Geomedis KIBBLA: Peta Partisipatif Kesehatan

February 12, 2009

Mutasi, adalah momok di birokrasi pemerintahan daerah sekarang ini. Dengan mudah, seorang pejabat akan dipindahkan ke bidang lain yang sama sekali tidak dikuasainya. Akibatnya, ia perlu belajar lagi. Atau, pilihan lainnya, bertindak seenaknya sendiri dengan tidak memperhatikan protokol, kesepakatan, dan alur proses yang telah dibangun oleh pejabat sebelumnya. Tak heran, banyak program di pemerintahan yang mandek atau berbelok arah tidak jelas juntrungannya.

Mutasi juga jadi kendala dalam Perencanaan DTPS KIBBLA. Pergantian tim perencana dengan orang-orang yang sama sekali baru mengenal alur proses perencaan dan tidak menguasai data-data di lapangan, akan membuat proses menjadi lambat dengan hasil yang dangkal. Ini terjadi di beberapa tempat.

Read the rest of this entry »


Intermezo: Peran Lelaki dan KIBBLA di NTT

February 10, 2009

“Urusan KIBBLA tanggung jawab bersama.” Begitu aklamasi yang muncul setiap kali diselenggarakan Orientasi Multipihak DTPS KIBBLA. Di tingkat kesadaran, aklamasi seperti ini memang mengharukan. Akan tetapi, benarkah semuanya bertanggung jawab? Juga, kaum lelaki? Jawaban yang diberikan sangat sederhana, Suami Siaga, Suami Siap Antar Jaga. Itu sajakah?

Kasus-kasus kematian ibu dan bayi baru lahir di NTT sangat banyak yang disebabkan peran lelaki. Ya, lelaki! Dan, lelaki itu berperan sebagai suami, mertua, bahkan ketua adat, yang menentukan seorang ibu dibawa kemana pada saat waktunya melahirkan. Ini memang menggelikan, bagaimana nasib seorang ibu ditentukan oleh keputusan ketua adat yang sama sekali tidak akan menanggung konsekuensi dari keputusannya. Tak jarang, untuk mengambil keputusan harus memakan waktu lama sementara sang ibu mengalami pendarahan hebat. Tak sedikit pula yang salah dalam melihat gejala-gejala kesakitan seorang perempuan yang akan melahirkan dan menyerahkan penanganannya pada dukun. Tak heran, jika kasus-kasus kematian ibu dan bayi di NTT sangat tinggi.


Enough is Enough!

February 10, 2009

“Satu kali saya ke sebuah desa yang sedang merayakan peringatan Hari Proklamasi. Akses cukup bagus. Di sebuah rumah, hampir tenggelam dalam keramaian pesta 17-an, ada suara tangis bayi. Seorang ibu baru melahirkan dan ditolong dukun beranak. Padahal, jarak rumah dengan puskesmas hanya 15 meter. Ironis sekali.”

(Wempy Anggal,

Direktur radio BeSmart FM, Ruteng, Kabupaten Manggarai)

Itu diceritakan Wempy dalam Orientasi Multipihak DTPS KIBBLA di Kabupaten Manggarai, 21 Januari lalu. Lebih lanjut Wempy bertanya-tanya, “kenapa para suami itu tidak memanggil tenaga kesehatan? Benar, pengetahuan masyarakat bermasalah, tapi bukankah secara antropologis peristiwa macam itu mesti direspon bersama? Lalu apa yang hilang? Kemana solidaritas sosial kita?”

Banyak kebiasan sosial kita dan adat istiadat yang menghargai kelahiran hilang begitu saja. “Kebiasaan kita berkumpul dan selamatan ketika ada peristiwa kelahiran telah hilang. Kita sibuk dengan diri sendiri,”ujar Wempy lebih lanjut.

wempy

Read the rest of this entry »


KIBBLA TERPADU

February 10, 2009

Pendekatan perencanaan DTPS KIBBLA terus melakukan evolusi saat bertemu kenyataan-kenyataan lapang. Bahwa, perencanaan  KIBBLA yang akan diadvokasikan di Forum atau Renja SKPD dan Musrenbang kabupaten masuk diujung perencanaan pemerintahan daerah yang sebelumnya telah melewati tahapan musrenbang desa dan musrenbang kecamatan. Akibatnya, perencanan yang ditawarkan tidak nyambung dengan yang diaspirasikan di tingkat desa dan kecamatan. Ada analisis situasi dan analisis masalah (buntutnya ke solusi, kegiatan dan anggaran juga) dapat berbeda karena bersumber pada data dan fakta yang berbeda pula.

Banyak kabupaten/kota yang melaksanakan perencanaan DTPS KIBBLA beberapa waktu terakhir menemukan, data dan angka yang dijadikan bahan acuan tidak valid karena tidak mencerminkan kenyataan di lapangan. Ini terutama bersumber pada sistem informasi dan pencatatan  yang buruk di birokrasi. Peristiwa-peristiwa kematian di desa-desa yang terpencil tidak tercatat dan terlaporkan. Tak heran jika angka di lapangan jauh lebih tinggi ketimbang yang disebutkan pejabat-pejabat Dinas Kesehatan Kabupaten. Tim Perencana DTPS KIBBLA  merencanakan langkah-langkah menyelesaikan masalah KIBBLA dengan mendasarkan diri pada angka-angka semu itu? Well, sudah bisa dibayangkan hasilnya pasti tidak karuan.

Perencanaan di tingkat Kabupaten saja tidak cukup

Perencanaan di tingkat Kabupaten saja tidak cukup

Read the rest of this entry »


DTPS KIBBLA ‘Menyala’ di NTT

February 4, 2009

Urutan 3 besar, dari bawah. Begitu peringkat Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dibandingkan 33 provinsi yang ada di Indonesia, NTT berada di peringkat 30. Ini jelas bukan urutan yang nyaman dan menenangkan. Berbagai pendekatan telah dicoba, tapi AKI dan AKB tak juga beranjak turun.

Pasien menumpuk, dokter tak datang

Pasien menumpuk, dokter tak datang

Read the rest of this entry »


Terus Bergerak, Tetap Berkarya

November 19, 2008

Tumbuh dan berkembang, begitu realita mahluk hidup. Begitu pula pengetahuan fasilitasi yang hidup, akan terus tumbuh dan membuahkan aneka aplikasi yang menarik. Penalahati mengalami proses pemerkayaan layanan berkat penggalian-penggalian pengetahuan dan pengalaman fasililitasi yang tak henti. Beberapa di antaranya:

n25145074816_360607_8609

Read the rest of this entry »


Replikasi DTPS KIBBLA

November 19, 2008
Replikasi fasilitator DTPS-KIBBLA Provinsi Jawa Timur

Replikasi fasilitator DTPS-KIBBLA Provinsi Jawa Timur

Penalahati mendapat kepercayaan baru dari Health Services Program (HSP)/USAID untuk terlibat dalam program replikasi DTPS KIBBLA di 10 kabupaten baru di Provinsi Sumatera Utara, Jawa Barat, dan Jawa Timur, dari Oktober lalu hingga Februari mendatang. Peran Penalahati berkaitan dengan pelatihan fasilitator provinsi, pendampingan Tahap Orientasi Multipihak dan Tahap Perencanaan.

Kepercayaan juga diberikan oleh AUSAID  yang tengah mereplikasi program DTPS-KIBBLA untuk diimplementasikan di kawasan Nusa Tenggara Timur. Tahap penjajagan, Penahati akan melatih para fasilitator provinsi di Soe akhir November ini, menyiapkan  mereka untuk menjadi pelatih fasilitator DTPS-KIBBLA dan pemandu proses perencanaan yang sedianya akan mulai dilaksanakan tahun depan.

Dua kepercayaan ini sungguh penghargaan yang luar biasa. Semacam rekognisi bahwa apa yang kami lakukan di hari kemarin punya manfaat dan perlu diteruskan di hari depan. Pun begitu, kami tak ingin larut dalam eforia keberhasilan. Justru sebaliknya, terus melakukan refleksi diri, melihat dengan rendah hati, apa saja yang perlu diperbaiki. Masih banyak, ternyata!


Laskar ToF Lab.

November 19, 2008

fkm-blog

“Dari awal hingga akhir, bersemangat terus” Begitu barangkali sepenggal kalimat untuk mengambarkan suasana pelatihan facilitative teaching untuk para dosen FKM Undip. Kegiatan ini benar-benar memerlihatkan dukungan dekan dan jajaran pimpinan FKM akan inisiasi ToF Lab. Setelah para mahasiswa mencicipi pengalaman belajar fasilitasi, di Salatiga pada 15-16 November lalu giliran 14 dosen, yang nantinya akan menjadi penggerak ToF Lab. Menjadi penggerak dan pengawal cita-cita ToF Lab jelas membutuhkan penguatan dasar terkait fasilitasi. Juga, menjadi bekal untuk membangun kesadaran di kalangan mahasiswa dan staf pengajar akan kehadiran ToF Lab dan pentingnya fasilitasi untuk menyokong gagasan Student Center Learning yang tengah diimplementasikan di FKM Undip. Di akhir pertemuan, para dosen percaya, mereka bisa mengawal perubahan dan memastikan diri bekerja untuk pencapaian cita-cita ToF Lab, yakni perubahan sosial. Kumandang lagu Laskar Pelangi pun — digubah menjadi Laskar ToF Lab — seperti mars perang yang mengiringi keberangkatan para prajurit:

“… menarilah dan terus tertawa

walau dunia tak seindah surga

bersyukurlah pada yang kuasa

cinta kita di dunia, selamanya…”


“I WANT MORE!”

November 19, 2008

efek yang langsung bisa dirasakan ketika sudah sampe lagi di semarang
bis dari DTPS-KIBBLA di Kediri (back to the reality gitu
istilahnya>>kata mbak Wiwik) adalah
1. setiap kali denger lagu Laskar Pelangi , langsung kebayang setting
tempat, waktu dan orang yang terlibat dalam seluruh proses
itu…hebring dah pokoknya Laskar KIBBLA!
2. jadi tau apa2 aja yang harus dipersiapkan dalam satu proses
fasilitasi, bukan saja perencanaan session yang jelas dan runtut,
tapi juga kesiapan fisik dan yang paling penting adalah hati, biar
terus semangat, enjoy tapi tetep fokus n tanggap keadaan.
3. pengen bisa nerapin gaya teamwork ala penala! positif tanpa syarat
coz everybody is unique, talented and has something to say..
4. n kalo bisa dirangkum jadi tiga kata (kayak kesenengannye bang
dicky tuh)mmmm…I WANT MORE! alias Mau Lagi Doonk! hehehehehee…

jadi buat temen2 yang belom ikutan, pasti gak bakal nyesel kalo bisa
gabung ama project nya Penala ini..

saya juga sadar, kalo banyak kekurangan selama mengikuti proses ini,
n dah takut aja bakal dikasi kritik ato teguran selama disana…tp
ternyata gak..dan itu juga yang malah bikin saya jadi bisa ngeliat
sendiri and nyadar akan kekurangan saya ituh..satu pembelajaran yang
saya dapet lagi dari gaya pembelajaran orang dewasa, kita gak selalu
harus berkonsentrasi pada kesalahan….but what will we do next..

(Surat Aulia pada milis ToF Lab, 2 November 2008)

Penalahati bikin program magang. Ini kelanjutan dari komitmen untuk mengembangkan ToF Lab dengan memberikan kesempatan pada 10 alumnus pelatihan fasilitator magang pada kegiatan fasilitasi dan pelatihan Penalahati. Aulia yang menulis surat di atas, bersama Tika, adalah peserta magang bersama tim Penalahati di Pelatihan Fasilitator DTPS-KIBBLA di Kediri akhir Oktober lalu.



Lab. ToF Semakin Nyata

November 19, 2008

Oktober lalu, Penalahati Nusantara dan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro (Undip) mengucap “akad nikah”. Rumah tangga yang akan dibangun disepakati bernama Laboratorium Teknologi Fasilitasi (Lab ToF). Itu diterakan dalam MoU yang ditandatangani CEO Penalahati dan Dekan FKM Undip. Penandatangan pun dilanjutkan dengan Pelatihan Fasilitator Kesehatan yang diikuti oleh 46 mahasiswa semester 5 dan 7. Inilah pelatihan pertama sekaligus  generasi agen perubahan pertama yang dihasilkan ToF. Berselang dua minggu (15-16 November), giliran para penggerak Lab, dosen-dosen, mengikuti pelatihan menjadi pelatih fasilitator di Salatiga.

Menengok sedikit ke belakang, Lab ToF lahir dari sebuah percakapan hangat di Perdikan Penala, Situgede, Bogor, Februari 2008. Kala itu, ada “three musketeers” FKM: Sutopo Jati, Syamsulhuda, dan Budiono ditemani Dicky Lopulalan dan Doni Baruno dari Penala. Obrolan yang bermula dari keprihatinan atas kondisi kesehatan di negeri ini menjadi menarik ketika mereka mengkaitkannya dengan kerja-kerja sebagai fasilitator dan dosen. Juga, mengkaitkan dengan pendekatan Appreciative Inquiry (AI). Ini melahirkan semangat baru, dan ide Lab ToF pun tercetuskan.

Lab ToF dibayangkan sebagai knowledge center, dimana pengetahuan-pengetahuan fasilitasi diproduksi dan ditawarkan ke publik dalam bentuk pelatihan-pelatihan maupun penerbitan buku dan jurnal berkala, atau media lainnya. Ini semacam bank darah, untuk menggali, menyimpan, meneliti pengalaman dan pengetahuan fasilitasi, khususnya fasilitasi kesehatan masyarakat, dan mengembalikannya kepada publik setelah terkemas rapi. Ini seperti semacam sumber pengetahuan bagi para fasilitator.

Gagasan Lab ToF ini juga nyambung dengan gagasan Student  Center Learning (SCL) yang sedang diimplementasikan FKM. Bagaimana fasilitasi dapat membantu proses belajar mengajar berpusat pada mahasiswa. Pengetahuan dan keterampilan fasilitasi pun dipandang perlu dikuasai para dosen dan mahasiswa, sehingga pelatihan berkala, bahkan kurikulum khusus, perlu disiapkan.

Banyak memang yang harus disiapkan. Penandatanganan MoU kemarin itu, juga TOT untuk para penggerak Lab ToF, barulah langkah-langkah awal. Masih ada 1.000 mil lagi jalan yang harus ditempuh oleh para inisiator dan penggerak Lab ToF. Masih banyak pertanyaan yang menggayuti. Pun begitu, kami tak surut semangat. Tidak bisa tidak, langkah-langkah sudah diayunkan, tujuan pasti dijelang. (diq)