Intermezo: Peran Lelaki dan KIBBLA di NTT

February 10, 2009

“Urusan KIBBLA tanggung jawab bersama.” Begitu aklamasi yang muncul setiap kali diselenggarakan Orientasi Multipihak DTPS KIBBLA. Di tingkat kesadaran, aklamasi seperti ini memang mengharukan. Akan tetapi, benarkah semuanya bertanggung jawab? Juga, kaum lelaki? Jawaban yang diberikan sangat sederhana, Suami Siaga, Suami Siap Antar Jaga. Itu sajakah?

Kasus-kasus kematian ibu dan bayi baru lahir di NTT sangat banyak yang disebabkan peran lelaki. Ya, lelaki! Dan, lelaki itu berperan sebagai suami, mertua, bahkan ketua adat, yang menentukan seorang ibu dibawa kemana pada saat waktunya melahirkan. Ini memang menggelikan, bagaimana nasib seorang ibu ditentukan oleh keputusan ketua adat yang sama sekali tidak akan menanggung konsekuensi dari keputusannya. Tak jarang, untuk mengambil keputusan harus memakan waktu lama sementara sang ibu mengalami pendarahan hebat. Tak sedikit pula yang salah dalam melihat gejala-gejala kesakitan seorang perempuan yang akan melahirkan dan menyerahkan penanganannya pada dukun. Tak heran, jika kasus-kasus kematian ibu dan bayi di NTT sangat tinggi.


Sampai Jumpa Djuhendi Tadjudin (Jo)

May 6, 2008

“Don, Be, misi Garut selesai. Ide-ide tdk biasa pun muncul. Laporan menyusul, sabtu atau minggu. (sekalian saya mau pamit, utk tidak jadi bagian dari pemilik dan pengelola penala. terima kasih atas semuanya. Maaf kalau saya salah. Selamat.”

(SMS Jo pada Doni dan Dyah pada 28 Maret 2008; pukul 12.31WIB)

From: djuhendi tadjudin
Date: Tue, 29 Apr 2008 14:12:00 +0700 (ICT)
Subject: Catatan Garut
To: Dyah Maro

Dear Ibe,

Ini catatan saya tentang Garut II. Semoga membantu. Kalau ada info
yang kurang, bilang aja.
O ya Be, kalau tidak keberatan, tolong nama saya didrop dari blog
Penalahati. Saya tidak mau jadi bagian dari itu. Maaf dan trim ya Be.
(Terimakasih kalau memang sudah di-delete).

Salam,
Jo

Djuhendi Tadjudin atau biasa dipanggil Jo adalah salah seorang dari bidan yang melahirkan PENALAHATI. Dan, di tahap-tahap awal perjalanan PENALA, Jo menjadi teman, abang, guru, dan inspirator yang membuat saat-saat sulit lebih mudah untuk dilewati. Bagi kami yang ada di PENALA, baik generasi pertama maupun generasi kedua, jejak perannya sungguh tak mudah dilupakan apalagi disetip.

Kami di PENALA selalu percaya pada pilihan-pilihan. Setiap orang, komunitas, suku, bangsa, bahkan negara pasti mempunyai pilihan yang terbaik dengan pertimbangan yang seringkali susah untuk dimengerti orang atau pihak lain. Begitu pula ketika kami menerima dua pesan di atas. Kami (coba) memahami pilihan yang diambil Jo, meski tak terlalu jelas dengan alasan yang melatarbelakanginya. Kami yakin, Jo mengambil pilihan yang terbaik.

Pun begitu, kami juga harus minta maaf karena tidak bisa memenuhi permintaan Jo untuk menghapus namanya dari blog yang selama ini menjadi media pencatat sejarah perjalanan PENALAHATI. Kami kesulitan untuk menghapus orang-orang yang berperan dalam sejarah PENALAHATI. Kami selalu percaya, yang telah tercatat dan terjejak akan selalu dikenang. Karena dari situlah kami belajar, karena dari situlah kami bercermin.

Kami percaya, kebesaran hati Jo akan menerima permohonan maaf kami ini. Tentu tidak sekadar minta maaf, kami juga ingin mengucap terima kasih atas apapun yang telah diberikan Jo kepada kami. Dengan lambaian tangan dan hati yang besar, kami mengucapkan selamat jalan kepada Jo.

Terima kasih kawan, sampai bertemu di persimpangan sejarah lainnya. (diq/dab)


Apreasiasi dan Rekognisi

March 30, 2008

PENALAHATI tampil mengesankan. Bukan hendak bersombong diri, tapi paling tidak, begitu kesimpulan kami saat mencermati respon-respon dari Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten, lembaga donor, Departemen Kesehatan dan berbagai pihak yang terikut dalam Lokakarya Perencanaan Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir, dan Anak dengan pendekatan Tim Kabupaten/Kota (DTPS KIBBLA) selama seminggu terakhir ini. Anda boleh menilainya sendiri.

“Hati-hati dengan orang Siantar, dia akan lebih bisa menggetarkan hatimu, bila hatinya sudah digetarkan.” (Nur Hasrat, Siantar)

“Untuk Penalahati yang istimewa, terima kasih karena sudah menggetarkan hati kami.” (Nuraisyah azizah, Sibolga)

“Di balik semua ini adalah rekan-rekan dari Penalahati.” (Rambey, RO HSP Sumut)

“Terima kasih kepada Penalahati yang telah membuat pertemuan ini menjadi berkesan.” (Christ, Depkes, pada pidato penutupan)

“Yang membuat pertemuan DTPS menjadi berbeda, tidak membosankan, dan teman-teman jadi memahami proses perencanaan. Terima kasih Penala.”
(Lady D, pidato penutupan peserta terbaik).

“Pertemuan ini disingkat jadi 3S. Santai, Serius, dan Selesai. Penalahati dibaliknya.” (H. Shahabudin, anggota DPRD Aceh Besar).

Sistem partisipatif ini seharusnya dikembangkan bukan hanya untuk bidang kesehatan saja.” (Asmui, fasilitator Sumut, saat rehat kopi)

“Orang-orang Penala ini memang edan-edan. Orangtua dikerjain, tapi ya kok senang.” (Damayanti, Dinkesprov Jawa Timur.)

“Amazing! It’s a real workshop!” (Pamela, JSI)

“There are a lot of positive news about you.” (Mark, Abt)

“Terima kasih. Saya gak tahu bagaimana jadinya acara ini tanpa kalian.” (Lies, HSP Jakarta Office, saat bersalaman sesudah acara).

Respon-respon di atas muncul dari para peserta tim kerja (Fasilitator Utama, Fasilitator Nasional, Fasilitator Provinsi dan perwakilan lembaga donor) ketika melakukan proses lokakarya dilaksanakan selama lima hari, 24-28 Maret 2008, serempak di empat provinsi: Nangroe Aceh Darusallam (NAD), Sumatera Utara (Sumut), Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Peran PENALA, memastikan proses perencanaan DTPS KIBBLA berjalan dengan baik, partisipatif, dan mendapatkan keluaran yang optimal. Tugas PENALA adalah mendampingi dan mendorong fasilitator dan penyelenggara untuk berfikir kreatif dan inovatif. Pendekatan ini ternyata manjur. Jadilah, berbagai macam atraksi, dari ketoprakan, wayang beber, teaterikal, lagu dan musik, tari, newsletter harian, hingga pemutaran film proses pertemuan itu sendiri. Pertemuan DTPS KIBBLA tidak lagi menjadi momok seperti tahun-tahun sebelumnya, melainkan menjadi sebuah pertemuan yang mengesankan.

Persiapan tim jadi kunci utamanya. Doni sebagai libero PENALA dipercaya untuk menyusun tim kerja. Teman-teman fasilitator yang ada di jejaring empat provinsi tersebut dikontak, siap berkerja. Dicky, Joko (Pontianak), dan Hikmat diberangkatkan ke NAD merespon permintaan Depkes yang menyatakan NAD sebagai wilayah “berat”. Doni, Benito (Bali), dan Ogun berangkat ke Medan dan Brastagi untuk “mengawal” proses pertemuan tim DTPS KIBBLA Sumut Dyah, Novi, dan Noya menuju Surabaya. Di sana, mereka mendapat dukungan Ken dan kawan-kawan. Juhendi, Kacong, Aan, dan Vita ke Garut untuk wilayah Jabar.

Sebenarnya, bukan hanya peserta yang mendapat manfaat dari proses pertemuan yang diselenggarakan secara paralel ini. Penalahati juga mendapatkan manfaat yang tak terbilang. Kami belajar bekerja paralel, ‘menghidupkan’ jejaring idle, dan menyisir keraguan. Manfaat ini membuat tim PENALAHATI semakin kuat dan tajam. Setiap tim bekerja dengan memanfaatkan jejaring efektif masing-masing Kohesivitas tim sangat lekat dan mulai bergerak seperti mahluk biologis-organik. PENALAHATI sedang dalam proses berubah.

Perubahan juga menuntut konsekuensi-konsekuensi. Ketika PENALAHATI mendapatkan pujian yang begitu besarnya, sesungguhnya kami juga mendapatkan beban dua kali lipatnya. PENALAHATI bukan cuma harus membuktikan dan mempertahankan kualitas, tapi juga harus berkerja lebih keras dan lebih serius. Artinya sederhana, PENALAHATI tidak bisa lagi dipandang sebagai kerja sampingan. Ini sudah menjadi yang utama. Kebanyakan teman sepakat itu. Pun yang tidak, menepi dengan sukarela atau mengambil pilihan yang berbeda. Kerja terfokus memang sangat dibutuhkan dalam era penuh pilihan seperti sekarang ini.

Melihat manfaat yang didapatkan, sudah sepantasnyalah jika PENALAHATI yang seharusnya berterima kasih dan mengucapkan apresiasi setinggi-tingginya pada setiap orang terlibat dalam proses perencanaan DTPS KIBBLA. Merekalah yang membuat PENALAHATI tumbuh dengan cepat dan kuat. Apresiasi setinggi-tingginya kami berikan pada para peserta petemuan, penyelenggara, FU, FN, FP, kepada teman-teman musisi, game masters, dan training crew di Surabaya, Bandung, Banda Aceh dan Medan. Terima kasih karena semua pelajaran dan pengalaman yang di-sharing kepada kami. Terima kasih.. (diq)

P.s.: Sampai jumpa di lain kesempatan pada waktu mendatang. Jabat erat!


Kisah dari Pengalengan

February 2, 2008

Beberapa waktu lalu, kami bertemu secara tidak sengaja dengan Nana Mulyana. Kawan lawas, dosen yang gemar bertandang ke desa-desa. Ia membawa cerita tentang perubahan yang terjadi sebuah kampung kecil di Pengalengan, Jawa Barat. Nana dan dua kawan dosen lainnya memutuskan untuk tinggal di sebuah kampung yang sedang berkonflik dengan PDAM karena kotoran sapi ternak petani mencemari sumber mata air yang menjadi sumber air bersih yang dikelola PDAM.

Solusinya, sungguh menarik. Kotoran sapi (perah) tersebut diolah menjadi biogas dengan cara menampung kotoran dan menyalurkan gas yang dihasilkan dengan selang-selang pelastik ke rumah-rumah tangga. “Dengan 3 ekor sapi, ada 40 rumah yang dapat memasak.” Biogas juga diolah menjadi listrik dengan memanfaatkan genset buatan China sebagai pembangkit awal. “Listrik bisa digunakan 147 rumah selama delapan jam.”

Inovasi ternyata tak berhenti. Dari kotoran sapi yang telah diperas gasnya itu, petani memanfaatkannya untuk beternak cacing. Rumah cacing sangatlah baik untuk pupuk tanaman sayur. Sedangkan cacingnya, mereka manfaatkan untuk memberi makan ikan di empang dan ternak bebek. “Bebeknya bertelur selama 352 hari selama setahun. Hampir sepanjang tahun bertelur.”

Untuk pakan sapi, rumput saja memang bisa. Tapi, inovasi yang dilakukan para petani cukup memikat. Mereka membuat pakan sapi tersebut dari ampas tahu. caranya, membuat pabrik tahu sederhana dengan tujuan utama pemanfaatan ampas tahu. Tahunya sendiri mereka pasarkan secara mandiri ke warung-warung di kampung atau dikonsumsi kelompok petani itu sendiri.

Sekarang, semuanya berkembang dengan cepat dan sistemik. Telur bebek melahirkan produk baru, telur asin yang dapat diperdagangkan. Begitu pula dengan penjualan bibit dan daging bebek. Dari biogas dan bio-listrik ada banyak kemungkinan yang bisa dilakukan petani. Ampas pengolahan biogas dan biolistrik mereka gunakan untuk pupuk yang baik bagi sayuran, tanaman hias, tanaman buah, tanaman obat, dan lain-lain. Dari pakan yang dihasilkan cacing, mereka dapat memelihara pelbagai jenis ikan di empang. Terjadi diversifikasi usaha: sebagian memelihara ikan pakan air tawar, sebagian lain mengembangkan usaha ikan hias air tawar. “Itu belum memanfaatkan susu hasil perahan. Sekarang, masih diminum saja, padahal dapat diolah menjadi keju dan yogurt.” Rencananya, kelompok petani di kampung-kampung sebelah akan mengikuti jejak ini.

Cerita di atas terjadi dalam waktu tidak sampai satu tahun! Luar biasa, karena gerakan memanfaatkan kotoran sapi tersebut tidak saja menyelesaikan konflik masyarakat dengan PDAM, malahan lebih jauh, mengatasi persoalan energi, pangan, dan ekonomi masyarakat. Tidak sampai setahun, 147 rumah tangga terselamatkan. Biaya yang dibutuhkan? “Tidak sampai 2 juta. Yang mahal, sapinya, tapi itu udah milik petani. Genset dan selang, biaya yang paling dominan. Yang lainnya bisa diupayakan sendiri,”ujar kawan kami tadi sambil tertawa.

Cerita ini begitu menyemangati kami yang berkegiatan di PENALAHATI. Bahwa, di tengah kemandegan sekarang ini, lahir cerita-cerita yang membanggakan hati. Ini semakin memperlihatkan, betapa banyak orang-orang yang terus bergerak untuk mendorong perubahan sosial, tanpa harus menggunakan dana berlebihan, atau publisitas yang berhamburan. Mereka bekerja diam-diam dengan masyarakat dan membagi pengetahuannya dengan terbuka dan enteng. Bagi mereka, jika gagasan masyarakat itu dikembangkan ditempat lain tentulah sangat baik. Pun begitu, tanpa harus dengan gembar-gembor dan ramai.

Proses pembangunan dan perubahan sosial dapat dilakukan dengan angka murah. Dibandingkan dengan uang trilyunan dollar yang dicurahkan donor, atau milyaran rupiah yang dikeluarkan korporat dalam program CSR, atau ratusan juta yang dioperasionalkan bejibun aktivis LSM, apa yang dilakukan tiga dosen ini jelas kalah gigantik. Tapi, hasilnya besar, banyak, terukur, dan berkelanjutan. Hanya dengan uang dua juta rupiah sebagai pemicu awal, gerakan perubahan yang terjadi menjalar ke segala arah dan menciptakan peluang-peluang baru. Perubahan sosial dikelola sebagai sebuah sistem organik, sistem yang hidup, yang terus berkembang sesuai kebutuhan.

Pelajaran lain yang juga kami dapatkan, bahwa sebuah proses perubahan sosial itu dapat dilakukan secara cepat asalkan kita menemukan pintu masuk yang tepat. Dalam kisah di atas, pintu masuknya adalah energi hasil pemanfaatan kotoran sapi. Kita tidak lagi bisa mengandaikan bahwa perubahan akan terjadi dalam waktu 5-10 tahun. Terlalu lama. Sulit untuk mempertahankan momentum dan mental selama ini. Perlu dipikirkan sebuah ledakan kreatifitas di awal yang mendorong terjadinya ledakan-ledakan kreatifitas lainnya. Dengan cara begitu, kita akan menemukan banyak tawaran dan banyak kemungkinan baru dalam waktu yang singkat. Bukankah semuanya telah tersedia, tinggal kita mau memulai dari mana.

Cerita ini kami bagi kemana-mana. Barangkali, bisa jadi makanan jiwa kita dan mengubah cara berfikir kita tentang sistem sosial. (diq)


Chevron Ubah Pendekatan

December 20, 2007

Medio September 2007, tim pelatih PENALAHATI ( aka beLight Mitra) diminta untuk melakukan coaching bagi Tim Community Affairs (CA) PT Chevron Geothermal Indonesia (CGI) di Darajat, Garut, Jawa Barat. Ini memang bukan pertama kalinya PENALAHATI bekerjasama dengan korporat. Sebelumnya, PENALAHATI juga sudah bekerja sama Chevron areal Gunung Salak. Beberapa pendiri PENALAHATI juga membangun hubungan kerja dengan PT Berau Coal berkaitan dengan program-program Community Development (COMDEV) dan Corporate Social Responsibility (CSR). Bagi kami memang, pendorong perubahan tidak melulu pemerintah, masyarakat, atau lembaga swadaya masyarakat (LSM). Korporat atau perusahaan pun punya peluang untuk mendorong perubahan sosial.
04darajat1.gif

CGI terletak di kawasan dingin Darajat. Perusahaan pengolah panas bumi untuk diubah menjadi listrik ini beberapa waktu terakhir kerap mengalami tekanan dari banyak pihak. Di tingkat fisik, pembukaan hutan di sekitar perusahaan untuk lahan-lahan sayur oleh masyarakat setempat menurunkan kualitas panas bumi yang dihasilkan. Perusahan ini juga beberapa kali didemonstrasi oleh masyarakat yang mengharapkan dapat pekerjaan di perusahaan tersebut. Pemerintah daerah juga mempersoalkan kehadiran perusahaan ini terkait dengan persentase pembagian hasil antara pemda dan pemerintah pusat. Media massa ikut nge-gong-in sehingga suasana menjadi panas.

Pemahaman tim tentang CSR terbilang beragam. Pada prakteknya, relasi yang dibangun dengan pihak-pihak lain bersifat charity dan philantrophy. Masyarakat mengirimkan proposal dan perusahaan melayaninya. Atau, perusahaan menyalurkan bantuan melalui pemerintah desa, dan hilang begitu saja tak berbekas. Informasi, data, dan rekomendasi yang didasarkan pada pemerintah desa tidak banyak manfaatnya, bahkan seringkali ada urusan KKN di dalamnya. Sementara, tidak ada perubahan imej atas perusahaan. Pejabat publik dan LSM tetap mencurigai Chevron sebagai perusahaan kapitalis yang mau menang sendiri. Masyarakat mengindentikkan Chevron sebagai perusahaan Amerika yang kasar, kafir, dan murtad.

Selama tiga hari, PENALAHATI mengajak anggota tim CA untuk berdiskusi tentang nilai-nilai dan praktek bekerja selama ini. Kami menggunakan pendekatan Sistem Thinking dan Appreciative Inquiry untuk membongkar persoalan sistemik apa yang terjadi di perusahaan itu secara keseluruhan, pengalaman terbaik para peserta berhubungan dengan masyarakat selama ini, mimpi relasi masyarakat dengan perusahaan di masa depan, dan hal-hal apa saja yang harus dilakukan di masa mendatang.

Dari hasil diskusi, terlihat inti persoalannya ada paradigma perusahaan dalam menyelenggarakan CSR. Selama ini, CGI melaksanakan program CSR dalam bentuk charity dan philantrophy. Dua gaya pendekatan ini memang melahirkan ketergantungan serta tidak memperhitungkan efek keberlanjutan. Keduanya juga tidak membutuhkan monitoring, evaluasi, dan feedback dari proses yang berjalan. Beda dari keduanya, standar kebutuhan charity berbasis pada ilusi penderma sedangkan philantrophy pada kebutuhan masyarakat. Pada charity, perusahaan membayangkan diri sebagai seorang penderma yang baik hati dan ingin mendapatkan balasan kebaikan pula. Yang didapatkan dari cara ini ada dua: bersifat temporer dan melahirkan mental pengemis pada kaum miskin. Sedangkan pada philanthropy, perusahaan sibuk memperhatikan standar kebutuhan masyarakat demi keamanan atau pencitraan usaha. Sehingga, tidak dapat lagi membedakan secara jelas mana yang menjadi kebutuhan dan mana pula yang sekadar keinginan (elite) masyarakat.

Tidak mengherankan memang, dengan pilihan dua pendekatan di atas, posisi tim CSR Chevron terjepit di tengah-tengah. Di belakangnya ada perusahaan besar yang produksinya perlu diamankan, sedangkan di depannya bertumpuk masyarakat tingkat desa, kecamatan, dan kabupaten yang terus meminta dengan wajah mengancam. Pun begitu, tak lantas ini tanpa ujung. Pergeseran paradigma pun penting dilakukan.

Pelatih PENALAHATI menawarkan gagasan corporate citizenship sebagai jalan ketiga setelah charity dan philanthropy tidak lagi pas dengan kondisi zaman. Pada corporate citizenship, standar kebutuhan didasarkan pada kepentingan perusahaan dan masyarakat. Perusahaan dan masyarakat perlu duduk bersama, membicarakan, dan merancang program-program yang dapat memenuhi kebutuhan kedua belah pihak. Misalnya saja, program lingkungan perlu dibuat karena masyarakat dan perusahaan sama-sama membutuhkan lingkungan ekologi yang baik untuk sumber air dan panas bumi.

Dalam gagasan itu, relasi terutama yang perlu dibangun antara perusahaan dan masyarakat. Perusahaan harus menyadari, bahwa keberadaan mereka di satu tempat dengan sendirinya menempatkan diri dalam sistem sosial yang ada. Setara dengan orang-orang lain yang datang ke tempat itu. Dan, bersama-sama warga yang lain ikut terlibat dalam proses-proses pembangunan daerah, serta mendukung inisiasi-inisiasi baru yang mampu membantu kehidupan warga di tempat yang paling dekat hingga ke yang paling jauh (dengan skala dukungan yang berbeda). Dasarnya adalah kebutuhan yang sama. Pemerintah (desa, camat, kabupaten) dengan sendirinya ditempatkan sebagai pihak yang “merestui” relasi yang dibangun, tanpa harus terlibat dalam “cawe-cawe” di lapangan.

Pendekatan corporate citizenship jelas mengandaikan program panjang berkelanjutan. Masa operasional perusahaan yang panjang jelas jadi alasan utama. Di sisi lain, juga bagaimana kontribusi perusahaan dapat bermanfaat untuk orang banyak dan menghasilkan gelombang efek multi lapisan. Untuk itu jelas dibutuhkan proses perencanaan, implementasi, monitoring, evaluasi, bahkan feedback dari berbagai pihak yang lain. Proses-proses ini yang akan membantu untuk melihat apakah program-program yang dilaksanakan sesuai dengan visi perusahaan dan masyarakat dalam pemenuhan standar kebutuhan bersama.

Satu hal yang juga menjadi ciri corporate citizenship, tidak mempertentangkan antara cost effectiveness dan cost consciousness. Begini, dalam cost effectiveness, perusahaan akan menimbang-nimbang biaya yang harus dikeluarkan dan efektifitas hasil yang diperoleh. Misalnya saja, Dalam strategi mengamankan operasional perusahaan, pendekatan pendampingan masyarakat, oleh sebagian perusahaan, barangkali dipahami lebih efektif dan berbiaya rendah ketimbang pendekatan keamanan. Sehingga, jika biayanya bisa ditekan akan lebih baik. Sedangkan dalam cost consciousness, kesadaran biaya ada pada pemahaman utuh tentang pentingnya program-program yang dilaksanakan. Sehingga, alokasi biaya yang ada dimanfaatkan sebaik mungkin, seperti energi yang berharga, untuk mendorong perubahan yang ada.

Pada corporate citizenship, perbedaan soal cara pandang melihat biaya ini dipadukan. Perusahaan akan menerapkan standar-strandar profesional manajemen keuangan pada masyarakat yang didampinginya, tapi pada saat yang sama juga membuka ruang fleksibilitas pemanfaatan dana pada gagasan-gagasan baru.

Untuk mengimplementasikan pendekatan corporate citizenship ini, ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab.
- Apa kebutuhan masyarakat?
- Bagaimana memenuhi kebutuhan itu?
- Apa prakondisi yang harus dipenuhi
- Bagaimana memenuhi prakondisi itu?
- Bagaimana program dioperasikan (mandiri dan langsung, melibatkan tokoh panutan, melibatkan lembaga ketiga)?

Menariknya, pertemuan tiga hari ini dipandang peserta sebagai proses penyegaran, pencerahan, dan pembingkaian ulang cara berpikir mereka selama ini. Mereka menyadari, bahwa ada banyak hal yang harus dikerjakan jika ingin menggunakan pendekatan corporate citizenship. Untuk ke masyarakat, para karyawan CGI harus mampu membangun relasi dan identitas baru untuk mengubah sterotype negatif yang telah terbangun selama ini. Sedangkan untuk ke tingkat internal, Tim CA harus mengabarkan perubahan ke lapisan-lapisan manajemen agar mau mendukung dan melakukan perubahan pendekatan dan paradigma secara bersama-sama. Tugas berat, namun diterima oleh anggota tim dengan senang hati. Menurut mereka, ini peluang terbaik untuk dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat, sekaligus menjaga keberlanjutan perusahaan. (diq)


Hello world!

December 17, 2007

Halo dunia!
Salam jumpa. PENALAHATI sudah hadir di ruangan pembelajaran jagad maya di tengah kerumitan sosial dan ketidakpastian ekologi seperti sekarang ini. Tak hendak berlebihan, weblog ini dibuat hanya ingin berbagi cerita. Tentang apa saja yang menaikkan antusiasme kita menapaki jalan perubahan. Barangkali saja, cerita-cerita itu menyalakan api di dada kita yang telah lama dibiarkan merana dan menerangi jalan-jalan alternatif yang selama ini tak terlihat.

Salam perubahan!