telepon saya.
“Hadduu… dari tadi keeeekkkk telepon gue. Udah mau matek begini gue saking bingungnya..”
Tanpa diminta ia langsung menjelaskan minggu depan ia diminta menyelenggarakan pelatihan untuk karyawan-karyawan di kantornya, sebuah perusahaan consumer goods terkemuka.
“Gue tahu mau ngasih apa ke mereka, tapi gimana caranya bikin workshop yang asyik.. yang gak boring? Ayuhh kasih tauu..”
Ia lalu merepet mengatakan betapa kami adalah sahabat dekat dan sudah tugas saya untuk membantunya.
“Itu kewajiban moral. Your life duty is to save me. Start from this dongg..”
Itu pesannya sebelum menutup pembicaraan.
Saya tertegun. Selama ini, meski sudah puluhan, ratusan kali memberi sesi, saya tak pernah merumuskan secara pasti apa saja syarat-syarat untuk membuat pelatihan yang berkesan. Saat ini – setelah tiga jam membolak-balik semua trainer/facilitator’s note yang saya miliki dari setiap pelatihan, setelah dua puluh dua menit bengong tak tahu harus menulis di depan layar notebook- saya mulai menulis. Mudah-mudahan tip ini yang dia butuhkan.
(Sa, baca baik-baik.. Kalau gak sesuai dengan teori yang pernah kita pelajari dulu, ya biar aja. Gak usah dikomentari. Ini semua kristalisasi dari pengalaman. Teori itu cuma alat ngecek … hehehehe)
1. Buat peserta bergerak.
Biasanya yang namanya pelatihan, semua orang duduk terpaku di kursi masing-masing dengan memandang nanar ke arah layar LCD atau justru memandang ujung kepala si pembicara. Kalau sudah begini, ini sama artinya peserta pelatihan kehilangan konsentrasi dan minat. Jadi, rancang kegiatan yang mengkombinasikan kegiatan lektoral dengan kegiatan-kegiatan yang memaksa mereka paling tidak keluar dari tempat duduknya.
2. Gunakan kalimat-kalimat yang cerdas dan menggigit
Sebisa mungkin minimalisirkan penggunaan kata-kata jargonistik. Selain sering bikin orang bingung, sulit juga menghapalnya. Coba contoh kalimat-kalimat yang digunakan copywriter iklan. Singkat, padat dan bernas. Untuk bisa membuat pelatihan menjadi lebih bermakna, gunakan contoh-contoh yang nyata dan dekat dengan keseharian peserta. Use conversational sentences not the boring formal one ☺ . It’s a workshop not a lecture. (Maksudnya Sa…. Gunakanlah bahasa yang sama dengan peserta. Kalau perlu berbahasa daerah, gunakan dong. Bahasa Indonesia yang umurnya baru 50an tahun ini tidak sekaya bahasa-bahasa yang tua. Ini juga cara ampuh untuk melenyapkan jarak psikologis antara trainer dengan trainee. You’re a trainer so please don’t act like a Begawan. It’s scary and jadul bener)
3. Buat semua orang terlibat
Rancang kegiatan sedemikian rupa sehingga tidak ada satu orang pun yang duduk diam. Kalaupun ada kegiatan individual, berikan kesempatan pada peserta untuk membagi hasil kerjanya kepada teman-teman yang lain. Ini juga berguna untuk melumerkan perasaan ‘ah kamu kan eksekutif, aku cuma klerek’
4. Campur-campur
Sesuatu akan lebih ‘menempel’ di otak bila dihantarkan dengan beberapa pendekatan. Gunakan visual yang menarik digabungkan dengan musik atau justru performance. Multimedia tidak hanya berarti komputer.
5. Keep it Fun!
Ini yang paling penting. Pertemuan tidak akan menarik bila tidak membuat pesertanya merasa senang. Yang juga penting, trainer-nya juga mesti merasa fun ketika menghantarkan sesi-nya. Semua perasaan negatif trainer akan terlihat lewat bahasa tubuhnya. Perasaan negatif trainer juga akan menghalangi dia untuk bisa merespon dengan baik para peserta training.
Ya,ya… ini memang baru high light dari “Meeting Management”. Nanti disambung lagi ya. Tunggu saja.
(ibe, enfp, Gemini, adult add – biar ngerti kenapa I had this tingling absurd ideas about writing a blog)
PS: This should be posted in my personal blog. But I believe you guys – not only you Sa. Hey, I have other friends too, you know- also need to read this.
PS2: Om Diq, Om Dab, Om Ben, hapunten the languange. Nyuhunkeun pangampura. Hidup Jus Badudu! Hidup EYD!
September 18, 2008 at 10:39 am |
hehe..lama gak berkunjung kesini…ceritanya asik2..
be, minta dung alamat blog pribadi luw…mo gue link, boleh ya, boleh ya??
sukses selalu ya, penalahati