Ada yang baru dari alur proses Lokakarya Perencanaan DTPS KIBBLA. Pada empat lokakarya yang melibatkan tim perencana dari tujuh kabupaten (Manggarai Barat, Manggarai, Ngada, Ende, Sikka, Sumba Barat, Sumba Timur) dan satu kota (Kota Kupang), Penalahati memperkenalkan gagasan dan metode Geomedis Kesehatan.

Gagasan ini lahir dari kesadaran persoalan KIBBLA tidak bisa diselesaikan hanya memusatkan perhatian pada teknis medis saja. Melainkan, menempatkan sebagai bagian dari sistem yang ada: geografi, sosial, budaya, dll. Dengan cara ini, dapat terlihat jelas, bagaimana KIBBLA, atau kesehatan umumnya, adalah akibat dari sebuah pergerakan sistem yang besar. Kesakitan dan kematian ibu dapat disebabkan kelalaian tenaga kesehatan, tapi juga diakibatkan oleh rentetan sebab lainnya. Seperti, aksesibilitas yang buruk (jalan rusak dan sulit), ketiadaan layanan listrik (banyak alat medis yang perlu tenaga listrik untuk dapat berfungsi optimal), ketiadaan air bersih dan sanitasi yang tidak sehat, aturan adat yang mengekang dan old fashion, pengambilan keputusan yang lambat, praktek dukun kelahiran yang mengabaikan prinsip-prinsip kesehatan dan pertolongan kelahiran, hingga kebijakan yang keliru dan tidak tepat. Untuk bayi dan balita, kurang lebih begitu juga jaringan sistem permasalahannya. Khusus untuk masalah kematian balita, ditambah lagi dengan penyakit dan kerawanan pangan, yang lagi-lagi akan terkait dengan jaringan-jaringan lainnya (penyakit berurusan dengan wabah, dengan higenitas lingkungan hidup, dengan makanan, dengan air bersih, dan seterusnya).
Oleh sebab itu, dalam sebuah proses perencanaan pemecahan masalah KIBBLA, tidak bisa tidak, tim perencana harus memikirkan solusi-solusi dari berbagai sistem. Urusan air dan listrik, jelas bukan “Tupoksi” Dinas Kesehatan. Begitu juga, soal adat istiadat, jalan rusak, ketahanan pangan, bahkan kebijakan. Tim Kabupaten (District Team) yang berasal dari berbagai instansi diharapkan dapat memberikan kontribusi solusi atas persoalan sistemik yang ada. Jalan rusak bisa jadi urusan PU atau Kimpraswil. Sedangkan air urusan PAM, listrik langsung diurus PLN, kebutuhan gizi dengan dinas pertanian, begitu seterusnya…
Perkaranya, tim perencana acapkali kesulitan dalam membunyikan data dan angka yang mereka bawa. Angka dan data tentang persoalan KIBBLA sering gagal dibaca secara cerdas dan komprehensif, serta tidak memberikan gambaran utuh tentang persoalan yang ada. Bahkan, tak jarang terjebak dalam kekacauan logika. Masak jumlah ibu melahirkan lebih besar daripada angka ibu yang hamil? Itu baru satu contoh. Contoh lain, angka kelahiran, kesakitan, dan kematian sama besar. Wah, itu pasti kasus luar biasa, tidak ada yang berhasil ditolong. Kalau angka itu benar, pasti kepala dinas kesehatan harus turun dari jabatanya. Bagaimana mungkin, bayi yang lahir, sakit dan mati sama besar? Apa yang dikerjakan petugas kesehatan? Ternyata, ketidaktelitian membaca dan mencantumkan data jadi persoalan sebenarnya.
Gagasan geomedis kemudian mencoba untuk membantu tim perencana meletakkan semua angka dan data itu secara visual, sehingga lebih gampang membaca persoalan KIBBLA di kabupaten mereka. Caranya sederhana saja, data-data itu diletakkan di peta buta kabupaten. Dan, woala, langsung terlihat sistem jaringan persoalan. Tim pun langsung bisa menelusuri penyebab mengapa angka kematian di sebuah puskesmas desa lebih tinggi dibandingan puskesmas di desa lain? juga segera tahu, ada sebuah desa yang banyak fasilitas dan tenaga kesehatannya, tapi justru angka kematian ibu paling tinggi. Semua tergambar secara visual, lengkap dengan tanda-tanda geografisnya.
Ketika merancang solusi dan kegiatan, tim perencana langsung bisa membayangkan apa yang harus mereka lakukan. Pilihannya tidak selalu terkait dengan aspek medis, bisa saja membangun jalan menuju kampung terpencil, memperbaiki sistem sanitasi, atau bisa juga membangun kesadaran di kalangan para pengambil keputusan di desa (suami, mertua, tetua adat, dll). Juga, dapat merencanakan perbaikan-perbaikan kesalahan di masa lampau (misalnya, mendekatkan puskesmas ke pemukimanan, melatih tenaga kesehatan, magang bidan, atau bahkan membangun sistem kemitraan dengan dukun – meniadakan dukun sama sekali ternyata susah).
Pada praktek fasilitasinya, geomedis ini bisa diletakkan sebelum sesi satu. Tim perencana per kabupaten untuk menggambarkan hasil pengisian tabel (1A-D) pada Sesi 1: Analisis Situasi dan Penyebab Masalah di sebuah peta buta setingkat kecamatan. Mereka diminta meletakkan simbol fasilitas kesehatan, kasus-kasus kesehatan dan kematian, serta faktor-faktor penghambat di tempat-tempat yang tepat. Sambil membaca data dan angka, mereka kemudian membuat gambaran peta kesehatan yang jelas. Ini akan sangat membantu pemetaan ruang dan pencarian solusi-kegiatan di sesi-sesi berikutnya.
Gagasan dan metode ini berfungsi dengan baik saat dipraktekkan. Para peserta mengakui sangat terbantu dalam “menghidupkan” angka dan data, serta menjadikan terang langkah-langkah apa yang harus diambil. It works!
(dicky lopulalan/nyala nusantara)
March 20, 2009 at 11:33 pm |
terima kasih banyak buat pa Dicky dkk. Tolong kegiatan Lokakarya DTPS KIBBLA Lembata juga dimuat di blog ini dong. Selamat berkarya…besar harapan saya semoga kita dapat bertemu lagi..maaf ya pa Dicky HP saya lagi ngadat ni jadi untuk sementara tidak dapat dihubungi. Dalam waktu dekat internet di kantor Bappeda Lembata dipasang jadi saya pasti akan sering baca blog penalahati. Tolong pa dicky kirimi saya alamat e-mail dan nomor hp nya pa Dicky ke alamat e-mail saya di atas…maaf ya uda mengganggu kesibukan pa Dicky…
Sukses selalu buat pa Dicky dkk…