Urutan 3 besar, dari bawah. Begitu peringkat Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dibandingkan 33 provinsi yang ada di Indonesia, NTT berada di peringkat 30. Ini jelas bukan urutan yang nyaman dan menenangkan. Berbagai pendekatan telah dicoba, tapi AKI dan AKB tak juga beranjak turun.

Pasien menumpuk, dokter tak datang
Perencanaan Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir, dan Anak Balita (KIBBLA) dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah berbasis tim kabupaten (DTPS) atau biasa disingkat sebagai Perencanaan DTPS KIBBLA menjadi harapan baru. Gema keberhasilan uji coba Perencanaan DTPS KIBBLA oleh Depkes bekerja sama dengan Health Services Program (HSP)/USAID di enam provinsi (Sumut, Jabar, Jatim, NAD, Banten, dan DKI Jakarta) selama 2007-2008 membuka ruang kemungkinan baru bagi para pengelola kesehatan di NTT.
Orientasi Multipihak DTPS KIBBLA telah dilangsungkan di 9 kabupaten di NTT pada 19-27 Januari lalu, dilaksanakan oleh Dinkes dan Bappeda dan didukung oleh Penalahati Nusantara, Depkes, dan AIP-MNH/AusAID. Respon yang diberikan luar biasa, meski awalnya para pihak apatis dan curiga pada “bawaan” orang-orang “pusat”. Para pihak mengakui, persoalan KIBBLA bukan semata urusan Dinas Kesehatan saja, melainkan persoalan semua pihak. Banyak yang terkait, ternyata. Keterabaian akses masyarakat dapat menyebabkan kematian ibu atau bayi baru lahir. Ketiadaan pangan alternatif, dapat membuat bayi kekurangan gizi. Dinas Kimpraswil dan Pertanian sangat berperan di sini. Belum lagi peran tokoh adat dan kaum lelaki yang sangat dominan dalam pengambilan keputusan. Semua kemudian merasa, urusan KIBBLA sudah selayaknya menjadi masalah bersama dan harus diatasi secara bersama-sama. Para pihak menyatakan komitmennya dengan bersama-sama menandatangani kain berisikan janji untuk mendukung dan mengawal KIBBLA di Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, Ngada, Ende, Sika, Lembata, Sumba Barat, Sumba Timur, dan Kota Kupang
Langkah pertama, adalah dengan merencanakan secara baik dan tepat intervensi-intervensi macam apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah yang membelit kesehatan di 9 kabupaten tersebut. Orientasi multipihak kemarin telah memilih tim perencana kabupaten yang selama lima hari akan bergulat dengan data dan angka, serta membuka ruang imajinasi seluas-luasnya untuk mendapatkan solusi-solusi yang tepat dan jitu. Bulan Februari ini rencananya Lokakarya Perencanaan DTPS KIBBLA untuk 9 kabupaten itu akan dilangsungkan secara simultan. Semua berharap, ini menjadi langkah-langkah awal perbaikan kondisi kesehatan ibu dan anak di NTT. Pun begitu, semua menyadari, penurunan AKI, AKB dan AKABA di NTT tidak semudah membalik telapak tangan. Ada banyak langkah lain yang harus dijalani danĀ akan segera menjelang di depan mata.
February 6, 2009 at 8:17 am |
Dokternya kemana ya sampai pasiennya menumpuk?
Apa lebih memilih di kota2 besar?
bagaimana dengan bidan2 yang ada disana?